Orang Kristen seharusnya percaya bahwa Allah adalah Allah yang baik. Meski demikian kita menyadari bahwa kecelakaan bukan sesuatu yang baik dan selalu membawa dampak yang tidak nyaman bahkan berat untuk ditanggung. Lalu bagaimana bisa dari pribadi Allah yang baik bisa muncul sesuatu yang tidak baik? Apakah ketetapan Allah mencakup kecelakaan?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Alkitab memberikan contoh menarik dari kehidupan Ayub. Melalui kesaksian Kitab Ayub dalam pasal 1 dan 2, kita tahu bahwa Ayub adalah seorang yang benar dihadapan Allah. Meski demikian, atas izin Allah dia mengalami berbagai macam kecelakaan dan bencana terjadi di dalam hidupnya. Alkitab juga mencatat bahwa semua penderitaan itu terjadi bukan karena Ayub telah berbuat dosa. Jadi, meskipun Ayub seorang yang benar, saleh, dan berkenan hati Allah, tetapi dalam kehidupannya mengalami berbagai peristiwa yang sangat tidak mengenakkan dan terjadi secara beruntun di dalam hidupnya. Pada kondisi terburuknya, Ayub kehilangan semuanya, baik keluarga dan harta, dan mengalami sakit mengenaskan yang seolah-olah dikutuk Tuhan. Tetapi yang menarik adalah pada saat awal pergumulannya, Ayub mengatakan: ” . . . TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (1:21)
Di bagian berikutnya Ayub merespons pernyataan istrinya, yang berkata: “Kutukilah Allahmu dan matilah!” (2:9). Saat itu Ayub berkata kepada isterinya: “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (2:10). Menurut Ayub, sekalipun ada hal yang buruk dari Allah, Ayub masih bisa mengatakan “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil”. Ayub tidak mengatakan bahwa Tuhan yang memberi dan Iblis yang mengambil, walaupun Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa Iblis berpartisipasi dalam penderitaan Ayub. Iblislah yang mencobai Ayub. Jadi dibalik pernyataan luar biasa tersebut, ada suatu perspektif bahwa sama seperti Allah berdaulat atas berkat, Dia juga berdaulat atas kehilangan. Pada saat Allah memberkati Ayub dan menetapkan Ayub untuk menghadapi ujian imannya. Meski demikian Allah bukan penyebab kemalangan Ayub. Iblislah yang berada di balik semua kemalangan Ayub. Iblislah yang berada di balik semua kecelakaan yang menimpa Ayub.
Alkitab dengan jujur memberitahu kita, kecelakaan itu buruk dan tidak enak. Kecelakaan itu tidak membawa kebaikan, dalam arti secara manusia. Tetapi juga Alkitab mengajarkan kepada kita untuk berpikir dari perspektif yang lebih tinggi, yaitu perspektif Allah. Apapun yang terjadi di dalam hidup kita, termasuk kecelakaan, kita tahu itu terjadi bukan di luar rencana Allah. Jadi, Allah mengontrol segala sesuatu. Allah juga mengontrol peristiwa-peristiwa kecelakaan yang terjadi di dalam hidup kita. Apapun yang terjadi, Allah sanggup bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, bahkan di tengah hal-hal yang terlihat tidak baik bagi kita.
Pada akhir pergumulannya Ayub sanggup berkata: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal.” (42:2). Jadi ketika Ayub melihat kembali kecelakaan maupun bencana yang telah dialami, dia mengatakan, itu semua rencana Allah. Allah mampu melakukan segala sesuatu; tidak ada rencana Tuhan yang gagal. Ayub pernah mengalami penderitaan yang paling hebat, kecelakaan yang paling sulit dijelaskan, tetapi Ayub tetap beriman kepada Allah, karena dia tahu Allah berdaulat atas segala sesuatu.
Photo by Canva

