Injil bersifat kekal dan universal. Kekal, karena sampai kapan pun manusia membutuhkan kebebasan dari belenggu dosa dan keselamatan dari hukuman ilahi. Injil tidak pernah ketinggalan zaman. Universal, karena kebutuhan akan keselamatan berlaku untuk semua orang. Firman Tuhan menegaskan: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).
Namun, pengakuan terhadap kekekalan dan universalitas Injil tidak berarti bahwa penginjilan tidak membutuhkan strategi dan konteks budaya. Pendekatan penginjilan harus disesuaikan dengan orang dan situasi.
Paulus memahami perbedaan ini. Ketika memberitakan Injil kepada orang Yahudi, ia sering mengutip Kitab Suci dan nubuat-nubuat mesianis. Namun, di hadapan orang Yunani, ia memakai pendekatan yang berbeda, menggunakan rasionalitas dan filsafat sebagai jembatan.
Bagaimana Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang di Athena? Dan bagaimana kita bisa menerapkannya dalam konteks kita saat ini?
1. Mengenali Keadaan dengan Cermat (ayat 16-21)
Langkah pertama yang dilakukan Paulus di Athena adalah mengamati keadaan kota. Ia mendapati begitu banyak penyembahan berhala, sehingga “hatinya merasa sedih” (Kisah 17:16, LAI:TB). Kata Yunani paroxynomai sebenarnya lebih kuat, berarti “terprovokasi” (ESV/NASB) atau “tertekan” (RSV/NIV/NLT). Paulus merasa marah dan terganggu melihat keberhalaan yang begitu merajalela.
Namun, alih-alih melampiaskan kemarahan secara emosional, Paulus menyalurkannya dengan bijak melalui dialog dan diskusi (ayat 17, dialegomai). Ia memilih tempat yang strategis, yaitu sinagoge (bagi orang Yahudi) dan pasar (bagi orang Yunani), di mana banyak orang berkumpul dan bertukar ide.
Ketajaman pengamatan Paulus juga terlihat dari pemahamannya terhadap karakteristik orang Athena. Mereka terkenal intelektual dan terbuka terhadap ide-ide baru (ayat 21). Keterbukaan ini menjadi peluang besar sekaligus tantangan dalam penginjilan.
2. Menghargai Keyakinan Orang Lain (ayat 22-23)
Ketika Paulus berbicara di Areopagus, ia tidak langsung menyerang kepercayaan orang Athena. Sebaliknya, ia membuka dengan apresiasi: “Hai orang-orang Athena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa” (ayat 22).
Kata Yunani deisidaimōn bisa berarti “sangat relijius” (positif, RSV/NASB/NIV) atau “percaya takhayul” (negatif, KJV). Paulus tampaknya menggunakan makna positif, menunjukkan bahwa ia menghargai kesungguhan mereka dalam mencari kebenaran.
Pendekatan ini penting dalam penginjilan. Menghormati keyakinan orang lain tidak berarti kita setuju dengan mereka, tetapi kita membangun dialog yang sehat dan terbuka.
Sebagai contoh, Paulus melihat mezbah bagi “allah yang tidak dikenal” (ayat 23). Baginya, ini peluang untuk memperkenalkan Allah yang sejati. Ia berkata, “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang aku beritakan kepadamu” (ayat 23b).
3. Menggunakan Penalaran sebagai Pijakan Bersama (ayat 24-26)
Paulus tidak langsung mengutip Kitab Suci, karena pendengarnya tidak mengenalnya. Sebaliknya, ia memulai dari konsep yang sudah mereka pahami: Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara.
Dua implikasi utama dari konsep ini:
- Allah tidak dapat dibatasi oleh tempat (ayat 24) – Jika Allah adalah Pencipta, maka Dia lebih besar dari kuil dan patung.
- Allah tidak membutuhkan manusia (ayat 25) – Jika Allah adalah Pemelihara, maka Dia tidak bergantung pada ibadah manusia, tetapi manusialah yang membutuhkan Dia.
Pendekatan ini menarik karena pemikiran serupa ada dalam filsafat Yunani. Beberapa pemikir Yunani seperti Heracles dan Euripides juga mengajarkan bahwa Tuhan tidak bergantung pada manusia.
4. Memanfaatkan Ajaran Pihak Lain (ayat 26-29)
Paulus lebih lanjut menegaskan bahwa Allah adalah Pemelihara semua manusia:
- Semua bangsa berasal dari satu orang (ayat 26a) – Menunjukkan bahwa semua manusia setara.
- Allah menentukan musim dan tempat tinggal mereka (ayat 26b) – Menunjukkan kehadiran-Nya dalam sejarah umat manusia.
- Allah dekat dengan manusia (ayat 27) – Sehingga manusia seharusnya mencari dan menemukan-Nya.
Untuk mendukung argumennya, Paulus mengutip pujangga Yunani: “Di dalam Dia kita hidup, kita ada, kita bergerak” (ayat 28). Kutipan ini berasal dari Aratus dan Cleanthes, yang awalnya berbicara tentang Zeus. Namun, Paulus menggunakannya untuk merujuk kepada Allah yang sejati.
Dari sini, Paulus membangun kritik terhadap penyembahan berhala: “Jika kita adalah keturunan Allah, maka Allah pasti lebih besar dari patung atau kuil buatan manusia” (ayat 29). Dengan kata lain, jika manusia memiliki sifat rasional dan spiritual, maka Allah pasti lebih besar daripada benda mati.
5. Menjelaskan Keunikan Kekristenan (ayat 30-31)
Setelah membuktikan bahwa penyembahan berhala salah, Paulus menyatakan tuntutan pertobatan: “Allah tidak lagi membiarkan zaman kebodohan” (ayat 30).
Namun, hanya menghukum manusia tidak cukup. Allah juga menyediakan solusi. Ia mengutus Yesus Kristus, yang mati dan bangkit dari antara orang mati (ayat 31).
Poin kebangkitan tubuh sangat penting. Filsafat Yunani memandang tubuh sebagai sesuatu yang rendah, sehingga kebangkitan dianggap tidak masuk akal. Namun, kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Allah menebus manusia secara utuh, baik roh maupun tubuh.
Kesimpulan: Prinsip Penginjilan Paulus
Dari penginjilan Paulus di Athena, kita belajar beberapa prinsip penting:
- Kenali keadaan dengan cermat – Pelajari budaya, pemikiran, dan situasi audiens sebelum memberitakan Injil.
- Hargai keyakinan orang lain – Bangun dialog dengan sikap hormat, bukan langsung menyerang.
- Gunakan penalaran sebagai jembatan – Mulailah dari konsep yang dapat diterima oleh audiens.
- Manfaatkan ajaran pihak lain – Kutip sumber yang mereka kenal untuk menjelaskan kebenaran.
- Jelaskan keunikan Injil – Tekankan keselamatan melalui Kristus dan kebangkitan-Nya.
Penginjilan bukan sekadar berbicara, tetapi memahami dan menjangkau orang lain dengan strategi yang relevan. Seperti Paulus, kita dipanggil untuk memberitakan Injil dengan bijak, penuh hikmat, dan keberanian.
Sudahkah kita menerapkan strategi penginjilan yang efektif dalam konteks kita?

