Pendahuluan
Kejadian 1:3–5 merupakan bagian penting dalam narasi penciptaan karena memperlihatkan tindakan lanjutan Allah setelah pernyataan awal bahwa Ia menciptakan langit dan bumi. Jika Kejadian 1:1–2 dipahami sebagai tindakan awal penciptaan, maka Kejadian 1:3–31 dapat dilihat sebagai proses lanjutan yang menampilkan bagaimana Allah menata, membentuk, mengisi, dan memberi fungsi kepada ciptaan-Nya. Dengan demikian, penciptaan dalam bagian ini tidak selalu berarti menghadirkan sesuatu dari ketiadaan, tetapi juga mencakup tindakan ilahi dalam mengatur sesuatu yang sudah ada agar menjadi tertib, baik, dan siap dihuni.
Kejadian 1:3–5 secara khusus menyoroti penciptaan terang pada hari pertama. Teks ini berbunyi: “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.” Kemudian dilanjutkan, “Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.” Ayat berikutnya menyatakan, “Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.” Tiga ayat ini tampak sederhana, tetapi mengandung makna teologis, sastra, dan kosmologis yang sangat mendalam.
Dalam terang iman Kristen, penciptaan terang tidak hanya berbicara tentang munculnya cahaya secara fisik, tetapi juga tentang kuasa firman Allah, keteraturan ciptaan, kedaulatan Allah atas gelap dan terang, serta arah penciptaan menuju kehidupan yang baik. Oleh karena itu, Kejadian 1:3–5 perlu dibaca bukan hanya sebagai catatan awal mula dunia, melainkan sebagai kesaksian iman mengenai Allah yang mencipta dengan kuasa, hikmat, dan tujuan.
Struktur Penciptaan dalam Kejadian 1
Narasi penciptaan dalam Kejadian 1 disusun dengan struktur yang teratur. Banyak penafsir melihat adanya pola dua kelompok tiga hari. Hari pertama sampai hari ketiga berfungsi sebagai tahap pembentukan ruang atau wilayah, sedangkan hari keempat sampai keenam merupakan tahap pengisian ruang tersebut. Dengan kata lain, Allah lebih dahulu menata ciptaan agar layak dihuni, kemudian mengisinya dengan makhluk-makhluk yang sesuai dengan fungsi masing-masing.
Pada hari pertama, Allah menciptakan terang dan memisahkannya dari gelap. Pada hari keempat, Allah menata benda-benda penerang untuk memisahkan siang dan malam serta menjadi tanda bagi waktu. Pada hari kedua, Allah memisahkan air di atas dan air di bawah melalui cakrawala. Pada hari kelima, Allah menciptakan makhluk yang hidup di air dan burung-burung yang terbang di udara. Pada hari ketiga, Allah memisahkan daratan dari laut dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Pada hari keenam, Allah menciptakan binatang darat dan manusia, serta menyediakan tumbuh-tumbuhan sebagai makanan.
Struktur ini menunjukkan bahwa penciptaan bukan tindakan acak, melainkan karya yang dirancang secara sistematis. Allah tidak bertindak dalam kekacauan, tetapi menghadirkan keteraturan. Dunia yang semula digambarkan belum berbentuk dan kosong mulai ditata menjadi tempat yang baik, berfungsi, dan dapat dihuni. Dalam konteks ini, penciptaan terang pada hari pertama menjadi langkah awal yang sangat penting karena terang memungkinkan keteraturan berikutnya dapat dikenali dan dinyatakan.
Makna “Berfirmanlah Allah”
Kalimat “Berfirmanlah Allah” merupakan salah satu pola utama dalam Kejadian 1. Penciptaan terjadi melalui firman Allah. Ini menunjukkan bahwa firman Allah memiliki kuasa kreatif dan efektif. Allah tidak perlu berjuang, bertarung, atau menggunakan alat tertentu untuk menciptakan. Ia cukup berfirman, dan apa yang Ia kehendaki terjadi.
