Bagaimana manusia dapat mengenal Allah?

Bagaimana kita bisa mengenal Allah?  Kita mengenal Allah karena satu hal, yaitu Allah menyatakan diri- Nya kepada kita.  Dalam teologi dikenal sebuah kalimat: Kita mengenal Allah sejauh Allah memperkenalkan diri-Nya.  Tanpa Allah berinisiatif untuk membuka diri-Nya, menyatakan diri-Nya, mewahyukan diri-Nya, maka tidak mungkin kita bisa mengenal siapa Dia dengan benar.  

Ada dua cara yang Allah pakai untuk menyatakan diri-Nya, yaitu melalui Wahyu Umum dan Wahyu Khusus.  Wahyu Umum berarti penyataan diri Allah yang dapat diakses oleh semua orang di segala tempat dan di segala abad.  Wahyu Umum berbicara tentang hal-hal yang umum, hal-hal yang bisa dilihat dan dipahami oleh semua manusia.  Sedangkan Wahyu Khusus berbicara tentang penyataan Allah yang khusus pada zaman tertentu, kepada orang tertentu, dan melalui cara tertentu.  

Apa saja yang termasuk Wahyu Umum?  Alkitab mengajarkan ada tiga Wahyu Umum.Pertama, melalui ciptaan-Nya.  Di dalam Roma 1:20 Paulus mengatakan, “Sebab apa yang tidak nampak pada diri-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan dan sehingga mereka tidak dapat berdalih.”  Artinya, ketika kita melihat alam semesta, kita perlu bertanya: Dari mana alam semesta yang sedemikian besar itu bisa ada?  Kita juga perlu bertanya: Dari mana manusia yang berpribadi bisa muncul?  Teori-teori mengajarkan bahwa manusia berasal dari evolusi, dari satu zat yang tidak berpribadi, kemudian zat itu berkembang dan akhirnya menjadi makhluk yang berpribadi, seperti manusia.  Menurut teori-teori tersebut, alam semesta berasal dari proses yang bersifat kebetulan. 

Tetapi Alkitab memberikan alasan yang jauh lebih masuk akal, bahwa dunia ini diciptakan oleh satu pribadi, yaitu Allah sendiri.  Dari yang berpribadi menghasilkan makhluk yang berpribadi dan tidak berpribadi, maka itu masuk akal.  Kalau kita balik, dari yang tidak berpribadi menghasilkan yang berpribadi, maka itu kurang masuk akal.  Jadi, Wahyu Umum dapat dilihat melalui ciptaan, yang bisa dipersepsi melalui pikiran manusia.

Kedua, melalui hukum moral di dalam hati manusia.  Di dalam Roma 2:14-15 Paulus mengatakan: Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.  Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.

Manusia bisa membedakan yang baik dan yang jahat, dalam arti ada kesadaran tentang yang baik dan yang jahat.  Walaupun tidak semua manusia bisa benar dalam membedakan yang baik dan yang jahat, tetapi kesadaran bahwa ada yang baik dan yang jahat dalam diri manusia merupakan sebuah hal yang umum kita temukan.  Ketika kita melakukan hal yang keliru, maka kita menjadi terganggu di dalam hati kita.  Allah memberikan hati nurani untuk menolong manusia supaya dapat mengikuti hukum moral.  Jadi ketika kita tidak mengikuti hukum moral yang Allah taruh di dalam hati kita, maka hati nurani kita akan menuduh kita.  Hukum moral yang diletakkan Allah di dalam hati kita berguna untuk menunjukkan siapa Allah.

Ketiga, melalui kesadaran di dalam diri manusia tentang Allah.  Hal ini dikenal dengan istilah sensus divinitatis atau sense of divinity di dalam diri manusia.  Setiap manusia memiliki kesadaran di dalam dirinya bahwa Allah itu sebetulnya ada.  Di dalam Kejadian 2:7 dikatakan bahwa setelah Allah menciptakan manusia, Allah menghembuskan nafas-Nya ke dalam diri manusia.  Di dalam tradisi Alkitab, hal itu dipahami sebagai keunikan manusia sebagai makhluk rohani.  Manusia memiliki sebuah kehampaan di dalam dirinya dan kehampaan itu hanya bisa ditutupi kalau dia berjumpa dengan penciptanya.

