DOKTRIN ALKITAB

Pelajaran 01 

DOKTRIN ALKITAB

PENGERTIAN ALKITAB

Dalam bahasa Indonesia, Kitab Suci orang Kristen disebut “Alkitab.” Kata ini merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Arab, dari kata sandang ‘Al,” yang berarti “Sang / Itu” (seperti kata sandang “the” dalam bahasa Inggris) dan kata benda ‘Kitab,” yang berarti “buku.” Maka secara teknis bahasa, kata Alkitab dapat diartikan sebagai “Buku Itu” atau “Sang Buku.”

Sedangkan dalam bahasa Inggris, Alkitab disebut dengan “the holy Bible.” Kata “Bible” berasal dari kata Latin “biblia,” atau sama dengan bahasa Yunani Koine yaitu “ta biblia” yang berarti “buku-buku” atau “kitab-kitab.” Namun dalam penggunaannya, kata “Alkitab” atau “Bible” bukanlah sekadar berarti kumpulan kitab-kitab, melainkan mengacu pada Kitab Suci. Seperti orang Yahudi abad ke-2 masehi yang menyebut kitab-kitab dalam Perjanjian Lama sebagai “Kitab Suci” (Ibrani: “Kitvei hakkodesh” dan dalam bahasa Inggris: “Scriptures”); orang Kristen memahami Perjanjian Lama dan Perjanjian baru sebagai Kitab Suci. Menurut F. F. Bruce, dalam tulisannya the Canon of Scriptures, John Chrysostom adalah penulis pertama (dalam Homili mengenai Matius, yang disampaikannya antara tahun 386 dan 388) yang menggunakan frasa Yunani “ta biblia” (“kitab-kitab”) dan kata “Bible” (Latin “Biblia,” dalam bentuk tunggal) untuk mendeskripsikan bersama-sama Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Itulah sebabnya kata “Alkitab” (Bahasa Indonesia) atau “the Holy Bible” (Bahasa Inggris) merujuk pada Kitab-Kitab dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai Sebuah Kitab Suci (dalam bentuk tunggal karena kesatuannya). Jadi, Alkitab adalah Kitab Suci atau firman Allah, yang memberikan kepada kita kebenaran-kebenaran khusus (wahyu khusus) tentang Pribadi Allah dan karya-Nya.

PANDANGAN YANG SALAH MENGENAI ALKITAB

Di dalam sejarah, ada beberapa pandangan yang salah mengenai Alkitab yang harus kita waspadai.

  • Alkitab bukanlah firman Allah. Alkitab dianggap hanya sebagai buku karangan manusia belaka, tidak ada bedanya dengan tulisan-tulisan kuno lainnya.
  • Alkitab berisi firman Allah. Pandangan ini berpendapat bahwa sebagian ayat dalam Alkitab memang adalah firman Allah, tetapi sebagian lainnya tidak.
  • Alkitab menjadi firman Allah. Alkitab bukanlah firman Allah dalam arti sebenarnya, tetapi baru menjadi firman Allah saat pembaca mengalami “perjumpaan ilahi” dengan Allah. Pandangan ini dipopulerkan oleh seorang teolog bernama Karl Barth.
  • Alkitab + Kitab lain adalah firman Allah. Pandangan ini meyakini bahwa Alkitab baru menjadi firman Allah saat Alkitab didampingi atau dijelaskan oleh kitab tambahan. Pandangan ini dipegang oleh beberapa bidat Kristen (misalnya: Mormonisme).
  • Alkitab + Pengalaman adalah firman Allah. Pandangan ini meyakini bahwa Alkitab memang adalah wahyu Allah, tetapi Alkitab bukanlah wahyu Allah yang final, sebab pengalaman seseorang bisa menjadi bentuk baru wahyu Allah.

PANDANGAN YANG BENAR MENGENAI ALKITAB

Bersama dengan orang-orang Kristen di segala masa, kita memiliki landasan yang kuat untuk menyatakan bahwa pandangan di atas adalah salah, dan mempercayai bahwa Alkitab adalah firman Allah. Apa saja landasan itu?

1. Alkitab adalah Firman Allah

Sedari awal, Kekristenan yang benar ternyata menegaskan bahwa Alkitab adalah firman Allah. Mengapa demikian? Ada beberapa hal yang mendukung keyakinan ini:

  • Yesus dan para rasul mengakui Alkitab sebagai firman Allah. Dalam beberapa bagian, Yesus sendiri jelas mengakui Perjanjian Lama sebagai firman Allah (lih. Mat. 5:17-19; 15:4; 22:31; Luk. 4:12; dsb). Para rasul juga mengikuti jejak Yesus dalam mengakui Perjanjian Lama sebagai firman Allah (lih. Luk. 1:70; Kis. 3:18; Rm. 9:25, 28, dsb). Apa yang menarik, para rasul ternyata juga menyebut tulisan-tulisan para rasul (yang sekarang kita kenal sebagai Perjanjian Baru) sebagai Kitab Suci atau firman Allah (lih. 1Tim. 5:18; 2Pet 3:15-16)
  • Alkitab memiliki satu tema yang sama. Alkitab ditulis oleh lebih dari empat puluh penulis. Kebanyakan mereka terpisah oleh rentang waktu yang begitu panjang. Selain itu, para penulis ini memiliki latar belakang, pendidikan, profesi, zaman, budaya, dan minat yang berbeda. Akan tetapi, menariknya orang-orang ini bersaksi tentang satu tema yang sama, yakni karya pemulihan Allah di dalam dan melalui Kristus. Hal ini hanya bisa terjadi bila ada Allah di balik mereka.
  • Ketepatan Nubuatan Alkitab. Dalam banyak bagian, Alkitab kerap menubuatkan sesuatu yang akan terjadi. Apa yang luar biasa, hampir semua nubuatan ini telah digenapi. Nubuatan yang belum digenapi, akan digenapi saat Kristus datang kedua kali.
  • Ketahanan Alkitab. Dalam perjalanan sejarah, Alkitab telah berulang kali dicoba untuk dimusnahkan, termasuk oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan. Akan tetapi, dalam kenyataannya, Alkitab tidak pernah bisa dimusnahkan. Bahkan kini, Alkitab adalah buku terlaris sepanjang masa.
  • Alkitab memiliki kuasa mengubah kehidupan. Alkitab adalah firman Allah yang mampu mengubah hidup manusia. Dalam perjalanan sejarah, ada banyak orang yang diubah hidupnya dan berjumpa dengan Allah melalui Alkitab. Salah satu contoh yang terkenal adalah kisah seorang bapa gereja yang bernama Agustinus. Ini menunjukkan bahwa Alkitab adalah lebih dari sekadar buku biasa.

