Sejarah gereja mencatat kegagalan orang-orang Kristen dalam memahami cakupan kerohanian yang sesuai dengan Alkitab. Berkali-kali dalam periode yang berlainan gereja terjebak pada konsep tentang kerohanian yang terkotak-kotak. Mereka hanya membatasi kerohanian pada aspek relasi vertikal dengan Allah. Peninggalan berbagai biara kuno merupakan saksi bisu dari kegagalan gereja memaknai arti kerohanian yang sejati. Mereka mengabaikan tanggung-jawab mereka secara horizontal dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai akibat dari mentalitas seperti di atas, orang Kristen kehilangan peranan dan pengaruh dalam suatu negara. Ketika negara membutuhkan orang-orang yang intelektual dan saleh, mereka justru asyik berada di dalam biara. Dalam beberapa periode sejarah, gereja bahkan bersikap negatif terhadap segala hal yang berbau negara, misalnya aliran Anabaptis di abad ke-16. Dalam sejarah modern pun kita masih dapat menemukan efek negatif ini. Beberapa negara Barat yang dulu didirikan dengan semangat Alkitab yang kuat kini bertambah sekuler, karena orang-orang Kristen tidak mau berinteraksi dengan dunia dan mengevaluasinya dalam terang firman Tuhan.
Kegagalan ini sangat disayangkan. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa tidak ada satu aspek kehidupan pun yang tidak tersentuh oleh firman Tuhan. Alkitab mengajarkan tentang pertanian (Im 25:3-4), makanan (Im 11), masakan (Kel 23:19//34:26), pakaian (Ul 22:5), perhiasan dan rambut (Im 19:27; 1Kor 11:15; 1Pet 3:3), sampai tanggung-jawab kepada raja/negara (1Sam 8:10-18). Tuhan – melalui Yeremia – bahkan menasihati orang-orang Yehuda yang dibuang ke Babel: “usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer 29:7).
Selain itu, beberapa tokoh Alkitab memiliki pengaruh yang besar atau posisi yang strategis dalam suatu negara, misalnya Yusuf (Kej 41:39-46), Daniel (Dan 6:1-3), Ezra (Ez 7:21), Nehemia (Neh 2:1). Sejarah gereja juga menuliskan coretan indah tentang bagaimana gereja dari dulu memiliki pengaruh yang besar bagi suatu negara di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, sosial, politik maupun hukum. Sebagian besar aspek peradaban Barat yang positif muncul dari akar kekristenan.
Penyelidikan Alkitab mandiri
Bacalah Roma 13:1-7 dengan teliti sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
- Mengapa setiap orang harus tunduk pada pemerintah yang ada di atasnya (ayat 1; band. 1Pet 2:13-14)?
- Apakah para panguasa Romawi waktu itu adalah pemerintah yang baik? Jelaskan! Jadi, apakah perintah ini hanya ditujukan kepada pemerintah yang baik dan sempurna (band. 1Pet 2:17-18?
- Apa konsekuensi dari kebenaran di atas (ayat 2)?
- Jika kita melakukan apa yang baik, apa yang akan kita dapatkan dari pemerintah (ayat 3)? Mengapa (ayat 4a)?
- Bagaimana jika kita berbuat salah (ayat 4b)? Mengapa (ayat 4c)?
- Selain ketundukan kepada Allah (ayat 1b, 4a, 4c, 5a), apa lagi dasar ketundukan kita kepada pemerintah (ayat 5b)? Jelaskan!
- Sebutkan salah satu contoh aplikasi ketundukan kepada pemerintah (ayat 6a “itulah juga sebabnya”)! Mengapa kita melakukan hal ini (ayat 6b)?
- Ringkaskan prinsip yang diajarkan Paulus di ayat 7 ke dalam satu kalimat sederhana!
- Bagaimana jika pemerintah mengeluarkan perintah yang bertentangan dengan firman Tuhan (band. Kis 4:17-19)?
Penerapan konkrit
Sebutkan minimal dua poin tentang peraturan-peraturan pemerintah yang selama ini masih sulit untuk dilakukan. Setelah semua menyebutkan hal itu, pilihlah satu atau dua poin yang paling problematis untuk didiskusikan.
Tugas selama seminggu
Belajarlah berkendara yang baik di jalan raya. Turutilah semua rambu-rambu yang ada!
Rangkuman
- Kerohanian juga mencakup bagaimana sikap kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
- Kita harus tunduk kepada pemerintah dalam bentuk menuruti peraturan yang ada dan berbuat kebaikan.
Ayat emas yang harus dihafalkan
Roma 13:1 “tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah”.

