Apakah Disebut Pengakuan Iman Rasuli atau Para Rasul

Di banyak gereja, kita mengenal dan mengucapkan sebuah pernyataan iman yang sangat terkenal: Pengakuan Iman Rasuli. Namun, tidak semua gereja menggunakan istilah yang sama. Ada yang menyebutnya “Pengakuan Iman Para Rasul”, ada pula yang tetap memakai istilah “Pengakuan Iman Rasuli”. Perbedaan ini sekilas tampak sederhana, tetapi sebenarnya memiliki makna yang cukup penting jika kita menelusurinya lebih dalam.

Secara tata bahasa, “Pengakuan Iman Para Rasul” (The Apostles’ Creed) mengandung arti bahwa pengakuan ini milik atau bersumber langsung dari para rasul. Sedangkan “Pengakuan Iman Rasuli” (The Apostolic Creed) berarti pengakuan ini bersifat rasuli, yaitu sejalan dengan ajaran para rasul, meskipun tidak secara langsung ditulis oleh mereka. Perbedaan istilah ini erat kaitannya dengan tradisi dan sejarah yang berkembang di balik pengakuan iman tersebut.

Ada sebuah tradisi populer yang meyakini bahwa Pengakuan Iman Rasuli dirumuskan sendiri oleh kedua belas rasul. Konon, sebelum mereka pergi memberitakan Injil ke seluruh dunia—sebagaimana amanat Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:8—masing-masing rasul menyumbangkan satu kalimat. Karena ada 12 rasul, maka diyakini pengakuan iman ini terdiri dari 12 poin. Jika tradisi ini benar, maka istilah yang tepat seharusnya adalah “Pengakuan Iman Para Rasul”. Namun, penelitian sejarah menunjukkan bahwa tradisi ini kemungkinan besar hanyalah legenda yang dibesar-besarkan oleh sebagian kalangan. Ada setidaknya tiga alasan kuat yang membuat para ahli meragukan bahwa rumusan ini benar-benar ditulis langsung oleh para rasul.

Pertama, catatan sejarah gereja menunjukkan bahwa Bapa-Bapa Gereja di wilayah Timur pada masa awal kekristenan tidak mengenal pengakuan iman ini. Jika memang para rasul yang menulisnya sebelum mereka berpencar memberitakan Injil, seharusnya semua gereja—baik di Barat maupun di Timur—mengenalnya sejak awal. Faktanya, gereja-gereja di Timur baru mengetahui pengakuan ini beberapa abad kemudian. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa pengakuan iman tersebut tidak berasal langsung dari pena para rasul.

Kedua, dari catatan sejarah gereja di wilayah Barat, meskipun Pengakuan Iman Rasuli akhirnya diterima di sana, para pemimpin gereja Barat pada masa awal tidak pernah mengutipnya secara langsung. Mereka memang mengajarkan doktrin-doktrin penting iman Kristen, tetapi tidak ada bukti tertulis bahwa mereka menggunakan atau merujuk pada Pengakuan Iman Rasuli. Bahkan, tulisan-tulisan Bapa-Bapa Gereja di Barat menunjukkan bahwa mereka berusaha merumuskan pengakuan iman mereka sendiri. Jika para rasul sudah membuat pengakuan iman yang berlaku umum, mengapa para pemimpin gereja Barat merasa perlu membuat rumusan baru? Mengapa mereka tidak langsung mengadopsi warisan yang konon berasal dari para rasul? Pertanyaan ini semakin memperkuat keraguan terhadap klaim tradisi tersebut.

Ketiga, bukti tertulis tertua dari Pengakuan Iman Rasuli baru ditemukan pada pertengahan abad keempat. Jika memang pengakuan ini berasal dari para rasul, kita tentu berharap menemukan naskahnya pada abad kedua atau paling lambat abad ketiga. Namun kenyataannya, dokumen yang kita miliki muncul jauh lebih belakangan. Lebih dari itu, ketika ditemukan, ternyata ada beberapa versi rumusan yang berbeda. Misalnya, frasa “turun ke dalam kerajaan maut” yang kita kenal sekarang ternyata tidak terdapat dalam dokumen awal. Beberapa gereja menuliskannya dengan tanda kurung, sementara yang lain tidak. Perbedaan ini menunjukkan bahwa rumusan Pengakuan Iman Rasuli mengalami perkembangan dan penyesuaian dari waktu ke waktu.

Perbedaan-perbedaan tersebut tidak berarti pengakuan iman ini tidak sah atau tidak layak diucapkan. Justru sebaliknya, meskipun kemungkinan besar tidak ditulis langsung oleh para rasul, isi dan ajarannya sepenuhnya selaras dengan pengajaran para rasul yang tercatat dalam Perjanjian Baru. Karena itu, kita dapat menyebutnya sebagai The Apostolic Creed—pengakuan iman yang bersifat rasuli, yang dijiwai oleh ajaran para rasul, dan yang tetap menjadi ajaran sehat bagi seluruh gereja.

Inilah alasan mengapa gereja-gereja di seluruh dunia tetap mengikrarkan Pengakuan Iman Rasuli dalam ibadah mereka. Nilai dan kebenaran yang terkandung di dalamnya tidak bergantung pada siapa yang menulisnya, tetapi pada kesesuaiannya dengan Firman Tuhan. Ia menjadi sarana untuk mengingatkan jemaat akan inti iman Kristen, memperkuat pengajaran yang benar, dan mempersatukan gereja di atas dasar yang kokoh.

Dengan demikian, perdebatan istilah antara “Pengakuan Iman Para Rasul” dan “Pengakuan Iman Rasuli” seharusnya tidak memecah belah, melainkan mendorong kita untuk semakin menghargai warisan iman ini. Yang terpenting bukanlah labelnya, tetapi kebenaran Injil yang diakuinya. Sebab, seperti yang diajarkan para rasul, iman yang sejati selalu berakar pada Yesus Kristus, satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, yang menjadi pusat dari setiap pengakuan iman yang benar.