Pengakuan Iman Rasuli adalah salah satu pernyataan iman Kristen yang paling dikenal dan diucapkan oleh gereja-gereja di seluruh dunia. Ia bukan sekadar bagian dari liturgi, melainkan sebuah deklarasi iman yang kaya makna, yang mencerminkan keseimbangan teologis dan spiritual. Memahami sifat Pengakuan Iman Rasuli akan menolong kita mengucapkannya dengan kesadaran penuh, sehingga setiap kata yang keluar dari mulut kita menjadi pernyataan iman yang hidup.
Jika kita menelusuri lebih dalam, ada dua sifat utama yang menonjol dalam Pengakuan Iman Rasuli, yang menunjukkan keseimbangan iman Kristen yang sehat.
Pertama, Pengakuan Iman Rasuli bersifat personal sekaligus komunal. Sifat personal terlihat dari penggunaan kata ganti “aku” dalam rumusannya—“Aku percaya…”. Ini adalah pengakuan iman pribadi, antara kita dengan Allah. Setiap orang percaya mengucapkannya sebagai pernyataan iman yang lahir dari hati, bukan sekadar mengikuti orang lain.
Namun, meskipun kata yang digunakan adalah “aku”, pengakuan ini hampir selalu diucapkan dalam konteks kebersamaan, di tengah jemaat. Beberapa gereja bahkan memulai pembacaan dengan kalimat, “Bersama dengan gereja di segala abad dan tempat…”. Walaupun secara historis tidak semua gereja di setiap abad mengucapkannya, kalimat ini mengingatkan kita akan dimensi komunal dari pengakuan iman ini.
Pengakuan Iman Rasuli adalah warisan iman yang mempersatukan gereja-gereja yang setia pada Injil, menjadi pondasi kesatuan di tengah perbedaan tradisi, budaya, dan latar belakang. Keseimbangan antara iman personal dan komunal ini penting: doktrin iman harus kita terima dan hayati secara pribadi agar memberi dampak nyata dalam hidup kita, namun iman itu juga adalah milik bersama seluruh umat Allah yang mengikat kita dalam satu tubuh Kristus.
Kedua, Pengakuan Iman Rasuli bersifat intelektual sekaligus relasional. Dalam teks aslinya berbahasa Latin, pada bagian yang berbicara tentang Allah Tritunggal digunakan frasa credo in—“aku percaya di dalam”. Misalnya, “Aku percaya kepada Allah Bapa…”, “Aku percaya kepada Yesus Kristus…”, “Aku percaya kepada Roh Kudus…”. Kata “di dalam” ini menunjukkan bahwa iman kita bukan hanya pengakuan intelektual terhadap fakta-fakta teologis, tetapi juga sebuah relasi pribadi dengan Allah.
Dalam bahasa Inggris, ini diterjemahkan sebagai I believe in, yang menekankan unsur kepercayaan yang bersifat relasional, bukan sekadar pengakuan bahwa Allah ada. Namun, iman Kristen juga memiliki dimensi intelektual yang kuat. Keyakinan kita dapat diuji dan diverifikasi secara rasional. Kekristenan mengajarkan kebenaran-kebenaran objektif yang siap diuji oleh siapa pun. Kita perlu tahu apa yang kita percayai dan mengapa kita mempercayainya.
Di sisi lain, kita tidak boleh terjebak dalam intelektualisme yang kering. Kekristenan bukan hanya soal memahami doktrin, tetapi juga soal mengenal Allah secara pribadi. Ketika kita berkata, “Aku percaya kepada Allah”, “Aku percaya kepada Yesus Kristus”, atau “Aku percaya kepada Roh Kudus”, kita sedang menyatakan penyerahan diri dan membangun hubungan kasih yang hidup dengan Allah Tritunggal.
Kedua keseimbangan ini—personal dan komunal, intelektual dan relasional—harus kita sadari setiap kali kita mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli. Kita tidak mengucapkannya hanya karena kebiasaan atau ikut-ikutan, tetapi karena itu adalah pengakuan iman pribadi kita. Dan ketika kita mengucapkannya secara pribadi, kita juga mengingat bahwa kita adalah bagian dari umat Allah yang lebih besar.
Kita meyakini bahwa apa yang kita ucapkan adalah benar, dapat diuji secara rasional dan faktual, dan pada saat yang sama, kita sedang mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah Tritunggal. Dengan memahami sifat Pengakuan Iman Rasuli, kita akan mengucapkannya dengan hati yang penuh kesadaran, pikiran yang memahami kebenaran, dan jiwa yang terhubung erat dengan Allah.
Kesimpulan:
Pengakuan Iman Rasuli adalah pernyataan iman yang mengajarkan kita keseimbangan iman Kristen yang sehat. Ia menggabungkan dimensi personal dan komunal, intelektual dan relasional, sehingga menjadi sarana yang efektif untuk memperkuat iman pribadi sekaligus membangun kesatuan gereja.
Kiranya setiap kali kita mengucapkannya, kita melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah, bersama-sama dengan umat-Nya di seluruh dunia, mengakui iman yang sama, dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Inilah kekuatan dan keindahan sifat Pengakuan Iman Rasuli.

