Dalam rangkaian Ucapan Bahagia yang disampaikan Yesus di atas bukit, Matius 5:6-7 menyimpan kekayaan makna spiritual yang dalam dan aplikatif. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” dan “Berbahagialah orang yang murah hatinya” menggambarkan nilai-nilai utama dalam Kerajaan Allah yang sering kali berseberangan dengan nilai dunia. Melalui teks ini, kita akan menyelami bagaimana makna dari lapar dan haus akan kebenaran serta kemurahan hati bukan hanya menjadi panggilan spiritual, tetapi juga merupakan manifestasi nyata dari relasi kita dengan Allah dan sesama.
Lapar dan Haus akan Kebenaran: Hasrat Rohani yang Mendasar (Matius 5:6)
Yesus membuka ucapan-Nya dengan menyebut “lapar dan haus akan kebenaran.” Untuk memahaminya secara utuh, kita perlu terlebih dahulu mengupas arti dari kata “kebenaran” dalam konteks ini. Kata Yunani yang digunakan adalah dikaiosunē, sebuah istilah yang memiliki beragam nuansa makna dalam Perjanjian Baru. Ada yang memaknainya sebagai tindakan Allah dalam menyatakan penghakiman, ada pula yang melihatnya sebagai status benar di hadapan Allah melalui iman kepada Kristus. Namun dalam konteks Injil Matius, khususnya pasal 5, penafsiran yang paling sesuai adalah kebenaran sebagai ukuran hidup yang benar sesuai kehendak Allah.
Dalam Matius 5:20, Yesus berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Di sini jelas bahwa kebenaran dipahami sebagai kesalehan praktis yang melampaui legalisme agama. Kebenaran bukan sekadar status atau doktrin, melainkan gaya hidup yang mencerminkan karakter Allah.
Makna Simbolik “Lapar dan Haus”
Kata-kata “lapar” dan “haus” adalah metafora yang kuat dan penuh nuansa. Pertama, keduanya menggambarkan hasrat yang mendalam. Rasa lapar dan haus bukan keinginan biasa; ia muncul dari kebutuhan dasar manusia yang mendesak. Pemazmur pernah menggambarkan kerinduan yang serupa dengan berkata, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah” (Mazmur 42:1-2). Dalam konteks ini, Yesus sedang menekankan pentingnya memiliki kerinduan yang sungguh-sungguh untuk hidup sesuai kehendak Allah.
Kedua, lapar dan haus menunjukkan ketergantungan total. Sama seperti tubuh manusia tak bisa bertahan tanpa makanan dan minuman, demikian pula jiwa kita tak bisa hidup tanpa kebenaran. Ketika dicobai oleh Iblis setelah berpuasa, Yesus menegaskan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Artinya, kebutuhan akan kebenaran harus menjadi prioritas utama dalam hidup orang percaya.
Ketiga, metafora ini menyiratkan kebutuhan yang terus-menerus. Sama seperti kita perlu makan dan minum setiap hari, demikian pula kita harus terus-menerus mencari dan mengejar kebenaran Allah. Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Ini adalah dorongan untuk hidup yang berpusat pada nilai-nilai kekal, bukan hanya kebutuhan sementara.
Hasrat yang Mendalam, Bukan Sekadar Perbuatan
Penting untuk dipahami bahwa yang ditekankan oleh Yesus dalam ayat ini bukanlah pencapaian kebenaran sebagai hasil dari usaha manusia semata, melainkan kerinduan hati terhadapnya. Ini adalah bentuk anugerah: kita tidak diperintahkan untuk menghasilkan kebenaran, tetapi untuk merindukannya. Konsekuensinya pun bukan “mereka akan mendapatkannya,” melainkan “mereka akan dipuaskan.” Kata kerja bentuk pasif ini (chortasthēsontai) menyiratkan bahwa Allah-lah yang akan memuaskan mereka. Sama seperti dalam mukjizat pemberian makan lima ribu orang (Matius 14:20), di mana semua orang “makan sampai kenyang,” demikian pula Allah akan memberikan kepuasan rohani yang penuh bagi mereka yang sungguh-sungguh menginginkan kebenaran-Nya.
