Iman dan pertobatan merupakan dua sisi pada mata uang yang sama. Artinya, keduanya tidak dapat dipisahkan. Kita tidak mungkin memiliki yang satu tanpa memiliki yang satunya lagi, sebagaimana dikatakan oleh John Murray, seorang teolog besar, “iman yang memimpin kepada keselamatan adalah iman yang menyesali [dosa-dosanya] dan pertobatan yang membawa kepada kehidupan adalah pertobatan yang mempercayai [Allah]”. Contoh tentang hal ini dapat dilihat dari kotbah Petrus di hari Pentakosta, “bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38).
Dari penjelasan dan contoh Alkitab di atas kita dapat mendefinisikan pertobatan sebagai suatu tindakan berbalik dari dan berbalik kepada. Kita berbalik dari dosa (1Raj 8:35), dari kejahatan (Neh 9:35; Ay 36:10), dari pemberontakan (Yes 59:20), dari kefasikan (Yeh 3:19), dari kegelapan (Kis 26:18), dari kesesatan (Yak 5:20); pada saat yang sama kita juga berbalik kepada Allah (Mzm 51:15; Yes 10:21; Yer 4:1; Hos 14:1; Am 4:8; Mal 3:7; Kis 15:19; 1Pet 2:25). Dua sisi ini disinggung dalam Kisah Rasul 26:20 “…mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah” dan 2Petrus 3:9b “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat”. Teks yang paling jelas mengajarkan hal ini mungkin adalah 1Tesalonika 1:9b “bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar” (dalam beberapa versi Inggris, Kis 3:19 cukup jelas menyiratkan dua sisi ini, misalnya NIV “repent, then, and turn to God” = “karena itu bertobatlah dan kemalilah kepada Allah”).
Anthony Hoekema membagi pertobatan menjadi tiga aspek yang tidak terpisahkan: (1) aspek intelektual: pengenalan terhadap kekudusan Allah dan keberdosaan diri sendiri (Yes 6:5); (2) aspek emosional: dukacita yang mendalam karena dosa yang dilakukan (2Kor 7:10); (3) aspek volisional: perubahan dalam tujuan hidup dan tindakan (Mat 10:37-39; Mat 16:24; Luk 14:33).
Penyelidikan Alkitab mandiri
- Apakah ada kemungkinan seseorang tampaknya bertobat, tetapi pertobatan itu sebenarnya tidak sejati (Kis 8:9-13, 18-23)? Jelaskan bukti-bukti bahwa tokoh dalam teks ini masih belum bertobat dengan sungguh-sungguh!
- Apakah pertobatan sejati dapat disamakan dengan sekedar perasaan bersalah atau penyesalan (Mat 27:3-5)? Jelaskan!
- Akibat-akibat apa yang akan terjadi apabila seseorang tidak memiliki pertobatan yang sungguh-sungguh (Mat 13:20-21; 1Yoh 2:19)?
- Bagaimana karakteristik utama dari pertobatan yang sejati itu (Yl 2:12-13)? Tindakan-tindakan nyata apa yang membuktikan kesungguhan suatu pertobatan (1Sam 7:3)?
- Apakah pertobatan awal dapat terjadi pada suatu waktu tertentu secara dramatis dan spontan (Kis 9:1-19; 16:13-14; 16:25-34)? Apakah pertobatan yang Saudara alami termasuk dalam kategori ini?
- Apakah pertobatan ini dapat terjadi secara bertahap sehingga orang yang bertobat sendiri kurang dapat mengingat waktu yang pasti dari pertobatannya (2Tim 1:5; 3:15; band. Kis 16:1)? Apakah pertobatan yang Saudara alami termasuk dalam kategori ini?
- Apakah pertobatan spontan lebih hebat daripada pertobatan secara bertahap? Jelaskan!
Penerapan konkrit
Ceritakan mengapa kita yakin bahwa pertobatan kita adalah pertobatan yang sejati. Jika pertobatannya kita agak meragukan, maka mulailah untuk mengakui semua dosa dan menyerahkan hidup secara total kepada Allah melalui karya Yesus Kristus.
Tugas selama seminggu
Kumpulkan satu hal dalam hidup Anda yang masih perlu ditinggalkan dan berbalik kepada Allah. Hal yang digumulkan ini hendaknya sangat spesifik sesuai dengan keadaan Anda, misalnya dalam hal pembayaran pajak (bagi pengusaha), kedisiplinan dalam bekerja (bagi karyawan), kejujuran dalam ujian (pelajar), dsb. Pada pertemuan selanjutnya kita akan menceritakan proses dan perubahan yang sudah terjadi.
Rangkuman
- Pertobatan tidak dapat dipisahkan dari iman.
- Pertobatan berarti “berbalik dari [dosa] dan berbalik kepada [Allah]”.
- Pertobatan yang sejati dimulai dari hati dan mencakup aspek intelektual, emosional dan volisional.
Ayat emas yang harus dihafalkan
2Petrus 3:9b “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat”.

