Dalam Pengakuan Iman Rasuli, kita mengucapkan sebuah frasa yang singkat namun sarat makna: “Dikandung dari Roh Kudus.” Meski sering diucapkan, frasa ini tidak jarang menimbulkan pertanyaan, bahkan kesalahpahaman. Beberapa gereja menuliskannya sebagai “dikandung daripada Roh Kudus”, namun secara tata bahasa, bentuk yang lebih tepat adalah “dikandung dari Roh Kudus”.
Namun, persoalan yang lebih penting bukan sekadar soal tata bahasa, melainkan apa arti sebenarnya dari frasa ini. Bagaimana kita memahaminya dengan benar sesuai ajaran iman Kristen?
Pertama-tama, kita perlu menegaskan bahwa “dikandung dari Roh Kudus” tidak berarti terjadi hubungan biologis atau seksual antara Allah dan Maria. Kekristenan sama sekali tidak mengajarkan konsep seperti itu. Pemahaman keliru ini justru berasal dari pengaruh agama-agama misteri di dunia Yunani-Romawi kuno, yang kerap menggambarkan dewa-dewi memiliki hubungan jasmani dengan manusia.
Dalam iman Kristen, Maria tidak pernah dianggap sebagai Allah, dan Yesus Kristus bukanlah hasil hubungan jasmani antara Allah dan manusia. Sebaliknya, frasa ini menunjuk pada peristiwa supranatural—sebuah mujizat di mana Allah, melalui karya Roh Kudus, membuat Maria mengandung tanpa campur tangan laki-laki. Inilah karya ilahi yang melampaui hukum alam, yang menjadi awal dari inkarnasi Sang Anak Allah.
Pertama, frasa ini menegaskan kesucian Kristus.
Dalam Lukas 1:35, ketika Maria bertanya bagaimana mungkin ia dapat mengandung padahal masih perawan, malaikat menjawab: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”
Perhatikan bahwa kekudusan Yesus tidak bergantung pada kesucian pribadi Maria, melainkan pada intervensi Roh Kudus. Maria memang dipilih secara khusus dan memiliki peran penting sebagai “bunda Allah” dalam sejarah keselamatan, tetapi sumber kekudusan Kristus adalah karya Roh Kudus yang menaungi dan memampukan terjadinya kehamilan itu.
Jika kita melihatnya dalam perspektif yang lebih luas, hal ini selaras dengan konsep bahwa Yesus adalah Adam yang kedua dan terakhir—Kepala Perjanjian Baru. Sebagai manusia sejati, Ia tidak mewarisi natur berdosa. Ada yang berkeberatan, “Jika Yesus tidak berdosa, bukankah itu berarti Ia bukan manusia sejati?” Keberatan ini tidak tepat, sebab Adam dan Hawa sebelum kejatuhan adalah manusia sejati tanpa dosa. Dengan demikian, menjadi manusia sejati tidak identik dengan memiliki dosa. Yesus, sebagai manusia sejati yang kudus, justru menunjukkan kemanusiaan yang sempurna sebagaimana Allah maksudkan sejak awal.
Kedua, frasa ini menegaskan status Kristus sebagai Anak Allah.
Masih dalam Lukas 1:35, malaikat berkata: “…sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Status ini bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan identitas sejati Yesus. Ia disebut Anak Allah karena proses kelahiran-Nya adalah hasil intervensi langsung Allah melalui Roh Kudus.
Inkarnasi—Allah menjadi manusia—terjadi melalui cara yang supranatural. Dengan mengaku “dikandung dari Roh Kudus”, kita sedang menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang Mahatinggi, yang datang ke dunia bukan melalui proses alami, tetapi melalui karya ilahi yang unik.
Setiap kali kita mengucapkan frasa ini dalam Pengakuan Iman Rasuli, kita sedang mengakui dua hal sekaligus: bahwa Yesus adalah suci dan bahwa Ia adalah Anak Allah. Dua kebenaran ini menjadi fondasi iman Kristen, yang membedakan Yesus dari semua tokoh sejarah lainnya.
Kesimpulan
Frasa “Dikandung dari Roh Kudus” bukanlah detail liturgis yang bisa kita ucapkan tanpa makna. Ia adalah pernyataan iman yang mengandung kebenaran mendalam: bahwa Yesus Kristus adalah manusia sejati yang kudus, lahir melalui mujizat karya Roh Kudus, dan bahwa Ia adalah Anak Allah yang Mahatinggi.
Memahami makna ini menolong kita mengucapkannya dengan hati yang penuh syukur dan kagum. Sebab di balik frasa singkat itu, tersimpan misteri kasih Allah yang rela merendahkan diri-Nya, masuk ke dalam sejarah manusia, dan memulai karya penebusan melalui kelahiran yang kudus dan mulia.

