KEMBALI PADA INJIL: INJIL SEBAGAI KEKUATAN

Suara

Injil bukan hanya memberikan cara pandang dan dorongan. Injil juga menjadi kekuatan. Kekuatan untuk menyelesaikan apa yang sudah dilakukan. Ironisnya, banyak orang sukar untuk bersandar pada kekuatan Injil. Mereka lebih merasa yakin dengan usaha-usaha manusia yang terlihat “nyata”. Banyak contohnya. Dalam banyak area. Bab ini hanya akan menyoroti dua saja: keselamatan dan pelayanan.

Dalam hal keselamatan, masih banyak orang yang meyakini bahwa kepastian keselamatan ditentukan oleh usaha manusia. Jika pada akhir hidup seseorang dia berbuat dosa, orang itu tidak akan diselamatkan. Dosanya menghalangi dia untuk masuk ke surga.

Mereka yang mengadopsi pandangan di atas berasumsi bahwa manusia bisa masuk surga karena tidak berdosa. Ini jelas salah besar. Jika cara keselamatan adalah seperti itu, tidak ada satupun yang dapat masuk ke surga. Setiap detik manusia berdosa, karena tidak ada yang bisa menjadi sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48). Sampai matipun tuntutan ini tidak akan pernah dipenuhi.

Jika keselamatan ditentukan perbuatan baik di akhir hidup seseorang, kurban Kristus di kayu salib tidak sempurna. Kurban itu masih perlu ditambah dengan yang lain. Hal ini jelas bertabrakan dengan banyak teks Alkitab. Karya penebusan Kristus “sudah selesai” (Yoh. 19:30). Kita telah ditebus dengan darah Anak Domba yang sempurna (1Pet. 1:18-19). Kita telah dibayar secara lunas (1Kor. 6:20). Tidak ada penghukuman bagi siapa saja yang sudah di dalam Kristus (Rm. 8:1).

Keselamatan yang berpusat pada Injil mengajarkan bahwa ketidaksetiaan manusia tidak mungkin bisa membatalkan kesetiaan Allah (Rm. 3:3-4; 2Tim. 2:13). Allah sudah memberikan kasih terbesar ketika kita berada dalam keadaan terburuk (Rm. 8:6-8). Tidak ada yang dapat mengagetkan dan membatalkan kasih-Nya untuk mendapatkan kita. Tidak ada kebaikan kita yang bisa menambah kasih-Nya, demikian pula tidak ada dosa yang bisa mengurangi kasih-Nya. Kita sudah diselamatkan oleh anugerah, selalu ditopang oleh anugerah, dan akan disempurnakan oleh anugerah juga.

Kesalahan lain terjadi di area pelayanan. Banyak orang masih mementingkan strategi, dan metode tertentu. Walaupun pada dirinya sendiri suatu strategi dan metode mungkin tidak selalu keliru, namun memisahkannya dengan berita Injil pasti merupakan kekeliruan yang besar. Tidak heran, gereja akhirnya tidak mengalami perkembangan yang mengubahkan. Tidak ada kuasa Injil yang tampak secara nyata.

Paulus sangat memahami kebenaran ini. Dia tidak mau mengandalkan informasi atau strategi tertentu dalam pelayanan (1Kor. 2:1-5). Yang dia percayai sepenuhnya adalah Allah dan Injil-Nya. Di tengah situasi apapun, dia berani berkata: “karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim. 1:12). Bagi dia, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16). Jika Injil mampu menyelamatkan, Injil juga pasti mampu untuk mengubahkan. Dengan penuh keyakinan Paulus menulis: “Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh” (1Tes. 1:5).

Tidak mengandalkan Injil dalam pelayanan adalah kebodohan dan kelemahan. Mengapa demikian? Karena Injil adalah hikmat Allah dan kekuatan Allah (1Kor. 1:23-24)! Segala usaha dan strategi manusia hanya bisa menghilangkan gejala, tetapi hanya Injil yang bisa membawa perubahan sampai ke akar-akarnya.

STUDI ALKITAB MANDIRI

Bacalah Roma 5:1-11, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

  1. Sebutkan tiga berkat rohani yang diterima oleh siapa saja yang beriman kepada Kristus (ayat 1-2)! Jelaskan masing-masing berkat itu secara singkat!
  2. Mengapa penderitaan tidak mungkin menggagalkan pengharapan (ayat 3-5)?
  3. Bagaimana keadaan kita dahulu pada waktu dikasihi oleh Kristus (ayat 6-8)? Secara khusus, apa yang dimaksud di ayat 7?
  4. Bagaimana logika teologis tentang kepastian keselamatan (ayat 9-10)? Jelaskan secara singkat!

 AYAT HAFALAN

 Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal. 2:20)

 PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Pernahkah Anda putus asa dengan perjalanan spiritual Anda maupun pelayanan Anda selama ini? Bagaimana Injil berperan dalam persoalan ini?
  2. Apa saja yang sering menghalangi Anda untuk mengandalkan Injil, baik dalam keselamatan maupun pelayanan?
  3. Perubahan konkrit apa saja yang perlu dilakukan supaya Anda lebih mengandalkan kuasa Injil?

PROYEK ROHANI

Lakukanlah perubahan-perubahan konkrit yang sudah dipikirkan di atas. Tuliskanlah hasil maupun halangan dalam melakukannya.