Dengan kekuatan sendiri manusia tidak bisa memahami dan menerima wahyu Allah. hal itu disebabkan karena dosa manusia menindas kebenaran dan menggantikan kebenaran ilahi dengan dusta. Alkitab mengatakan dalam Roma 1:18-21 demikian: “Sebab murka Allah nyata dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah mengatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Demikian juga dalam Roma 1:25 mengatakan: “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.”
Selain keberdosaan, iblis juga membutakan mata rohani mereka sehingga mereka tidak dapat melihat cahaya Injil. Hal ini dinyatakan dalam 2 Korintus 4:3-4 demikian: “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.” Manusia tidak mengenal Allah oleh karena hikmat dunia. 1 Korintus mengatakan: “Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.”
Oleh karena itu untuk memahami wahyu Allah, pertama, manusia hanya memahami wahyu Allah hanya melalui anugerah Allah secara langsung melalui pekerjaan Roh Kudus dalam diri seseorang, kebenaran ilahi dapat dipahami. Hal ini didukung pernyataan Alkitab dalam 1 Korintus 2:13-14: “Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.”
Kedua, manusia dapat mengerti kebenaran ilahi jika hal itu dinyatakan secara khusus kepada kita. Matius 11:27 berkata: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.’
Ketiga, manusia dapat mengenal Allah jika mata rohani manusia dibukakan oleh Allah sendiri. Hal ini diajarkan dalam Lukas 24:31 dan 45 yang mengatakan: Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.”