Keunikan ini sangat penting jika dibandingkan dengan berbagai mitos penciptaan kuno. Dalam banyak tradisi bangsa-bangsa sekitar Israel, dunia sering dipahami sebagai hasil konflik para dewa, peperangan kosmis, atau kelahiran dari kuasa-kuasa ilahi. Kejadian 1 memberikan kesaksian yang berbeda secara tegas. Allah tidak menciptakan melalui konflik, tetapi melalui firman. Tidak ada lawan yang sebanding dengan Dia. Tidak ada kuasa lain yang mengancam kedaulatan-Nya.
Dengan demikian, “Berfirmanlah Allah” bukan hanya formula naratif, tetapi pernyataan teologis. Firman Allah adalah sumber keberadaan, keteraturan, dan kehidupan. Apa yang tidak ada menjadi ada, dan apa yang belum tertata menjadi tertib karena Allah berfirman. Hal ini juga menegaskan bahwa dunia tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah.
Penciptaan Terang pada Hari Pertama
Penciptaan terang menjadi tindakan pertama Allah dalam rangkaian enam hari penciptaan. Sebelum itu, bumi digambarkan dalam keadaan gelap gulita. Karena itu, perintah “Jadilah terang” menandai perubahan besar dari keadaan gelap menuju keadaan yang mulai terbuka, terlihat, dan terarah. Terang menjadi tanda awal bahwa Allah sedang menata dunia.
Ada pandangan yang memahami terang pada hari pertama sebagai terang yang berbeda dari matahari karena benda-benda penerang baru disebutkan pada hari keempat. Namun, dalam pembacaan yang lebih luas, terang pada hari pertama dapat dipahami sebagai bagian dari terang ciptaan yang kemudian ditata lebih lanjut pada hari keempat. Dengan demikian, hari pertama menekankan hadirnya terang, sedangkan hari keempat menekankan fungsi benda-benda penerang dalam mengatur waktu, siang, malam, musim, dan tanda-tanda tertentu.
Penting untuk diperhatikan bahwa dalam Kejadian 1, tidak ada ciptaan yang sia-sia. Setiap tindakan Allah memiliki tujuan. Terang hadir bukan hanya sebagai fenomena fisik, tetapi sebagai bagian dari pembentukan dunia agar dapat dihuni. Terang memungkinkan perbedaan terlihat, keteraturan dikenali, dan kehidupan berkembang. Dalam konteks narasi, terang juga mempersiapkan tindakan Allah berikutnya, yaitu “melihat” bahwa ciptaan itu baik.
“Allah Melihat Bahwa Terang Itu Baik”
Setelah terang jadi, Allah melihat bahwa terang itu baik. Ungkapan ini berulang dalam narasi penciptaan dan memiliki makna yang sangat penting. Kata “baik” tidak hanya menunjuk pada kualitas moral, tetapi juga pada kesesuaian fungsi. Sesuatu disebut baik karena sesuai dengan maksud Allah, mendukung kehidupan, dan berperan dalam keteraturan ciptaan.
Dalam Kejadian 1, penilaian tentang baik tidak diberikan oleh manusia, melainkan oleh Allah. Ini berarti hanya Allah yang berwenang menentukan apa yang baik dan tidak baik. Manusia tidak memiliki otoritas mutlak untuk menetapkan kebaikan berdasarkan keinginan atau penilaiannya sendiri. Inilah salah satu tema penting yang kemudian muncul kembali dalam kisah kejatuhan manusia, ketika manusia ingin menentukan sendiri apa yang baik dan jahat tanpa tunduk kepada Allah.
Pernyataan bahwa terang itu baik juga menolak pandangan kuno yang memandang unsur-unsur alam tertentu sebagai jahat atau menakutkan. Dalam iman Alkitab, ciptaan Allah pada dasarnya baik karena berasal dari Allah yang baik. Gelap, terang, laut, darat, tumbuhan, hewan, dan manusia semuanya berada dalam lingkup kedaulatan Allah. Tidak ada bagian dari ciptaan yang memiliki kuasa mandiri di luar kehendak-Nya.
