TUHAN, HARTA YANG SESUNGGUHNYA

Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Namun, tidak semua orang tahu di mana kebahagiaan sejati itu ditemukan. Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan bisa diperoleh dengan kekayaan, keberhasilan, atau hubungan yang menyenangkan. Tapi Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati hanya ditemukan ketika kita menjadikan Tuhan sebagai harta yang paling berharga dalam hidup kita.

Ulangan 6:4–9 menjadi kunci penting dalam memahami bagaimana seseorang dapat benar-benar menempatkan Tuhan sebagai pusat hidupnya. Bagi umat Yahudi, bagian ini sangat sakral dan diucapkan setiap hari sebagai bagian dari doa Shema. Bahkan Yesus sendiri mengutip ayat 5 sebagai hukum yang terutama dalam kehidupan orang percaya (Matius 22:37). Mari kita renungkan tiga tanda penting yang menunjukkan bahwa Tuhan sungguh menjadi harta utama dalam hidup seseorang.

Pertama, Tuhan bukan hanya nomor satu, tetapi satu-satunya dalam hidup kita. Firman Tuhan berkata, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4). Kata “esa” di sini berarti bahwa Tuhan adalah satu-satunya Allah yang sejati—tidak ada yang lain yang bisa disejajarkan dengan-Nya. Ini bukan hanya penolakan terhadap penyembahan banyak allah (politeisme), tetapi juga terhadap pemikiran bahwa Tuhan hanyalah yang paling tinggi di antara banyak hal penting lainnya (henoteisme).

Sering kali, tanpa sadar, kita memperlakukan Tuhan sebagai “yang paling utama” dalam daftar prioritas, tetapi bukan sebagai poros dari segalanya. Kita menempatkan Tuhan di urutan pertama, lalu setelah itu ada keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan seterusnya. Padahal, Tuhan tidak ingin berada dalam daftar—Ia ingin menjadi dasar dari seluruh daftar itu. Tuhan tidak mau dibagi atau dibandingkan; Ia adalah satu-satunya yang layak disembah dan dipusatkan. Ketika kita mengerti hal ini, kita tidak lagi membatasi Tuhan dalam waktu-waktu tertentu saja (seperti doa atau ibadah), tetapi kita hidup setiap hari dengan kesadaran bahwa seluruh hidup ini adalah tentang Dia.

Kedua, kasih kita kepada Tuhan harus utuh dan menyeluruh. Ulangan 6:5 berkata, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Kata “segenap” diulang tiga kali, menandakan bahwa Tuhan tidak menginginkan kasih yang setengah-setengah. Ia menginginkan kasih yang datang dari seluruh hati, pikiran, dan kekuatan kita.

Dalam budaya zaman sekarang, kita mudah terbagi hati. Ada begitu banyak hal yang menarik perhatian kita—pekerjaan, media sosial, hobi, atau relasi. Tapi kasih kepada Tuhan seharusnya mencakup dan meliputi segalanya. Bukan berarti kita tidak boleh mengasihi keluarga, menikmati pekerjaan, atau menjalani kehidupan sosial. Justru sebaliknya, kasih kepada Tuhan akan membuat kita mengasihi hal-hal lain dengan cara yang benar. Ketika kasih kita kepada Tuhan menyatu dengan setiap aspek kehidupan, maka semua aktivitas kita—mulai dari yang besar hingga yang sederhana—menjadi bentuk ibadah dan ungkapan cinta kepada-Nya.

Jika seluruh kasih kita tercurah untuk Tuhan, masihkah ada ruang untuk kasih kepada yang lain? Tentu saja. Kasih kepada keluarga, pekerjaan, dan sesama bukanlah sesuatu yang terpisah dari kasih kepada Tuhan, tetapi menjadi ekspresi dari kasih itu sendiri. Kita mengasihi orang lain karena kita terlebih dahulu mengasihi Tuhan. Kita bekerja dengan rajin karena kita ingin memuliakan Tuhan. Kita melayani dengan setia bukan demi pujian manusia, melainkan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang sudah lebih dahulu mengasihi kita.

Ketiga, Tuhan menjadi pusat dari seluruh aktivitas dan kehidupan kita. Ulangan 6:6–9 menunjukkan bahwa kasih kepada Tuhan bukan hanya perasaan atau pengakuan mulut, tetapi harus nyata dalam seluruh kehidupan. Firman-Nya harus terus-menerus ada dalam hati, dibicarakan di rumah, diajarkan kepada anak-anak, dan dibawa ke mana pun kita pergi—baik secara simbolis maupun praktis.

Ayat-ayat ini menekankan pentingnya membangun kehidupan rohani yang konsisten—bukan hanya saat ibadah di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Perintah Tuhan harus memengaruhi cara kita berpikir (“di dahi”) dan bertindak (“di tangan”). Segala yang kita lakukan—berjalan, duduk, bangun, beristirahat—harus menjadi peluang untuk mengingat dan menyatakan kasih kita kepada Tuhan.

Paulus dalam Kisah Para Rasul 17:28 berkata, “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.” Ini bukan hanya konsep rohani, tetapi cara hidup. Menjadikan Tuhan sebagai pusat berarti semua yang kita lakukan berakar pada relasi kita dengan Dia. Bukan hanya soal berdoa atau membaca Alkitab, tapi bagaimana nilai-nilai Tuhan hidup dalam pikiran, kata, dan tindakan kita setiap hari.

Kesimpulan:
Menjadikan Tuhan sebagai harta yang sesungguhnya bukanlah slogan indah belaka. Itu adalah gaya hidup. Tuhan tidak ingin menjadi bagian dari hidup kita—Ia ingin menjadi seluruh hidup kita. Ketika kita mengakui bahwa hanya Tuhan satu-satunya Allah, mencintai-Nya dengan segenap keberadaan, dan menjadikan Dia pusat kehidupan kita, maka kita akan mengalami kebahagiaan sejati yang tidak tergantung pada keadaan.

Studi Alkitab Mandiri

Bacalah Lukas 19:1-10, lalu jawablah beberapa pertanyaan berikut ini.

  1. Mengapa Zakheus tetap mau menjadi pemungut cukai padahal dibenci oleh bangsa Yahudi (ayat 2)? Apa yang dianggap paling penting dalam hidupnya?
  2. Jelaskan bahwa dalam kisah ini subjek yang mencari adalah Yesus, bukan Zakheus (ayat 3-5, 10)!
  3. Apa yang kita bisa pelajari dari fakta bahwa wujud pertobatan Zakheus berkaitan dengan aspek finansial (ayat 7-8)?

Ayat Hafalan

 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:20-21)

Pertanyaan Untuk Diskusi

  1. Jika Anda hanya boleh mempertahankan tiga hal dalam hidup Anda (selain Allah dan keselamatan), apa saja yang akan Anda pertahankan?
  2. Apakah kesukaan Anda terhadap tiga hal tadi berdampak (baik positif maupun negatif) bagi kasih Anda kepada Allah?
  3. Bagaimana mengembangkan kebiasaan praktis sebagai upaya untuk meletakkan Allah sebagai poros kehidupan?