Di tengah dunia yang semakin sibuk dan cenderung individualistis, manusia sering kali hidup berdekatan secara fisik, tetapi semakin jauh dalam hubungan. Banyak orang memiliki banyak koneksi, tetapi tetap merasa kesepian dan tidak diperhatikan. Dalam situasi seperti ini, gereja dipanggil untuk menghadirkan sebuah komunitas yang berbeda, yaitu komunitas yang mencerminkan kasih Kristus melalui sikap ramah, terbuka, dan peduli terhadap sesama.
Melalui Ibrani 13:1–2, penulis surat Ibrani memberikan nasihat praktis mengenai kehidupan iman yang nyata. Setelah menjelaskan tentang keunggulan Kristus dan panggilan umat percaya untuk hidup dalam iman, penulis mengingatkan bahwa iman tidak hanya terlihat dalam pengakuan atau ibadah, tetapi juga melalui hubungan dengan orang lain. Salah satu wujud iman yang matang adalah kemampuan untuk mengasihi, menerima, dan menyambut sesama dengan tulus.
“Peliharalah kasih persaudaraan!” (Ibrani 13:1, TB)
1. Keramahan Bertumbuh dari Kasih Persaudaraan — Ibrani 13:1
Nasihat pertama yang diberikan penulis Ibrani adalah, “Peliharalah kasih persaudaraan!” Kalimat ini menunjukkan bahwa kasih di antara orang percaya merupakan sesuatu yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Kasih persaudaraan tidak muncul secara otomatis, melainkan membutuhkan kesadaran, komitmen, dan tindakan nyata dalam kehidupan bersama.
Dalam bahasa Yunani, istilah yang digunakan untuk “kasih persaudaraan” adalah philadelphia. Kata ini menggambarkan kasih yang dekat dan hangat seperti hubungan antara anggota keluarga. Bagi jemaat mula-mula, istilah ini mengingatkan bahwa mereka bukan sekadar kelompok orang yang berkumpul dalam satu tempat, melainkan keluarga rohani yang dipersatukan oleh Kristus.
Gereja bukan hanya tempat seseorang datang untuk mengikuti ibadah, tetapi juga tempat seseorang mengalami penerimaan dan perhatian. Karena itu, kasih persaudaraan harus terlihat melalui tindakan sederhana yang membangun hubungan. Sebuah sapaan yang tulus, kesediaan mendengarkan, perhatian kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan, serta kepedulian terhadap kebutuhan orang lain merupakan bentuk nyata dari kasih persaudaraan.
Sering kali keramahan dimulai dari hal-hal kecil. Seseorang mungkin tidak membutuhkan banyak nasihat, tetapi membutuhkan seseorang yang mau hadir dan mendengarkan. Ada orang yang datang ke gereja dengan pergumulan yang tidak terlihat, sehingga sikap ramah dari jemaat dapat menjadi pengalaman pertama yang menunjukkan bahwa mereka diterima dan dikasihi.
Komunitas yang memiliki kasih persaudaraan tidak hanya terlihat dari banyaknya kegiatan, tetapi dari kualitas hubungan antaranggota. Ketika kasih Kristus memenuhi hati jemaat, orang lain tidak lagi dipandang sebagai orang asing, melainkan sebagai saudara yang harus dihargai.
2. Sikap Suka Menyambut Membuka Ruang bagi Sesama — Ibrani 13:2a
Selanjutnya, penulis Ibrani memperluas pemahaman tentang kasih melalui tindakan menyambut orang lain. Ia berkata, “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang…” (Ibrani 13:2a, TB). Pada masa itu, memberi tumpangan merupakan tindakan yang sangat penting karena perjalanan sering kali memiliki banyak risiko, sementara tempat penginapan tidak selalu tersedia dan aman.
