Pertanyaan tentang apa yang menjadi dasar gereja adalah salah satu pertanyaan paling penting dan mendasar dalam kehidupan kekristenan. Sebab, seperti sebuah rumah yang dibangun di atas fondasi yang kuat atau rapuh, demikian pula kualitas dan keteguhan sebuah gereja ditentukan oleh fondasinya. Dalam dunia yang penuh keragaman teologi dan pemahaman tentang gereja, kita perlu kembali kepada Alkitab untuk menjawab pertanyaan ini dengan jelas dan tepat.
Alkitab Memberikan Jawaban yang Tegas
Dalam Efesus 2:20, Rasul Paulus menjelaskan dengan sangat eksplisit mengenai fondasi gereja:
“…yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.”
Namun, ketika kita membaca ayat ini, kita harus berhati-hati dalam menafsirkannya. Sebab, yang dimaksud oleh Paulus bukanlah para rasul dan nabi sebagai individu, melainkan ajaran mereka. Inilah inti yang perlu kita tegaskan dan pahami dengan cermat: Dasar gereja adalah ajaran para rasul dan para nabi, bukan pribadi-pribadi itu sendiri.
Kesalahan Penafsiran: Menganggap Orang Sebagai Dasar
Sayangnya, sepanjang sejarah kekristenan, terdapat beberapa aliran atau tradisi yang menafsirkan ayat-ayat tertentu dengan keliru, sehingga sampai pada kesimpulan bahwa individu tertentu menjadi dasar gereja. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah penafsiran bahwa Simon Petrus adalah batu karang tempat Yesus membangun gereja-Nya, berdasarkan Matius 16:17-19.
Dalam perikop tersebut, setelah Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, Yesus menjawab:
“Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku…”
Banyak orang menganggap bahwa “batu karang” yang dimaksud adalah Petrus sendiri. Bahkan, lebih jauh lagi, muncul anggapan bahwa semua pemimpin gereja di kota Roma yang dianggap sebagai penerus Petrus juga memiliki posisi sebagai dasar gereja.
Namun, pendekatan semacam ini tidak hanya menyimpang dari pemahaman Alkitab, tetapi juga berisiko menempatkan manusia di tempat yang seharusnya hanya diduduki oleh Kristus dan firman-Nya.
Penafsiran yang Benar: Ajaran yang Menjadi Fondasi, Bukan Orang
Untuk memahami Matius 16 dengan benar, kita perlu membandingkannya dengan bagian lain dari Alkitab, khususnya Matius 18:18, di mana Yesus menggunakan kata-kata yang serupa kepada para rasul secara umum:
“Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga…”
Ini menunjukkan bahwa otoritas rohani yang diberikan oleh Yesus bukan hanya kepada Petrus, tetapi juga kepada semua rasul. Petrus berfungsi sebagai perwakilan murid-murid lainnya dalam pengakuan imannya, tetapi bukan dia pribadi yang menjadi dasar gereja, melainkan pengakuan imannya—bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.
Oleh sebab itu, kita memahami bahwa dasar gereja bukanlah orang, melainkan ajaran—khususnya ajaran para rasul dan nabi yang sekarang telah dibukukan dalam bentuk Kitab Suci, yaitu Alkitab.
Kristus Adalah Batu Penjuru Gereja
Jika kita ingin menyebut satu pribadi sebagai fondasi gereja, maka satu-satunya yang layak adalah Yesus Kristus. Paulus dalam 1 Korintus 3:11 menyatakan dengan tegas:
“Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”
Kristus adalah batu penjuru, dan ajaran para rasul serta nabi hanya memiliki otoritas karena berakar kepada Kristus. Tanpa Kristus, semua ajaran menjadi kosong. Maka, kita bisa katakan: Kristus adalah dasar utama (penjuru), dan ajaran para rasul serta nabi merupakan landasan yang dibangun di atas Kristus sebagai batu penjuru.