Allah Memisahkan Terang dari Gelap
Kejadian 1:4 menyatakan bahwa Allah memisahkan terang dari gelap. Pemisahan merupakan salah satu tindakan utama Allah dalam kisah penciptaan. Allah memisahkan terang dari gelap, air di atas dari air di bawah, laut dari daratan, dan kemudian menetapkan benda-benda penerang untuk memisahkan siang dari malam. Tindakan memisahkan ini tidak bermakna negatif, tetapi positif. Pemisahan menghasilkan keteraturan.
Dalam dunia yang belum tertata, segala sesuatu belum memiliki batas dan fungsi yang jelas. Allah kemudian memberikan batas, nama, tempat, dan peran. Terang tidak dibiarkan bercampur tanpa arah dengan gelap. Air tidak dibiarkan menutupi seluruh bumi tanpa batas. Darat dan laut dipisahkan agar kehidupan dapat berkembang. Dengan demikian, pemisahan adalah bagian dari proses penciptaan yang menjadikan dunia layak dihuni.
Pemisahan dalam penciptaan berbeda dari pemisahan akibat dosa. Dalam penciptaan, pemisahan menghasilkan keharmonisan. Setelah dosa masuk, pemisahan justru melahirkan kerusakan relasi: manusia terpisah dari Allah, manusia mengalami konflik dengan sesamanya, dan alam menjadi ruang yang penuh kesulitan. Karena itu, Kejadian 1 memperlihatkan pemisahan sebagai karya Allah yang baik, bukan sebagai simbol permusuhan.
Allah Menamai Terang dan Gelap
Setelah memisahkan terang dari gelap, Allah menamai terang itu siang dan gelap itu malam. Tindakan memberi nama dalam Alkitab memiliki makna otoritas. Pihak yang memberi nama menunjukkan kuasa atas yang dinamai. Karena itu, ketika Allah menamai terang dan gelap, Ia menyatakan bahwa keduanya berada di bawah pemerintahan-Nya.
Hal ini penting karena dalam kosmologi kuno, kegelapan sering dianggap sebagai kekuatan yang menakutkan atau bahkan sebagai kuasa yang berlawanan dengan terang. Kejadian 1 menolak gagasan semacam itu. Gelap bukan lawan Allah. Gelap juga bukan kekuatan ilahi yang berdiri sendiri. Allah menamai gelap, mengatur gelap, dan menetapkan batasnya. Dengan demikian, kegelapan tetap berada di bawah kedaulatan Allah.
Secara teologis, hal ini memberi penghiburan bagi umat percaya. Ada banyak pengalaman hidup yang dapat terasa seperti gelap: penderitaan, ketidakpastian, kegagalan, kehilangan, atau masa depan yang belum jelas. Namun, Kejadian 1:3–5 mengingatkan bahwa Allah berkuasa atas gelap. Ia bukan hanya hadir ketika terang sudah tampak, tetapi juga berdaulat ketika keadaan masih gelap. Allah sanggup menghadirkan terang melalui firman-Nya.
“Jadilah Petang dan Jadilah Pagi”
Ungkapan “Jadilah petang dan jadilah pagi” muncul berulang dalam narasi penciptaan. Frasa ini sering diperdebatkan karena urutannya dimulai dari petang menuju pagi, bukan sebaliknya. Ada yang mengaitkannya dengan tradisi Yahudi bahwa hari dimulai pada waktu petang. Namun, dalam konteks Kejadian 1, frasa ini dapat dipahami secara retoris dan sastra.
Petang dan pagi menggambarkan gerak dari gelap menuju terang, dari kondisi yang belum tertata menuju keadaan yang lebih teratur. Pola ini sesuai dengan keseluruhan narasi penciptaan. Allah sedang membawa dunia dari keadaan yang belum siap dihuni menuju keadaan yang baik. Karena itu, “petang dan pagi” tidak hanya menunjuk pada pergantian waktu, tetapi juga pada progres karya Allah.
Ketiadaan ungkapan “petang dan pagi” pada hari ketujuh juga menarik untuk diperhatikan. Hal ini menunjukkan bahwa frasa tersebut tidak semata-mata dimaksudkan sebagai ukuran waktu literal, tetapi sebagai bagian dari pola narasi penciptaan. Ketika karya penataan dan pengisian telah selesai, hari ketujuh menjadi hari perhentian Allah, bukan hari perubahan ciptaan seperti sebelumnya.
