Salah satu pernyataan yang paling mendasar adalah: “Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung makna teologis yang sangat kaya. Untuk memahaminya, kita perlu melihatnya dari dua makna utama yang sekaligus berada dalam dua konteks penting.
Pertama, pernyataan ini menegaskan bahwa alam semesta tidak bersifat kekal.
Pada masa Yunani-Romawi kuno, ada aliran filsafat yang mengajarkan bahwa alam semesta bersifat kekal dan tidak memiliki pencipta. Materi dianggap ada sejak awal tanpa permulaan. Melalui rumusan Pengakuan Iman Rasuli, para pemimpin gereja abad permulaan ingin menegaskan kebenaran yang berbeda: alam semesta memiliki awal, dan awal itu adalah karya penciptaan Allah.
Dasar keyakinan ini sederhana namun kokoh: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1). Bagi gereja mula-mula, ayat ini sudah cukup menjadi fondasi iman. Namun, menariknya, perkembangan ilmu pengetahuan modern justru menguatkan keyakinan ini.
Misalnya, teori pembesaran alam semesta (expanding universe theory) menunjukkan bahwa alam semesta terus mengembang dengan pola yang dapat diukur. Dengan menghitung mundur, para ilmuwan dapat memperkirakan titik awal terjadinya alam semesta. Jika alam semesta benar-benar kekal, perhitungan ini tidak mungkin dilakukan.
Demikian pula, hukum termodinamika mengajarkan bahwa energi di alam semesta mengalami degradasi. Ini berarti alam semesta memiliki “awal” dan sedang bergerak menuju “akhir”. Analogi sederhananya seperti mobil dengan tangki bahan bakar setengah penuh: kita bisa menghitung mundur untuk mengetahui dari mana mobil itu mulai berjalan. Begitu pula, alam semesta memiliki titik awal yang jelas—dan iman Kristen menyatakan bahwa titik awal itu adalah karya penciptaan Allah.
Kedua, pernyataan ini menegaskan bahwa alam semesta itu baik dan bersumber dari Allah yang baik.
Kita tidak hanya percaya kepada “Allah” secara umum, tetapi kepada Allah Bapa. Sebutan “Bapa” menunjukkan relasi yang penuh kasih, bukan sekadar kekuasaan. Ini membedakan iman Kristen dari konsep ketuhanan dalam filsafat Yunani-Romawi kuno, yang sering kali menggambarkan para dewa sebagai sosok yang jauh, tidak peduli, atau bahkan kejam.
Karena Allah adalah Bapa yang baik, maka ciptaan-Nya pun baik. Pernyataan ini sekaligus menjadi bantahan terhadap ajaran-ajaran sesat pada abad-abad awal, seperti Gnostisisme dan Marsionisme.
Gnostisisme, yang dipengaruhi oleh dualisme Yunani kuno, menganggap bahwa segala sesuatu yang bersifat materi adalah jahat, sedangkan yang non-materi adalah baik. Dengan pandangan ini, mereka menolak kemungkinan bahwa Allah yang sempurna menciptakan dunia material.
Marsionisme, yang diajarkan oleh Marcion, mengembangkan ide serupa. Marcion percaya bahwa alam semesta tidak diciptakan oleh Allah yang baik dan sempurna, melainkan oleh “allah kelas dua” yang berada di antara Allah yang sempurna dan dunia material. Dengan demikian, dunia dianggap cacat sejak awal.
Para pemimpin gereja menolak keras pandangan ini. Mereka menegaskan bahwa Allah adalah sumber dari segala sesuatu—baik yang material maupun non-material. Karena Allah adalah baik, maka ciptaan-Nya pun pada mulanya baik. Segala kerusakan yang kita lihat di dunia ini bukan berasal dari Allah, melainkan akibat dosa manusia.
Dengan demikian, ketika kita mengucapkan “Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi”, kita sedang menyatakan bahwa:
- Hanya ada satu Allah yang sejati.
- Dialah Pencipta segala sesuatu.
- Dialah Bapa yang baik, yang menciptakan dunia yang baik bagi kita.
Kesimpulan
Pernyataan iman ini bukan sekadar pengakuan teologis, tetapi juga sebuah deklarasi yang membentuk cara kita memandang dunia. Kita percaya bahwa alam semesta memiliki awal yang diciptakan oleh Allah, dan bahwa ciptaan ini pada dasarnya baik karena berasal dari Bapa yang penuh kasih.
Keyakinan ini membebaskan kita dari pandangan yang pesimis atau fatalis tentang dunia. Ia mengajak kita untuk menghargai ciptaan, memeliharanya, dan menggunakannya sesuai dengan maksud Sang Pencipta. Dan yang terpenting, ia mengarahkan hati kita untuk menyembah Allah yang Mahakuasa, satu-satunya Khalik langit dan bumi.