Seorang Bapa Gereja terkenal bernama Agustinus, sudah mencoba semua yang ditawarkan oleh dunia.  Ia mencoba ilmu yang terbaik, yaitu retorika.  Dia mencoba hidup di dalam dosa untuk memuaskan dirinya.  Tetapi pada akhirnya ia mengakui bahwa jiwanya tidak bisa tenang kecuali di dalam Allah sebagai penciptanya.  Ini terjadi karena manusia diciptakan sebagai makhluk rohani.  Manusia akan terus mencari Allah di dalam dirinya.  Alkitab menyebut orang-orang yang tidak mengakui Allah sebagai orang bebal (Mazmur 14: 1; 53:1).  Hanya kebebalan manusia yang membuat mereka tidak bisa melihat Allah, karena Allah sudah meletakkan sense of divinity di dalam manusia.  Benih keagamaan sudah diletakkan di sana, sehingga manusia seharusnya selalu mencari Allah.  

Artikel Pendek

Manusia dapat mengenal keberadaan dan sifat-sifat Allah melalui penyataan diri Allah atau  wahyu Allah. Kekristenan mengenal dua macam wahyu Allah, yaitu wahyu umum dan wahyu khusus.  Wahyu umum merujuk pada penyataan diri Allah kepada semua manusia di segala tempat dan di sepanjang sejarah. Sedangkan wahyu khusus merujuk pada penyataan diri Allah yang spesifik kepada orang tertentu melalui cara yang khusus pula.

Penyataan Allah melalui wahyu umum dapat ditemukan melalui ciptaan, hukum moral dalam diri manusia, dan kesadaran intrinsik tentang keberadaan ilahi. Pertama, manusia dapat mengenal Allah melalui ciptaan. Alkitab mengatakan bahwa apa yang tidak nampak dalam diri Allah – yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian – dapat nampak kepada pikiran manusia melalui ciptaan sehingga manusia tidak dapat berdalih (Rom 1:20; Mzm 19:2; Kis 14:16-17).

Kedua, Manusia dapat mengenal Allah melalui hukum moral. Semua orang mengenal tuntutan hukum Allah dalam diri mereka melalui hukum moral. Artinya semua manusia memiliki kesadaran tentang yang baik dan yang jahat. Selain itu Allah juga memberikan hati nurani untuk mengarahkan manusia mengikuti pengetahuan intrinsik tersebut (Rom 2:14-15).

Ketiga, manusia dapat mengenal Allah melalui hati nurani. Dalam diri manusia terdapat kesadaran tentang dan kecondongan untuk mempercayai keberadaan Allah. Ini juga disebut sensus divinitatis atau sense of divinity atau benih keagamaan. Meski demikian, kebodohan rohani membuat manusia sengaja menentang kesadaran ini (Mazmur 14:1; 53:1; 10:3-4).

Selain wahyu umum, manusia dapat mengenal Allah melalui wahyu khusus. Bagian yang termasuk wahyu khusus meliputi: pertama, firman Allah secara lisan melalui mulut para nabi dan para rasul. Dalam bagian Alkitab banyak ditemukan bahwa para nabi (Yer 1:4, 11, 13; Zak 7:8) dan para rasul (Rom 10:17; Ef 1:13; Kol 1:5) memberitakan firman Allah secara langsung kepada orang-orang di zaman mereka.

Kedua, inkarnasi Yesus Kristus. Inkarnasi Yesus Kristus menyatakan Allah kepada manusia (Yoh 1:18; 14:7-9; Ibr 1:1-2).

Ketiga, firman Allah secara tertulis (Alkitab). Dalam pernyataan 2 Timotius 3:16 mengisyaratkan bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah (lit. “dinafaskan oleh Allah”) sehingga memiliki otoritas yang sama dengan ucapan Allah secara langsung (2 Tim 3:16).