Apakah Manfaat Pengakuan Iman

Pengakuan Iman Rasuli yang sering kita ucapkan dalam ibadah Minggu bukanlah sekadar rangkaian kata yang dihafalkan, melainkan sebuah pernyataan iman yang memiliki makna mendalam. Namun, tidak semua jemaat menyadari betapa besar manfaatnya. Ada yang mengucapkannya dengan berdiri tegap, seolah menyatakan sumpah setia. Ada pula yang menutup mata, mengucapkannya dengan khidmat seperti doa pribadi. Perbedaan ekspresi ini menunjukkan bahwa pemahaman jemaat tentang pengakuan iman bisa sangat beragam. Karena itu, penting bagi kita untuk menelusuri apa sebenarnya manfaat dari pengakuan iman ini, khususnya Pengakuan Iman Rasuli, dan mengapa gereja memandangnya penting untuk diucapkan bersama.

Pertama, pengakuan iman memiliki manfaat besar dalam pengajaran. Jemaat perlu memahami inti dari kekristenan, bukan hanya secara umum, tetapi secara jelas dan terstruktur. Pengakuan iman berfungsi sebagai ringkasan pokok-pokok ajaran yang paling mendasar—tentang Allah Tritunggal, karya keselamatan Yesus Kristus, dan peranan Roh Kudus dalam kehidupan gereja. Ia tidak dimaksudkan untuk menggantikan studi Alkitab atau pembelajaran doktrin yang lebih mendalam, melainkan untuk memberikan gambaran besar yang mudah diingat dan dihafalkan. Dalam dunia pendidikan, kita mengenal pentingnya ringkasan atau peta konsep untuk membantu memahami materi yang luas. Demikian pula, pengakuan iman adalah “peta iman” yang memandu jemaat agar tidak kehilangan arah di tengah luasnya ajaran Alkitab. Dengan menghafalnya, jemaat—terutama yang baru bertumbuh—dapat memiliki pegangan yang jelas tentang apa yang mereka percayai.

Kedua, pengakuan iman berfungsi sebagai benteng terhadap ajaran sesat. Sejak abad-abad awal, gereja menghadapi berbagai tantangan berupa ajaran yang menyimpang dari kebenaran Injil. Setiap zaman memiliki bentuk penyimpangan yang berbeda, mulai dari penyangkalan terhadap keilahian Kristus, penolakan kebangkitan, hingga ajaran yang memutarbalikkan kasih karunia menjadi kebebasan berbuat dosa. Para pemimpin gereja pada masa itu menyadari bahwa jemaat memerlukan standar kebenaran yang jelas dan dapat dipegang bersama. Karena itu, mereka merumuskan pengakuan iman seperti Pengakuan Iman Nicea, Konstantinopel, dan Rasuli. Rumusan ini menjadi pernyataan iman publik yang membedakan ajaran benar dari ajaran sesat.

Pada abad pertama, banyak orang Kristen tidak memiliki akses untuk membaca Alkitab. Sebagian besar buta huruf, dan situasi penganiayaan membuat kepemilikan naskah Kitab Suci menjadi sulit. Satu-satunya sumber pengajaran mereka adalah apa yang mereka dengar dalam ibadah. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika jemaat bertanya: Apa sebenarnya ajaran Kristen? Apa yang membedakan kita dari ajaran-ajaran lain di sekitar kita? Pengakuan iman menjawab pertanyaan ini dengan singkat, jelas, dan tegas. Dengan mengucapkannya bersama-sama, jemaat tidak hanya mengingat kebenaran, tetapi juga menegaskan identitas mereka sebagai pengikut Kristus. Ia menjadi benteng rohani yang melindungi jemaat dari kebingungan dan penyesatan.

Ketiga, pengakuan iman menjadi dasar kesatuan gereja. Rasul Paulus dalam Efesus 4:13 menegaskan bahwa kesatuan gereja bukanlah kesatuan yang dangkal, melainkan “kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah.” Kesatuan ini dibangun di atas kebenaran, bukan sekadar kebersamaan tanpa arah. Pada abad-abad awal, kekristenan menyebar ke berbagai wilayah dengan latar belakang budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Bahkan di antara gereja-gereja yang setia pada Injil, terdapat variasi dalam tata ibadah, penekanan pengajaran, dan kebiasaan lokal. Dalam keragaman ini, jemaat memerlukan tolok ukur bersama untuk menentukan mana ajaran yang pokok dan mana yang bersifat sekunder.

Pengakuan iman menyediakan fondasi bersama itu. Ia menjadi titik temu yang menyatukan gereja-gereja di berbagai tempat. Hal-hal pokok yang dirumuskan di dalamnya menjadi dasar kesatuan, sementara perbedaan dalam hal-hal non-esensial dapat diterima dengan kasih. Prinsip ini sejalan dengan ungkapan yang sering dikutip: “Dalam hal-hal pokok, kesatuan; dalam hal-hal yang tidak pokok, kebebasan; dalam segala hal, kasih.” Sayangnya, di zaman modern, ada pandangan yang mengutamakan kebersamaan di atas kebenaran, menerima semua kelompok yang menamakan diri Kristen tanpa memeriksa ajarannya. Padahal, Efesus 4:13 menegaskan bahwa kesatuan sejati adalah kesatuan dalam iman yang benar. Pengakuan iman membantu gereja menjaga keseimbangan antara kasih dan kebenaran—menerima perbedaan yang sehat, tetapi tetap tegas terhadap penyimpangan yang merusak inti iman.

Pada akhirnya, pengakuan iman tetap relevan hingga hari ini. Di tengah derasnya arus informasi dan beragamnya ajaran yang beredar, jemaat membutuhkan kompas rohani yang menuntun mereka tetap berada di jalur yang benar. Pengakuan iman mengingatkan kita akan inti Injil, meneguhkan identitas kita sebagai umat Allah, dan mempersatukan kita dengan saudara-saudara seiman di seluruh dunia. Mengucapkannya bukan sekadar rutinitas liturgi, tetapi pernyataan iman yang hidup—yang harus kita pahami, hayati, dan wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, manfaat pengakuan iman dapat dirangkum: pertama, sebagai sarana pengajaran yang merangkum inti ajaran Kristen; kedua, sebagai benteng terhadap ajaran sesat; dan ketiga, sebagai dasar kesatuan gereja. Jika kita menghidupinya, kita tidak hanya menjaga warisan iman yang telah diteruskan dari generasi ke generasi, tetapi juga memperkuat gereja untuk tetap berdiri teguh di tengah tantangan zaman, sambil memancarkan kasih Kristus kepada dunia.