Kehormatan seorang ayah (fatherhood) di zaman modern semakin lama semakin pudar. Banyak ayah yang hanya berperan sebagai penyedia materi, sementara sebagian lainnya hanya memberi perlindungan dan bantuan jika diperlukan. Lebih parah lagi, sejumlah ayah tidak memainkan peran sama sekali dalam kehidupan keluarga mereka. Kehadiran mereka di rumah semakin jarang, komunikasi dengan anak-anak terbatas, dan mereka tidak menunjukkan keteladanan hidup yang baik. Fenomena ini menunjukkan pentingnya memulihkan kembali kebapaan dalam kehidupan keluarga, yang dimulai dengan memahami makna sejati dari tugas seorang ayah menurut perspektif Alkitab.
Kebapaan sebagai Bagian dari Kehidupan Rohani
Menurut Efesus 6:4, tugas kebapaan tidak dapat dipisahkan dari dimensi rohani. Dalam pembahasan surat Efesus, khususnya pada pasal 5 dan 6, Paulus menekankan bahwa hubungan dalam keluarga harus mencerminkan kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Ini bukan hanya terbatas pada kehidupan bersama dalam gereja atau hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di dalam rumah tangga. Efesus 5:18 mengingatkan kita untuk dipenuhi oleh Roh Kudus, dan bukti dari pengisian Roh ini tercermin dalam kehidupan keluarga, termasuk dalam peran seorang ayah yang mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Ef 6:4b).
Di bagian lain dalam Alkitab, Tuhan Yesus menegur orang-orang Farisi yang mementingkan korban kepada Allah namun mengabaikan tanggung jawab mereka kepada orang tua (Mat 15:3-6). Paulus juga menegaskan pentingnya perhatian terhadap keluarga dalam 1 Timotius 5:8, di mana ia menyatakan bahwa siapa pun yang tidak mempedulikan keluarganya lebih buruk daripada orang yang tidak beriman. Dalam konteks ini, kita melihat bahwa tugas kebapaan menurut Alkitab tidak dapat tercapai tanpa hubungan pribadi dengan Allah melalui karya Roh Kudus dalam hati ayah tersebut. Kebapaan yang sejati harus dimulai dengan pertobatan dan hubungan yang benar dengan Tuhan. Sebab, bagaimana mungkin seorang ayah yang tidak mengenal Allah sebagai Bapa dapat meneladani figur kebapaan Allah? Transformasi kehidupan anak-anak sering kali dimulai dengan transformasi hati sang ayah.
Ayah yang Terhormat: Langkah Menuju Kebapaan yang Baik
Menjadi ayah yang baik bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan. Proses ini membutuhkan waktu dan usaha yang tidak sedikit. Ada beberapa konsep penting yang perlu dipahami dan langkah-langkah konkret yang harus diambil. Dalam Efesus 6:4, Paulus memberikan arahan yang jelas bagi ayah dalam menjalankan peran mereka. Tugas utama seorang ayah dalam keluarga adalah membina spiritualitas anak-anak. Meskipun dalam ayat sebelumnya anak-anak diperintahkan untuk menaati orang tua (Ef 6:1), Paulus khusus menyebutkan peran ayah dalam mendidik anak-anak dalam ajaran Tuhan. Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab utama dalam mendidik anak-anak secara rohani terletak di tangan ayah.
Pemilihan kata “bapa-bapa” (hoi pateres) dalam ayat ini juga menarik untuk diperhatikan. Pada waktu itu, tanggung jawab utama dalam pembinaan spiritualitas anak-anak memang terletak pada para ayah. Meski ibu seringkali lebih terlibat secara praktis dalam pengasuhan anak, terutama karena mereka berada di rumah, namun ayah diharapkan menjadi figur spiritual yang memimpin keluarga. Dalam hal ini, seorang ayah tidak perlu menjadi seorang pendeta atau orator ulung. Yang lebih penting adalah memastikan adanya atmosfer rohani dalam rumah, memantau disiplin rohani anak-anak, serta memberikan teladan hidup yang baik dalam perkataan, tindakan, dan keputusan yang diambil.
