Melakukan sesuatu secara rutin tidak selalu berarti dilakukan dengan cara yang benar. Hal ini juga berlaku dalam praktik doa. Banyak orang terbiasa berdoa, tetapi tidak menyadari bahwa mereka melakukannya dengan cara yang salah. Dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mengungkapkan bahwa kesalahan dalam berdoa sering kali terletak pada dua hal utama: motivasi (ayat 5-6) dan konsep (ayat 7-13).
Motivasi yang Benar dalam Berdoa (ayat 5-6)
Contoh pertama dari kesalahan doa diambil dari kebiasaan doa dalam tradisi Yudaisme. Orang Yahudi sangat menekankan pentingnya doa harian yang teratur, umumnya tiga kali sehari (Daniel 6:10; Kisah Para Rasul 3:1). Doa-doa ini dilakukan pada jam-jam tertentu yang telah ditentukan, bahkan ketika seseorang sedang berada di luar rumah atau dalam perjalanan. Rutinitas doa ini sebenarnya tidak keliru. Yang menjadi masalah adalah motivasi di baliknya.
Sebagian orang Yahudi sengaja mengatur waktunya agar saat doa tiba mereka berada di tempat ramai, seperti di rumah ibadat atau di persimpangan jalan, agar bisa dilihat oleh banyak orang. Mereka berdoa bukan karena cinta kepada Allah, tetapi karena ingin dilihat dan dipuji oleh sesama. Doa mereka menjadi semacam pertunjukan rohani. Ini adalah kemunafikan yang nyata, karena sesungguhnya mereka sedang menyembah reputasi, bukan menyembah Allah.
Yesus menyatakan bahwa orang-orang seperti ini telah menerima upahnya, yaitu pujian manusia (ayat 5). Tidak ada lagi yang akan mereka terima dari Allah, karena motivasi mereka bukan mencari wajah Allah, melainkan sorotan manusia.
Sebaliknya, Yesus mengajarkan agar murid-murid-Nya berdoa dalam kesunyian, di kamar yang tertutup rapat (tameion), tempat yang aman dan tidak terjangkau dari pandangan orang. Ini menegaskan pentingnya keintiman dan ketulusan dalam doa. Frasa “yang tersembunyi” muncul dua kali untuk menekankan bahwa doa sejati bukanlah pertunjukan. Allah hadir dan melihat di tempat tersembunyi. Ia tidak membutuhkan panggung untuk bekerja.
Orang yang berdoa dengan motivasi benar akan menerima upah dari Bapa. Bukan karena doanya memaksa Allah, tetapi karena Allah memang ingin memberikan anugerah-Nya kepada anak-anak-Nya yang datang dengan tulus hati. Doa menjadi saluran anugerah, bukan alat untuk memanipulasi Allah.
Konsep yang Benar dalam Berdoa (ayat 7-13)
Selain motivasi yang salah, Yesus juga mengoreksi konsep berdoa yang keliru. Dalam ayat 7, Yesus menyinggung kebiasaan bangsa-bangsa lain yang berdoa dengan bertele-tele (battalogeō). Mereka berpikir bahwa kekuatan doa terletak pada panjangnya kata-kata. Semakin banyak kata, semakin besar kemungkinan doanya dikabulkan.
Namun, doa bukanlah soal kata-kata yang panjang atau rumit. Bertele-tele tidak berarti mengulangi permohonan atau berdoa dalam waktu yang lama, karena Yesus sendiri kadang mengulangi doa dan bahkan berdoa semalam-malaman (Matius 26:39-44; Lukas 6:12). Yang menjadi persoalan adalah anggapan bahwa banyaknya kata-kata dapat mempengaruhi keputusan Allah.
Yesus mengajarkan bahwa doa bukan sekadar menyampaikan informasi kepada Allah. Bapa kita di surga sudah mengetahui apa yang kita butuhkan, bahkan sebelum kita memintanya (ayat 8). Karena itu, doa bukanlah transaksi atau persuasi, tetapi ungkapan kepercayaan dan hubungan dengan Bapa. Yang menentukan bukan formulasi, tetapi relasi.
Untuk itu, Yesus memberikan sebuah teladan doa yang dikenal sebagai Doa Bapa Kami (ayat 9-13). Doa ini lebih dari sekadar teks untuk dihafalkan; ia adalah pola untuk dipahami dan dihayati.
1. Relasi yang Tepat dengan Allah (ayat 9)
Doa dimulai dengan penyebutan “Bapa kami yang di surga”. Ini menyiratkan keseimbangan antara keintiman dan keagungan. Allah adalah Bapa yang dekat, tetapi juga Raja yang bertahta di surga. Sebagai Bapa, Ia peduli dan mengenal anak-anak-Nya secara pribadi. Sebagai Allah yang transenden, Ia layak disembah dan ditaati.
2. Mengutamakan Kepentingan Allah (ayat 9c-10)
Doa yang benar dimulai dengan mencari kehendak dan kemuliaan Allah. “Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu” adalah permohonan agar bumi mencerminkan kemuliaan surga. Ini adalah penyerahan diri yang penuh kepada kehendak ilahi, bukan pemaksaan keinginan pribadi. Sebelum menyebutkan kebutuhan kita, kita diajak untuk mengarahkan hati kepada prioritas Allah.
3. Menyandarkan Hidup kepada Allah (ayat 11-13)
Setelah berfokus pada Allah, barulah kita menyampaikan kebutuhan kita. Pertama, kebutuhan jasmani: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Ini mengajarkan kita untuk hidup bergantung setiap hari kepada penyediaan Allah. Doa ini sangat relevan bagi para buruh harian pada zaman Yesus yang tidak memiliki jaminan penghasilan tetap.
Kedua, kebutuhan rohani: pengampunan. Yesus memakai istilah “hutang” untuk menggambarkan dosa. Kita adalah orang yang berhutang kepada Allah dan kepada sesama. Karena itu, kita perlu mengampuni orang lain seperti kita juga ingin diampuni.
Ketiga, kelepasan dari pencobaan. Kita memohon perlindungan Allah karena kita sadar bahwa kita tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Iblis selalu mencari celah untuk menjatuhkan kita. Hanya dengan penyertaan Allah kita bisa bertahan.
Penutup
Doa bukanlah kewajiban agama semata, melainkan relasi kasih dengan Bapa yang Mahatahu dan Mahapemurah. Doa bukan soal gaya, banyaknya kata, atau tempat, melainkan tentang hati yang haus akan persekutuan dengan Allah.
Mari kita periksa kembali motivasi dan konsep doa kita. Apakah kita berdoa untuk dilihat orang, atau untuk menjalin relasi dengan Bapa? Apakah kita berdoa seolah Allah tidak tahu, atau kita datang dengan keyakinan bahwa Ia sudah tahu dan tetap ingin mendengar kita?
Doa yang benar adalah doa yang lahir dari hati yang mengasihi Allah, mengutamakan kerajaan-Nya, dan bersandar sepenuhnya kepada-Nya.
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:6)

