KEROHANIAN SEMU: LEGALISME

Audio

Istilah “legalisme” sebuah paham yang mengajarkan bahwa perkenanan Allah dan kebenaran manusia di hadapan-Nya bisa diraih melalui perbuatan baik manusia, yaitu melalui ketaatan terhadap Hukum Taurat. Contoh yang paling jelas dalam Alkitab adalah kesalehan orang-orang Farisi. Mereka sangat membanggakan ketaatan mereka yang begitu terperinci terhadap Taurat. Satu perintah dalam Alkitab bisa diuraikan menjadi puluhan aturan.

Paham seperti ini jelas sangat bertabrakan dengan konsep keselamatan sebagai anugerah dari Allah yang kita terima melalui iman. Secara tegas Paulus berkata: “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat (Rm. 3:28)”. Dalam surat-suratnya Paulus tidak jemu-jemu mengingatkan bahwa keselamatan bukan hasil usaha atau pekerjaan manusia (Ef. 4:8-9). Keselamatan bukanlah jatah (setiap orang berhak mendapatkannya) atau upah (respons Allah terhadap hasil usaha manusia), melainkan anugerah (murni pemberian Allah secara cuma-cuma).

Legalisme merupakan gaya spiritualitas yang sangat berbahaya. Dari luar terlihat begitu mengesankan, sehingga mudah mengelabui banyak orang. Bahkan tidak sedikit orang Kristen yang terjebak pada legalisme ala Farisi. Bagi mereka, kekristenan hanyalah sekumpulan perintah yang harus dilakukan dan sederetan larangan yang patut dijauhkan.

Ada banyak alasan mengapa legalisme adalah sebuah kesalahan fatal dalam kerohanian. Dalam bab ini kita akan menyoroti dari tiga sisi: relasi dengan Allah, diri sendiri dan orang lain.

Pertama, legalisme tidak mungkin menghasilan pembenaran di hadapan Allah. Kesalehan yang dituntut oleh Allah bersifat sempurna. Maksudnya, manusia wajib menaati seluruh tuntutan Taurat (Gal. 3:10 “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat”). Melanggar satu perintah sama saja dengan melanggar seluruhnya (Yak. 2:10). Dengan tuntutan setinggi ini, tidak heran semua kesalehan manusia hanyalah seperti kain kotor di hadapan Allah (Yes. 64:6).

Seperti pungguk merindukan bulan, demikianlah mereka yang mengandalkan ketaatan untuk mendapatkan atau menjamin keselamatan. Sama sekali tidak ada peluang. Sebuah usaha menjaring angin. Perkenanan Allah atas diri kita ditentukan oleh ketaatan Kristus yang sempurna (Rm. 8:3-4). Kebenaran Kristus diperhitungkan menjadi kebenaran kita (Rm. 4:24-25).

Kedua, legalisme mendatangkan depresi rohani. Manusia merasa lelah dengan semua aturan yang ada (bdk. Mat. 11:28-30; 23:4). Perasaan bersalah yang tidak wajar semakin mengental. Jika diteruskan, orang cenderung bersikap apatis dan masa bodoh. Ketakutan terhadap hukuman juga sering memberi dorongan ketaatan yang menyesatkan. Ketaatan seperti ini jelas menjadi beban yang meletihkan.

Mereka yang pernah terjebak pada legalisme pasti mengerti situasi ini. Kita mudah putus asa ketika semua usaha yang dilakukan tetap tidak membebaskan kita dari dosa tertentu. Semua tips dan trik maupun metode dan strategi sudah dilakukan, tetapi hasilnya mengecewakan. Kita jatuh dan jatuh kembali. Perasaan tidak layak membuat hati kita terkoyak.

Ketiga, legalisme sering menimbulkan kesombongan rohani dan sikap menghakimi. Bagi orang-orang yang merasa diri sudah mencapai tingkat ketaatan tertentu yang dianggap lumayan, mereka cenderung memandang rendah orang lain. Perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai adalah contoh paling jelas (Luk. 18:9-14). Karena bersandar pada pencapaiannya sendiri, orang Farisi tersebut merasa diri lebih benar daripada pemungut cukai yang memang pada zaman dulu dianggap sangat berdosa. Kesalehan diri sendiri dan kesalahan orang lain diperbesar sesuai keinginan. Tidak mengagetkan jika penghakiman yang diberikan kurang berbelaskasihan.

Tidak seberapa sulit untuk mengiyakan keadaan di atas. Kita semua bergumul dengan monster arogansi dalam diri kita sendiri. Kerohanian yang salah menumbuhkan hati yang pongah. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki kelemahan. Hanya jenisnya saja yang berlainan.

STUDI ALKITAB MANDIRI

Bacalah Lukas 11:37-44, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apakah yang dipersoalkan oleh orang Farisi di ayat 37-38 bersifat medis (kotor) atau spiritual (najis)? Jelaskan!
  2. Jelaskan 4 (empat) karakteristik kaum legalis yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus di ayat 39-41, 42, 43, dan 44!

AYAT HAFALAN

 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2Kor. 5:21)

 PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Di antara tiga sisi relasi yang buruk, mana yang paling sesuai dengan keadaan Anda dulu (atau sekarang)? Jelaskan!
  2. Sebutkan contoh-contoh umum kerohanian yang legalis!
  3. Bagaimana cara mewaspadai atau menghindarkan diri dari jebakan legalisme?

 PROYEK ROHANI

 Berdiskusilah dengan seorang Kristen legalis. Cobalah memahami cara pandang dan pergumulannya dengan baik. Carilah cara untuk menolong orang itu.