Tidak Menyalahgunakan Otoritas Sebagai Ayah
Paulus juga mengingatkan para ayah untuk tidak menyalahgunakan otoritas mereka dalam keluarga. Dalam Efesus 6:4b, ia menyatakan, “jangan bangkitkan amarah dalam hati anak-anakmu.” Larangan ini menunjukkan bahwa dalam menjalankan tugas kebapaan, ayah tidak boleh bersikap otoriter atau menyalahgunakan kekuasaan mereka. Pada zaman Paulus, hukum Roma (patria potestas) memberi kekuasaan mutlak kepada seorang ayah atas keluarga, bahkan hingga hak untuk menghukum atau menjual anggota keluarga sebagai budak. Dalam konteks inilah, penyalahgunaan kekuasaan bisa terjadi dengan mudah, yang pada akhirnya akan membangkitkan amarah dalam hati anak-anak.
Namun, Paulus tidak bermaksud melarang disiplin atau tindakan korektif yang diperlukan dalam proses mendidik anak. Ada kalanya anak-anak perlu ditegur atau diberikan hukuman demi kebaikan mereka, tetapi itu harus dilakukan dengan bijaksana dan penuh kasih. Disiplin yang tidak benar, yang hanya memprovokasi atau menyebabkan sakit hati pada anak, harus dihindari. Salah satu contoh umum dari penyalahgunaan kekuasaan oleh seorang ayah adalah perlakuan yang keras dan tidak adil terhadap anak-anak mereka, yang hanya menumbuhkan kebencian dan kekecewaan di dalam hati mereka.
Mendidik dengan Kasih dan Berfokus pada Kristus
Langkah selanjutnya yang harus dilakukan seorang ayah adalah mendidik anak-anak mereka dengan penuh kasih, secara seimbang, dan berfokus pada Kristus. Paulus dalam Efesus 6:4c menegaskan bahwa tugas mendidik anak-anak harus dilakukan “dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Ini mengingatkan kita bahwa kasih adalah elemen utama dalam mendidik anak-anak. Namun, kasih bukanlah alasan untuk memanjakan atau mengabaikan disiplin. Mengasihi anak bukan berarti selalu menyenangkan mereka, melainkan mendidik mereka dengan cara yang mengarah pada pembentukan karakter yang sesuai dengan kehendak Allah.
Konsep ajaran dan nasihat Tuhan dalam konteks ini mencakup disiplin yang terarah dan pengajaran yang membawa anak-anak pada pengenalan yang lebih dalam akan Tuhan dan kebenaran-Nya. Disiplin yang sehat dan bijaksana adalah disiplin yang mengarahkan anak-anak untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Dalam hal ini, disiplin dan ajaran tidak dapat dipisahkan dari Kristus. Sebagai orang tua Kristen, ayah bukan hanya mengajarkan moralitas, tetapi membimbing anak-anak mereka untuk hidup dalam kebenaran Injil yang diberikan oleh Yesus Kristus. Itulah yang membedakan kebapaan Kristen dari model kebapaan lainnya.
Kesimpulan: Kebapaan yang Meneladani Kristus
Kebapaan dalam perspektif Alkitab adalah panggilan mulia yang mencakup tanggung jawab besar. Seorang ayah harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya dalam segala aspek kehidupan, baik itu dalam hal spiritualitas, kedisiplinan, maupun kasih sayang. Tugas seorang ayah dimulai dengan pengenalan pribadi terhadap Allah sebagai Bapa, dan itu harus tercermin dalam cara mereka mendidik anak-anak. Dalam Efesus 6:4, kita belajar bahwa seorang ayah tidak hanya sekadar memberikan materi atau perlindungan fisik, tetapi juga harus berperan sebagai pemimpin rohani yang membimbing anak-anak mereka untuk mengenal Tuhan dengan lebih dalam. Sebagai ayah Kristen, kita diingatkan bahwa kebapaan kita tidak hanya berkaitan dengan pengajaran moralitas, tetapi juga dengan pembimbingan kepada kebenaran Injil yang membawa hidup baru bagi setiap anak. Oleh karena itu, marilah kita menjalankan peran kebapaan dengan penuh kehormatan, kasih, dan komitmen yang tidak terpisahkan dari Kristus.

