Apakah Wujud Pelanggaran Terhadap Perintah Kesepuluh?

Perintah terakhir dari Dasa Titah berbunyi: “Jangan mengingini harta milik orang lain” (Keluaran 20:17). Pada pandangan pertama, perintah ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh akar persoalan yang sangat dalam di hati manusia. Pelanggaran terhadap perintah kesepuluh tidak selalu terlihat dari tindakan lahiriah, tetapi sering kali berawal dari keinginan dalam batin. Hati yang tidak puas, iri, atau serakah bisa menyeret seseorang pada banyak dosa lain. Itulah sebabnya larangan ini bukan sekadar menahan diri dari tindakan mengambil milik orang lain, tetapi melatih hati untuk puas dan bersyukur dengan apa yang telah Tuhan percayakan.

Pertama, pelanggaran terjadi ketika seseorang tidak puas dengan apa yang ia miliki. Alkitab memberikan contoh nyata melalui kisah Raja Daud. Dalam 2 Samuel 11–12, Daud jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba. Nabi Natan menegurnya dengan menyingkapkan akar masalahnya: Daud tidak puas dengan berkat Tuhan, meski sudah diberi begitu banyak. Bahkan Natan berkata bahwa jika semua yang Daud miliki masih terasa kurang, Tuhan sanggup menambahkan lagi. Namun, Daud memilih mengambil apa yang bukan miliknya. Dari sini kita belajar bahwa ketidakpuasan adalah pintu masuk menuju pelanggaran perintah kesepuluh. Tidak puas dengan bagian yang Tuhan beri sama saja dengan menolak berkat-Nya dan menganggap bahwa Allah tidak cukup baik.

Kedua, pelanggaran juga tampak dalam sikap bersungut-sungut. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar tidak meniru bangsa Israel di padang gurun (1 Korintus 10:10). Bangsa itu berulang kali bersungut-sungut: ketika tidak ada makanan, ketika air terasa kurang, bahkan ketika perjalanan menjadi sulit. Mereka tidak puas dengan cara Tuhan memimpin dan memberkati mereka. Bersungut-sungut adalah tanda hati yang tidak percaya bahwa Allah tahu apa yang terbaik. Dengan mengeluh, seseorang pada dasarnya sedang mengatakan bahwa berkat Tuhan tidak cukup. Inilah bentuk nyata dari pelanggaran terhadap perintah kesepuluh.

Ketiga, pelanggaran yang lain adalah keserakahan. Paulus dengan tegas menyamakan orang yang serakah dengan penyembah berhala (Efesus 5:5). Mengapa demikian? Karena orang yang serakah lebih mencintai berkat-berkat Tuhan daripada Tuhan itu sendiri. Mereka menjadikan harta, status, dan kepuasan dunia sebagai pusat hidupnya, menggantikan Allah. Orang serakah tidak pernah merasa cukup. Selalu ada standar baru yang harus dicapai, tekanan sosial yang harus dipenuhi, atau gaya hidup yang ingin ditampilkan. Semua itu menjerat hati sehingga tidak lagi puas dengan Allah. Keserakahan menutup mata terhadap kebaikan Tuhan dan membuat manusia haus akan hal-hal yang fana.

Keempat, pelanggaran terhadap perintah kesepuluh juga muncul dalam bentuk iri hati. Yakobus menyinggung persoalan ini dengan tajam: “Tetapi jika kamu menaruh perasaan iri hati yang pahit dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran” (Yakobus 3:14). Iri hati membuat seseorang tidak hanya ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain, tetapi juga ingin melebihi mereka. Bahkan, ada orang yang berdoa hanya untuk memuaskan hawa nafsu dan menunjukkan diri lebih unggul dibanding sesamanya (Yakobus 4:1–3). Padahal, doa semacam itu tidak akan pernah dijawab Tuhan karena didasari motivasi yang keliru. Iri hati adalah sikap menuntut apa yang bukan hak kita, dan itu jelas merupakan pelanggaran perintah ini.

Kelima, pelanggaran lain yang sering terjadi adalah ketika seseorang berdukacita atas kebaikan yang diterima orang lain. Mazmur 73 mencatat pergumulan Asaf. Ia berusaha hidup benar, menjaga hatinya, dan setia kepada Tuhan. Namun, ia mulai iri ketika melihat orang-orang fasik tampak lebih sehat, lebih makmur, dan lebih berhasil daripada dirinya. Asaf berkata dengan jujur: “Aku cemburu kepada orang-orang yang sombong, ketika kulihat kemujuran orang-orang fasik” (Mazmur 73:3). Bahkan seorang penyair rohani yang mengasihi Tuhan pun bisa tergoda untuk iri dan berdukacita melihat berkat yang diterima orang lain. Hal serupa dialami Nehemia yang sempat merasa cemburu terhadap bangsa-bangsa sekitar yang tampaknya lebih makmur. Ini menunjukkan betapa mudahnya hati manusia jatuh ke dalam pelanggaran perintah kesepuluh: bukan hanya iri, tetapi juga merasa sedih ketika orang lain menerima kebaikan Tuhan.

Dari kelima bentuk pelanggaran ini, jelaslah bahwa perintah kesepuluh menyoroti persoalan hati. Seseorang bisa saja tidak pernah mencuri, tidak pernah berzinah, atau tidak pernah membunuh, tetapi dalam hatinya ia bisa terikat pada iri hati, keserakahan, dan ketidakpuasan. Semua itu sama seriusnya di hadapan Allah. Sebab, dari hati yang tidak puas akan lahir dosa-dosa lain. Daud jatuh karena tidak puas. Bangsa Israel memberontak karena bersungut-sungut. Banyak orang hidup serakah karena tidak pernah cukup. Semua berawal dari hati yang tidak puas dengan Tuhan.

Karena itu, perintah kesepuluh adalah ajakan untuk memeriksa hati kita. Apakah kita sudah benar-benar puas dengan Tuhan? Apakah kita mampu melihat berkat orang lain tanpa merasa iri? Apakah kita bisa bersukacita dengan yang bersukacita, dan berdukacita dengan yang berdukacita, tanpa perasaan ingin lebih atau merasa lebih baik? Ketaatan kepada perintah ini menuntut kita untuk menjaga hati agar tetap bersyukur dan puas dengan bagian yang Tuhan beri.

Akhirnya, mari kita jujur pada diri sendiri. Betapa seringnya kita jatuh dalam pelanggaran perintah kesepuluh. Kita mengeluh ketika merasa kurang, kita serakah mengejar lebih banyak, kita iri ketika orang lain berhasil, bahkan kadang hati kita diam-diam bersukacita ketika orang lain gagal. Semua itu menunjukkan betapa rapuhnya hati manusia. Namun, kabar baiknya adalah Kristus telah datang untuk membarui hati kita. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita bisa belajar berkata cukup, bersyukur atas bagian kita, dan bersukacita atas berkat yang Tuhan berikan kepada orang lain.

Perintah kesepuluh ini meneguhkan kita untuk hidup puas di dalam Tuhan. Jika kita benar-benar percaya bahwa Allah sudah memberikan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan kita, maka kita tidak lagi dikuasai oleh iri hati dan keserakahan. Sebaliknya, kita akan hidup dengan hati yang bersyukur, penuh sukacita, dan memuliakan Allah dalam segala hal.