Ketidakterlihatan (invisibility)
Seluruh esensi total Allah atau seluruh keberadaan-Nya yang rohani tidak mungkin dapat terlihat oleh manusia. Alkitab mengatakan dalam Yohanes 1:18 bahwa tidak seorangpun pernah melihat Allah. Firman Tuhan berkata: Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya (Yohanes 1:18 ). Demikian juga dalam 1 Timotius 1:16 dan 17 mengatakan bahwa Allah tidak terlihat. Di sana tertulis: Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin (1 Timotius 1:16-17).
Meski Allah tidak terlihat dengan panca indra dan jasmaniah, dalam anugerah-Nya, Ia masih berkenan menampakkan diri melalui dan dalam cara yang bisa terlihat oleh manusia. Pertama, melalui penglihatan (Yes 6:1-10). Kedua, melalui theofani, yaitu penampakan diri Allah yang diceritakan Allah dalam beberapa wujud baik dalam rupa manusia (Kej 18:1-33; 32:28-30), tiang awan dan tiang api (Kel 13:21-22), Malaikat TUHAN (Hak 13:21-22). Ketiga, pernyataan diri Allah melalui inkarnasi Yesus Kristus. Yesus adalh Allah yang menjadi manusia. Hal ini dinyatakan dalam Yohanes 1:14 yang berkata: Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Demikian juga Yesus dikatakan sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan. Kolose 1:15 berkata: Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.
Alkitab menjelaskan bahwa manusia dapat melihat pernyataan diri Allah. Misalnya, dalam cerita Alkitab, Musa mengalami pengalam menarik tentang penyataan diri Allah. Diceritakan bahwa Musa melihat (Kel 33:11) sekaligus tidak melihat TUHAN (Kel 33:20; Yoh 1:18). Artinya, Allah hanya bisa dilihat secara parsial, tetapi bukan seluruh esensi-Nya. Demikian juga di surga nanti kita diizinkan melihat Allah muka dengan muka (Mat 5:8; 1 Kor 13:12; 1 Yoh 3:2; Why 22:3-4), walaupun sebatas apa dan dengan cara bagaimana hal itu masih misterius bagi kita.

