Sifat kekekalan Allah (eternity)
Allah tidak memiliki awal dan akhir (Why 1:8; Kel 3:14; Yoh 8:58) serta tidak terikat oleh urutan waktu pada diri-Nya sendiri (Mzm 90:4; 2 Pet 3:8). Meski demikian konsep tentang “waktu” di dalam kekekalan berbeda dengan di dalam sejarah manusia. Hal itu disebabkan karena manusia terbatas pada ruang dan waktu, sehingga sulit membayangkan “waktu” di dalam konteks kekekalan.
Alkitab menggambarkan kekekalan dengan istilah “ketidakberwaktuan”, artinya tidak ada matahari dan bulan sebagai petunjuk waktu. Dalam Wahyu 21:23 Alkitab mengatakan: “Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Demikian juga dalam Wahyu 22:5 mengatakan: “Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” Meskipun dalam Wahyu 20:10 Iblis dihukum “siang malam sampai selama-lamanya” bukan berarti di neraka ada pergantian hari. Hal itu disebabkan penekanan ayat tersebut adalah kekekalan yang nampak dalam frasa “selama-lamanya”.
Walaupun tidak terikat oleh waktu, dalam anugerah dan hikmat-Nya yang tak terselami Allah melihat segala sesuatu dan mengerjakan kehendak-Nya di dalam waktu (Kis 17:30-31; Gal 4:4-5). Hal ini menunjukan bahwa Allah tidak terikat oleh waktu dan berdaulat atas waktu.