Perbedaan Antara Gereja Sejati dan Sekte
Penekanan bahwa ajaran adalah dasar gereja, bukan orang, juga penting untuk membedakan antara gereja yang sejati dan sekte atau aliran sesat. Dalam banyak sekte, pemimpin mereka dianggap sebagai sumber kebenaran mutlak. Apa pun yang mereka katakan dianggap benar dan tak bisa dipertanyakan. Para pengikutnya percaya tanpa menyelidiki atau menguji berdasarkan Alkitab.
Namun, gereja yang sejati tidak seperti itu. Gereja sejati berdiri di atas dasar firman Tuhan yang tertulis, bukan pemikiran atau perkataan satu orang. Gereja yang sehat akan mengajarkan, menafsirkan, dan menerapkan Alkitab secara bertanggung jawab, bukan menjadikan satu tokoh sebagai pusat kebenaran.
Inilah sebabnya mengapa dalam banyak gereja, mimbar diletakkan di pusat, dan seluruh liturgi berpusat pada pemberitaan firman Tuhan. Ini bukan sekadar bentuk atau tradisi, tetapi merupakan simbol bahwa firman Tuhan adalah fondasi utama gereja, bukan pemimpin, bukan program, bukan struktur organisasi.
Mimbar dan Pemberitaan Firman adalah Inti Ibadah
Dalam ibadah Kristen yang sejati, pemberitaan firman menjadi pusat perhatian. Mengapa? Karena kita percaya bahwa hanya melalui pewartaan firman, jemaat dapat dibangun, diteguhkan, dan bertumbuh dalam kebenaran.
Itulah sebabnya siapa pun yang melayani di mimbar haruslah seorang yang setia pada Alkitab, menafsirkan dengan benar, dan mengajarkannya dengan integritas. Gereja tidak akan kokoh jika fondasinya adalah khotbah motivasi, cerita-cerita pribadi, atau sekadar hiburan rohani. Gereja akan kuat jika diberi makan dengan kebenaran firman Allah.
Sebagaimana Yesus katakan dalam Matius 7:24-25, orang yang mendengar dan melakukan firman-Nya adalah seperti orang bijak yang membangun rumah di atas batu. Ketika angin, hujan, dan badai datang, rumah itu tidak rubuh karena berdiri di atas dasar yang kokoh.
Gereja yang Berdiri di Atas Firman Tidak Akan Goyah
Kita hidup di zaman yang penuh tantangan, baik dari dalam maupun dari luar gereja. Ajaran-ajaran palsu, kompromi moral, tekanan budaya, bahkan penganiayaan rohani semakin nyata. Di tengah semua itu, gereja yang dibangun di atas dasar firman Allah akan tetap berdiri.
Yesus sendiri berjanji dalam Matius 16:18:
“Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”
Perhatikan bahwa yang membangun gereja adalah Kristus, dan Ia membangunnya di atas pengakuan iman yang benar, bukan di atas pribadi manusia.
Kesimpulan: Mari Berdiri di Atas Fondasi yang Benar
Jadi, apa dasar gereja? Jawaban Alkitab sangat jelas:
- Kristus adalah batu penjuru.
- Ajaran para rasul dan nabi—yang kita miliki dalam Alkitab—adalah fondasinya.
- Bukan manusia, bukan tokoh gereja, bukan tradisi, dan bukan pengalaman pribadi.
Mari kita bersyukur untuk gereja-gereja yang masih berdiri teguh di atas kebenaran firman Tuhan. Mari kita terus berdoa agar gereja-gereja tidak digoyahkan oleh arus pengajaran palsu, tetapi tetap menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya sumber otoritas.
Sebagai bagian dari gereja, marilah kita mencintai firman, belajar dengan rendah hati, dan mendukung pengajaran yang sehat dan setia. Dengan demikian, kita ikut serta membangun gereja yang kokoh, yang berdiri di atas dasar yang benar, dan yang akan bertahan sampai kedatangan Kristus yang kedua kali.