Ini menjadi pembelajaran bagi kita: banyak orang kalah terhadap dosa bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena kurang hasrat untuk hidup benar. Kita tidak cukup lapar dan haus akan kebenaran. Sebaliknya, rasa puas diri rohani seperti yang dimiliki oleh orang Farisi merupakan penghalang terbesar dalam pertumbuhan iman. Kita merasa sudah cukup, padahal sebenarnya sedang kosong.
Orang yang Murah Hati: Cermin Belas Kasihan Allah (Matius 5:7)
Ucapan bahagia berikutnya berbunyi, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Istilah “murah hati” dalam bahasa Yunani diterjemahkan dari kata eleēmōn, yang lebih tepat diartikan sebagai “berbelas kasihan.” Ini bukan sekadar sikap suka memberi atau kebaikan hati yang umum, melainkan mencerminkan belas kasih aktif terhadap mereka yang menderita, berdosa, atau dalam keadaan membutuhkan.
Contoh tertinggi dari eleos adalah Yesus sendiri. Dalam Ibrani 2:17, Ia digambarkan sebagai Imam Besar yang penuh belas kasihan, yang rela merendahkan diri-Nya demi menyelamatkan orang berdosa. Dalam Matius 9:13, Yesus menegaskan, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Dengan kata lain, belas kasih lebih berkenan di mata Allah daripada ibadah lahiriah yang kosong makna.
Mengasihi Lebih Daripada Menghakimi
Sayangnya, kita hidup dalam budaya yang mudah menghakimi. Kita sering kali lebih cepat menyalahkan daripada memahami. Dalam Matius 7:1-2, Yesus mengingatkan, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi.” Kemurahan hati sejati berarti memiliki kemampuan untuk melihat dari perspektif orang lain, merasakan penderitaan mereka, dan memberikan pengampunan meskipun mereka mungkin bersalah.
Belas kasihan juga berarti menahan diri dari menghukum orang lain secara tidak adil. Orang Farisi, misalnya, ditegur Yesus karena bersikap tidak adil dan tidak menunjukkan belas kasih kepada sesama (Matius 23:23). Dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelas kasihan (Matius 18:21-35), kita melihat bagaimana seseorang yang telah menerima pengampunan besar gagal menunjukkan belas kasih kepada orang lain. Akibatnya, ia sendiri kehilangan belas kasihan itu.
Mungkin muncul pertanyaan: Apakah Allah hanya akan mengasihi kita jika kita terlebih dahulu berbelas kasihan? Jawabannya adalah tidak. Allah menunjukkan belas kasihan-Nya terlebih dahulu. Namun, belas kasihan kita kepada orang lain adalah bukti bahwa kita telah mengalami dan menghargai belas kasihan Allah. Jika kita tidak mampu menunjukkan belas kasihan, berarti kita belum sungguh memahami belas kasih Allah dalam hidup kita. Yakobus 2:13 menegaskan, “Penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.”
Kesimpulan: Panggilan untuk Hidup dalam Kebenaran dan Belas Kasihan
Ucapan bahagia dalam Matius 5:6-7 bukanlah seruan untuk menjadi orang baik secara moral semata. Ia adalah gambaran dari orang-orang yang hidup dalam Kerajaan Allah—yang memiliki hasrat mendalam untuk hidup sesuai kehendak-Nya dan mencerminkan karakter Allah melalui belas kasih kepada sesama. Dunia saat ini haus akan keadilan, pengampunan, dan kebenaran. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk menjadi jawaban atas kebutuhan itu, bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi melalui hasrat yang tulus kepada kebenaran dan keteladanan belas kasih Yesus Kristus.
Marilah kita bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sungguh lapar dan haus akan kebenaran? Apakah aku memiliki kerinduan yang tulus untuk hidup seturut kehendak Allah? Apakah aku berbelas kasihan terhadap sesama, atau justru mudah menghakimi dan menyimpan dendam? Marilah kita membuka hati, supaya Allah memenuhi kita dengan kebenaran-Nya dan mengalirkan kemurahan-Nya melalui hidup kita.
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Matius 5:6-7)

