“Aku percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita.” Kalimat ini singkat, tetapi mengandung kedalaman teologis yang luar biasa. Untuk memahaminya, kita dapat membaginya menjadi tiga bagian utama yang saling berkaitan.
Pertama, “Aku percaya kepada Yesus Kristus” menegaskan bahwa kita menaruh iman kepada Pribadi yang adalah Utusan Allah yang diurapi untuk menyelamatkan manusia berdosa.
Nama “Yesus” pertama kali disebutkan dalam Matius 1:21, ketika malaikat Tuhan menyampaikan kepada Yusuf: “Engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Nama ini berasal dari bahasa Ibrani Yehoshua atau Yosua, yang berarti “YHWH menyelamatkan”. Dengan demikian, nama “Yesus” sendiri sudah mengandung makna keselamatan dan penyelamatan.
Sementara itu, “Kristus” berasal dari kata Yunani Christos, terjemahan dari kata Ibrani Mashiach atau “Mesias”, yang berarti “yang diurapi”. Dalam Perjanjian Lama, pengurapan adalah tanda penetapan Allah atas seseorang untuk menjalankan tugas khusus, seperti raja atau imam. Maka, ketika kita mengaku percaya kepada Yesus Kristus, kita sedang menyatakan bahwa Yesus adalah Sang Penyelamat sekaligus Mesias yang diutus dan diurapi oleh Allah untuk melaksanakan misi penebusan.
Penggabungan kedua nama ini—Yesus dan Kristus—menegaskan iman kita bahwa Ia adalah Allah yang menjadi manusia, yang diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Ia bukan sekadar guru moral atau tokoh sejarah, tetapi Juruselamat yang hidup.
Kedua, “Anak-Nya yang tunggal” menunjukkan hubungan yang unik antara Yesus Kristus dan Allah Bapa.
Alkitab memang menyebut Allah sebagai Bapa dalam berbagai konteks. Ia adalah Bapa seluruh ciptaan (Yakobus 1:17), sumber dari segala sesuatu. Ia juga adalah Bapa bagi orang percaya, yang mengasihi dan memelihara mereka. Namun, ketika berbicara tentang Yesus, istilah “Anak” memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Kita menjadi anak-anak Allah melalui adopsi rohani, tetapi Yesus adalah Anak Allah dalam hakikat-Nya. Ia memiliki hubungan yang kekal dan unik dengan Bapa—bukan hasil penciptaan, bukan pula hubungan biologis. Allah adalah Roh, sehingga mustahil membayangkan relasi ini dalam kategori jasmani.
Kata “tunggal” dalam bahasa Yunani adalah monogenes, yang lebih tepat diartikan sebagai “unik” atau “satu-satunya yang istimewa”. Kata ini juga digunakan dalam Ibrani 11:17 untuk Ishak, yang disebut “anak tunggal” Abraham, meskipun Abraham memiliki anak-anak lain. Ishak disebut demikian karena ia adalah anak perjanjian, anak yang lahir sesuai janji Allah.
Demikian pula, Yesus adalah Monogenes—Anak yang unik, satu-satunya dalam jenis-Nya, yang memiliki hubungan istimewa dengan Bapa. Ia adalah Anak yang kekal, yang bersama Bapa sejak sebelum segala abad, dan yang menyatakan kasih Bapa kepada dunia.
Ketiga, “Tuhan kita” menegaskan otoritas mutlak Yesus Kristus atas hidup kita.
Kata “Tuhan” di sini bukan sekadar “tuan” dalam arti pemilik atau atasan. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah Kurios, yang dalam konteks Perjanjian Baru sering kali menjadi gelar ilahi. 1 Korintus 8:6 menyatakan: “Bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa… dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Gelar ini tidak mungkin diterjemahkan sekadar sebagai “tuan”, karena Yesus bukan hanya pemimpin manusia, tetapi Tuhan atas seluruh ciptaan.
Filipi 2:9-11 menegaskan bahwa Allah telah meninggikan Yesus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, sehingga setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah Bapa. Pengakuan ini bersifat mutlak—Yesus adalah Tuhan atas alam semesta, dan secara pribadi, Ia adalah Tuhan kita.
Mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti mengakui hak-Nya untuk memerintah hidup kita. Ini bukan hanya soal percaya bahwa Ia berkuasa, tetapi juga soal tunduk dan taat kepada-Nya. Banyak orang mudah mengakui Yesus sebagai Tuhan atas dunia, tetapi tantangan sejati adalah mengakui Dia sebagai Tuhan atas hati, pikiran, dan tindakan kita sehari-hari.
Kesimpulan
Ketika kita mengucapkan “Aku percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita”, kita sedang menyatakan tiga hal besar:
- Kita percaya kepada Yesus Kristus sebagai Penyelamat dan Mesias yang diutus Allah.
- Kita mengakui hubungan unik dan kekal antara Yesus dan Bapa sebagai Anak yang satu-satunya dalam jenis-Nya.
- Kita menundukkan diri di bawah otoritas-Nya sebagai Tuhan yang berkuasa atas hidup kita.
Pengakuan ini bukan sekadar kata-kata liturgi, tetapi deklarasi iman yang menuntut pengenalan, penghormatan, dan ketaatan. Semakin kita memahami maknanya, semakin dalam pula kita dapat menghidupi iman kita dengan setia kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang hidup.

