Dalam Doa Bapa Kami, setelah kita berdoa agar nama Allah dikuduskan dan kerajaan-Nya datang, Tuhan Yesus mengajarkan sebuah permohonan yang sangat penting: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Permohonan ini bukan sekadar kata-kata yang indah, tetapi doa yang menyentuh inti kehidupan rohani kita: kerinduan untuk hidup selaras dengan kehendak Allah. Pertanyaannya, apa yang sesungguhnya Yesus mau ajarkan melalui permohonan ini?
Doa ini menyingkapkan sebuah kenyataan yang mendasar. Di satu sisi, kehendak Allah itu sempurna, baik, berkenan, dan layak ditaati. Namun, di sisi lain, kita manusia memiliki natur yang cenderung menolak dan melawan kehendak-Nya. Karena itu, doa ini bukan sekadar permintaan agar kehendak Allah terjadi, melainkan sebuah pengakuan jujur tentang kelemahan kita sekaligus permohonan agar anugerah Allah memampukan kita untuk taat.
Pertama, permohonan ini mengingatkan kita akan natur manusia yang cenderung tidak taat kepada Allah. Rasul Paulus dalam Roma 7 menggambarkan pergumulan ini dengan sangat jelas. Ia berkata bahwa ia tahu apa yang baik, tetapi sering kali tidak sanggup melakukannya. Ada hukum dosa dalam dirinya yang terus menarik ke arah ketidaktaatan. Paulus, seorang rasul besar, pun jujur mengakui betapa sulitnya untuk taat dengan sempurna. Bagaimana dengan kita? Bukankah kita juga mengalami hal yang sama?
Efesus 2:3 bahkan menegaskan bahwa “secara natur kita adalah anak-anak kemurkaan.” Natur lama kita, yang berdosa, membuat kita condong untuk hidup menurut hawa nafsu dan kedagingan. Sekalipun kita sudah ditebus dalam Kristus dan kuasa dosa telah dipatahkan, kita masih harus berjuang melawan kecenderungan natur lama itu. Doa “jadilah kehendak-Mu” adalah pengakuan jujur bahwa dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak mungkin mampu taat sepenuhnya kepada Allah.
Kedua, permohonan ini adalah seruan untuk memohon anugerah Allah agar kita dimampukan mengetahui, tunduk, dan melakukan kehendak-Nya. Paulus menasihati jemaat di Roma: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Kehendak Allah tidak bisa diketahui hanya dengan logika manusia atau perasaan sesaat. Kita memerlukan pembaharuan budi melalui firman Allah dan karya Roh Kudus.
Mengetahui kehendak Allah saja tidak cukup; kita juga harus tunduk padanya. Tunduk berarti mengakui bahwa kehendak Allah selalu lebih baik daripada kehendak kita. Tidak jarang kita memahami apa yang Allah inginkan, tetapi kita enggan menerimanya karena tidak sesuai dengan rencana atau keinginan pribadi. Permohonan ini melatih kita untuk berkata: “Bapa, bukan kehendakku yang jadi, tetapi kehendak-Mulah yang jadi” (Lukas 22:42).
Lebih dari itu, kita juga dipanggil untuk melakukan kehendak Allah dengan nyata. Banyak orang yang tahu dan bahkan mengakui kehendak Allah, tetapi tetap tidak melakukannya. Ada juga yang melakukan perintah Allah secara formalitas, tanpa hati yang benar. Karena itu, doa ini adalah permintaan agar kita bukan hanya tahu dan tunduk, tetapi sungguh-sungguh hidup melakukan kehendak Allah dengan sukacita.
Ketiga, permohonan ini mengajarkan bahwa ketaatan kita seharusnya meniru ketaatan para malaikat dan penghuni surga. Yesus menambahkan: “di bumi seperti di sorga.” Artinya, doa ini adalah kerinduan agar ketaatan di bumi mencerminkan ketaatan di surga. Bagaimana ketaatan di surga? Nabi Yesaya menggambarkan malaikat yang senantiasa berseru: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yesaya 6:3). Mereka menaati Allah dengan sukacita, spontan, tanpa penundaan, dan tanpa keluhan. Ketika Allah berbicara, mereka menjawab dengan “Amin.”
Kontras sekali dengan bumi. Di bumi, manusia sering menunda, menawar, atau bahkan menolak kehendak Allah. Betapa sering kita merasa lebih tahu daripada Allah, sehingga memilih jalan kita sendiri. Itulah sebabnya Yesus mengajarkan kita berdoa agar bumi belajar menaati Allah seperti surga. Doa ini adalah kerinduan agar ada transformasi: dari bumi yang penuh pemberontakan, menjadi bumi yang diisi dengan ketaatan sukarela kepada kehendak Allah.
Doa ini juga mengajarkan sikap kerendahan hati. Kita tidak berdoa agar kehendak Allah menyesuaikan dengan kita, tetapi agar hidup kita selaras dengan kehendak-Nya. Kita tidak meminta surga menjadi seperti bumi, tetapi agar bumi—dalam seluruh aspek kehidupan manusia—semakin serupa dengan surga dalam hal ketaatan dan hormat kepada Allah.
Pada akhirnya, permohonan ini membawa kita pada sebuah refleksi pribadi: seberapa besar kerinduan kita untuk menaati kehendak Allah? Apakah kita hanya tahu kehendak-Nya, tetapi tidak melakukannya? Apakah kita tunduk sebagian, tetapi masih memilih jalan sendiri di bagian lain hidup kita? Melalui doa ini, kita diajak untuk jujur mengakui kelemahan kita, sekaligus dengan iman memohon agar anugerah Allah memampukan kita.
Setiap kali kita mengucapkan “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”, sesungguhnya kita sedang berdoa agar hati kita semakin serupa dengan hati Kristus—yang taat sampai mati di kayu salib. Kita memohon agar bumi, dimulai dari hidup kita sendiri, menjadi cerminan kecil dari ketaatan surga. Inilah doa yang tidak hanya mengubah dunia di sekitar kita, tetapi terutama mengubah hati kita, dari manusia yang cenderung memberontak menjadi anak-anak yang dengan sukacita taat kepada Bapa di surga.