Dalam bahasa Yunani, kata yang berkaitan dengan keramahan adalah philoxenia, yang berarti kasih kepada orang asing. Istilah ini menunjukkan bahwa keramahan Kristen tidak hanya diberikan kepada orang yang sudah dikenal atau memiliki kedekatan tertentu, tetapi juga kepada mereka yang berbeda, baru datang, atau belum memiliki hubungan sebelumnya.
Pesan ini menjadi penting bagi gereja masa kini. Terkadang manusia lebih mudah menerima orang yang memiliki latar belakang, pemikiran, atau kebiasaan yang sama. Namun, kasih Kristus memanggil jemaat untuk melampaui batas-batas tersebut. Gereja dipanggil menjadi tempat di mana setiap orang dapat menemukan penerimaan dan rasa aman.
Sikap suka menyambut dapat diwujudkan melalui perhatian sederhana: menyapa orang yang baru pertama kali hadir dalam ibadah, membantu seseorang yang membutuhkan, mengajak orang lain masuk dalam persekutuan, atau memberikan waktu untuk mengenal mereka lebih dekat. Tindakan-tindakan kecil tersebut memiliki dampak besar karena menunjukkan bahwa seseorang memiliki nilai dan tempat dalam komunitas iman.
Gereja yang ramah bukan berarti gereja yang hanya memiliki program yang banyak, tetapi gereja yang memiliki hati yang terbuka. Suasana yang hangat dan penuh penerimaan dapat menjadi kesaksian yang kuat tentang kasih Allah kepada dunia.
3. Keramahan Dapat Menjadi Sarana Kehadiran Allah — Ibrani 13:2b
Penulis Ibrani kemudian memberikan alasan yang mendalam mengenai pentingnya keramahan: “…sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” (Ibrani 13:2b, TB).
Pernyataan ini mengingatkan pembaca pada kisah Abraham dalam Kejadian 18 ketika ia menyambut tiga orang asing yang datang kepadanya. Abraham tidak mengetahui sepenuhnya siapa mereka, tetapi melalui sikap terbuka dan keramahannya, ia mengalami perjumpaan dengan kehendak Allah.
Pesan dari ayat ini bukan berarti setiap tamu yang datang pasti memiliki pengalaman yang luar biasa, tetapi menunjukkan bahwa Allah dapat bekerja melalui tindakan kasih yang sederhana. Keramahan yang dilakukan dengan ketulusan dapat menjadi sarana bagi seseorang untuk merasakan kasih dan perhatian Tuhan.
Sering kali pekerjaan Allah hadir melalui tindakan manusia yang sederhana. Sebuah sambutan hangat dapat menguatkan seseorang yang sedang putus asa. Sebuah perhatian kecil dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Sebuah tindakan penerimaan dapat membuka jalan bagi seseorang untuk mengenal kasih Kristus lebih dalam.
Karena itu, keramahan bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi bagian dari pelayanan rohani. Ketika jemaat menerima orang lain dengan kasih, mereka sedang mengambil bagian dalam menghadirkan karakter Allah yang penuh kasih dan penerimaan.
Penutup
Melalui Ibrani 13:1–2, orang percaya dipanggil untuk memiliki karakter yang ramah dan suka menyambut. Keramahan Kristen bukan sekadar sikap sopan atau kebiasaan sosial, melainkan wujud nyata dari kasih Kristus yang bekerja dalam kehidupan umat-Nya.
Kasih persaudaraan perlu terus dipelihara agar hubungan dalam komunitas iman tidak menjadi dingin dan formal. Sikap menyambut perlu dikembangkan agar gereja menjadi tempat yang terbuka bagi setiap orang. Melalui keramahan, jemaat dapat menghadirkan suasana yang mencerminkan kasih, pengharapan, dan kepedulian Allah.
Pada akhirnya, gereja dipanggil bukan hanya untuk menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi rumah rohani yang menghadirkan penerimaan. Ketika setiap orang percaya belajar menyambut sesama dengan hati yang tulus, kasih Kristus menjadi nyata dan komunitas iman dapat menjadi tempat di mana banyak orang menemukan penghiburan, pemulihan, dan harapan.

