Kesatuan (unity)
Dalam diri-Nya, Allah memiliki sifat-sifat yang setara dan tidak terpisahkan (Kel 34:6-7). Karena itu, keputusan dan tindakan Allah bersumber dari semua sifat-Nya. Ada beberapa contoh yang ditunjukan Alkitab, antara lain: pertama pilihan kekal didasarkan pada kasih (Ef 1:5). Paulus mengatakan bahwa: “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya” (Efesus 1:5-6). Kedua, hikmat dan pengertian adalah hal yang tidak terpisahkan. Efesus 1:8 berkata: “Yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” Ketiga, kebebasan keputusan dan kehendak-Nya tidak akan bertentangan dengan sifat-sifat lain dari diri Allah. Efesus 1:9 dan 11 mengatakan bahwa: “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus . . . Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”.
Alkitab juga mengajarkan bahwa walaupun pada momen-momen tertentu salah satu sifat terlihat lebih menonjol, namun tetap tidak meniadakan sifat yang lain. Misalnya, Mazmur 103:10 mengajarkan bahwa Allah menghukum manusia sebagai sifat adil Allah, tetapi tidak setimpal dengan kesalahan kita karena sifat kemurahan Allah. Dalam ayat tersebut, yang ditekankan di sini adalah kemurahan Allah.
Selain itu, banyak orang menganggap bahwa Allah dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang berbeda dalam Perjanjian Baru. Padahal Allah di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah sama dan bekerja dengan cara yang sama pula. Sebagai contoh, rancangan keselamatan manusia tetap konsisten dan progresif dari Perjanjian Lama yang mengarah pada karya salib Yesus Kristus. Ini menunjukan rancangan Allah tidak berubah sekaligus adanya sifat-sifat yang setara dan tidak terpisahkan dari diri Allah.