Hari Pertama dan Persoalan Makna “Hari”
Kata “hari” dalam Kejadian 1 juga sering menjadi bahan perdebatan. Sebagian memahami hari sebagai satu hari literal dua puluh empat jam. Sebagian lain melihatnya sebagai periode tertentu yang tidak harus dibatasi oleh ukuran waktu modern. Dalam bahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan sebagai hari dapat memiliki jangkauan makna yang luas, tergantung konteks penggunaannya.
Pembacaan yang hati-hati perlu memperhatikan sifat sastra Kejadian 1. Narasi ini memang berbicara tentang peristiwa penciptaan yang nyata, tetapi disampaikan dalam pola sastra yang teratur dan teologis. Karena itu, fokus utama teks bukanlah memberikan penjelasan ilmiah modern mengenai durasi penciptaan, melainkan menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta yang berdaulat, tertib, dan baik.
Hal yang paling penting bukanlah memperdebatkan panjang pendeknya hari secara spekulatif, melainkan menangkap pesan utama teks: setiap tahap penciptaan berada dalam kendali Allah. Ketika Allah selesai melakukan satu tahap karya-Nya, tahap itu disebut satu hari. Dengan demikian, hari pertama menandai selesainya tindakan awal Allah dalam menghadirkan terang dan memisahkannya dari gelap.
Relevansi Kejadian 1:3–5 bagi Kehidupan Iman
Kejadian 1:3–5 memiliki relevansi yang kuat bagi kehidupan iman masa kini. Pertama, teks ini mengajarkan bahwa firman Allah berkuasa mengubah keadaan. Ketika Allah berfirman, terang hadir. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan sejati dalam hidup manusia tidak hanya berasal dari usaha manusia, tetapi terutama dari karya Allah yang berfirman dan bertindak.
Kedua, teks ini mengajarkan bahwa Allah menghadirkan keteraturan. Dalam dunia yang sering dipenuhi kekacauan, ketidakpastian, dan konflik, Kejadian 1 mengingatkan bahwa Allah adalah Allah yang menata. Ia memisahkan, memberi batas, memberi nama, dan menetapkan fungsi. Iman kepada Allah Pencipta seharusnya mendorong manusia untuk hidup tertib, bertanggung jawab, dan selaras dengan kehendak-Nya.
Ketiga, teks ini menegaskan bahwa gelap tidak berkuasa atas Allah. Kegelapan bukanlah akhir dari cerita. Sebelum terang dinyatakan, Allah sudah hadir. Ketika Allah berfirman, terang mengatasi gelap. Ini menjadi dasar pengharapan bagi umat percaya bahwa dalam situasi apa pun, Allah tetap berdaulat dan sanggup membawa terang.
Kesimpulan
Kejadian 1:3–5 memperlihatkan karya Allah yang penuh kuasa, hikmat, dan tujuan. Allah menciptakan terang melalui firman-Nya, melihat bahwa terang itu baik, memisahkan terang dari gelap, serta menamai terang sebagai siang dan gelap sebagai malam. Semua tindakan ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya Pencipta, tetapi juga Pengatur dan Pemelihara ciptaan.
Penciptaan terang pada hari pertama menjadi tanda awal bahwa Allah sedang membawa dunia dari keadaan gelap dan belum tertata menuju kehidupan yang baik dan teratur. Terang bukan hanya fenomena alam, tetapi bagian dari penyataan kedaulatan Allah. Gelap tidak berdiri sebagai lawan Allah, sebab Allah berkuasa atasnya dan menetapkan batasnya.
Dengan demikian, Kejadian 1:3–5 mengajak pembaca untuk melihat dunia dalam terang iman. Segala sesuatu berasal dari Allah, ditata oleh Allah, dan diarahkan kepada tujuan Allah. Umat percaya dipanggil untuk hidup dalam terang firman-Nya, mempercayai kuasa-Nya, serta menyadari bahwa Allah sanggup menghadirkan terang di tengah keadaan yang paling gelap sekalipun.