2. Inspirasi Alkitab

Alkitab bukanlah sebuah buku yang dijatuhkan Allah dari langit. Allah juga tidak mengutus malaikat untuk membisikkan sesuatu pada para rasul/nabi dan kemudian meminta orang lain menuliskannya. Bila demikian, bagaimanakah cara Allah memberikan Alkitab kepada kita? Ada dua ayat yang penting untuk kita pahami di sini, yakni 2Tim. 3:16 dan 2Pet. 1:21.

Secara sederhana, Allah memberikan Alkitab melalui para penulis Alkitab. Akan tetapi, ini tidak berarti Allah mendikte para penulis Alkitab atau menjadikan mereka robot yang menuliskan apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Dari 2 Petrus 1:21, kita belajar bahwa ketika Allah mengilhami penulis Alkitab, la tidak mematikan kebebasan atau kreativitas mereka. Ide yang dikemukakan dalam ayat ini ialah bahwa ketika para penulis menulis Alkitab dengan kemampuan dan kreatifitas mereka, di saat yang sama Roh Kudus menuntun mereka sehingga mereka menulis sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Roh Kudus, termasuk tidak bisa salah (inerrant) dan tidak bisa keliru (infallible) dalam naskah aslinya (bdk. Yoh. 14:16-17, 26; 16:13).

Sementara dari 2 Timotius 3:16, terdapat beberapa hal lain yang bisa kita pelajari mengenai inspirasi Alkitab:

  • Alkitab (“segala tulisan”) bukanlah sekadar buku biasa, sebab Alkitab adalah diilhamkan Allah (kontra “Alkitab bukanlah firman Allah”).
  • Karena seluruh bagian Alkitab (“segala tulisan’) diilhamkan oleh Allah, ini berarti tidak ada bagian yang bukan firman Allah. Seluruh bagian Alkitab adalah firman Allah (kontra “Alkitab berisi firman Allah”).
  • Karena seluruh bagian Alkitab adalah firman Allah, itu berarti statusnya sebagai firman Allah adalah kebenaran yang objektif, tidak ditentukan apakah kita mengalami “perjumpaan ilahi” atau tidak (kontra “Alkitab menjadi firman Allah”).
  • Alkitab bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Kata “bermanfaat” di sini berbicara mengenai kecukupan Alkitab. Ini artinya Alkitab adalah perangkat yang cukup atau sufficient (bukan sempurna) untuk menuntun kepada ajaran dan sikap hidup yang benar, serta akhirnya kepada keselamatan. Konsep ini lazim dikenal sebagai doktrin “Sufficiency of the Bible (kontra “Alkitab + kitab lain adalah firman Allah” dan “Alkitab + pengalaman adalah firman Allah”).

3. Kanonisasi Alkitab

Kata ‘kanon’ dilatarbelakangi oleh sebuah kata Ibrani yang berarti “penggaris atau ukuran.” Dalam Kekristenan, kata ini digunakan untuk merujuk pada daftar kitab yang dianggap berotoritas atau dianggap sebagai firman Allah, dan karenanya layak menjadi standar dalam cara hidup dan berteologi umat Allah.

Mengenai kanon Perjanjian Lama, para sarjana Alkitab meyakini bahwa kanon ini mulai relatif stabil sejak masa Ezra. Dengan kata lain, secara umum bisa dikatakan bahwa kanon Perjanjian Lama pada masa Yesus sudah terbentuk.

Mengenai Kanon Perjanjian Baru, gereja perdana sebenarnya memiliki kesadaran yang kuat tentang mana kitab-kitab yang berotoritas dan mana yang tidak. Kita bahkan memiliki bukti yang kuat bahwa sejak masa yang sangat awal, keempat Kitab Injil dan surat-surat Paulus telah dianggap sebagai Kitab Suci. Pembentukan kanon seperti yang kita miliki hari ini mulai terlihat pada Kanon Muratori (abad 2), dan makin jelas dalam surat Paskah yang dikirimkan oleh Athanasius pada tahun 367. Dalam surat itu, ia mendaftarkan 27 kitab dalam Perjanjian Baru yang kita miliki hari ini sebagai kitab-kitab yang berotoritas. Daftar ini nantinya kembali dipertegas dalam Konsili Hippo yang diadakan pada tahun 397.

Satu catatan penting mengenai kanon ialah bahwa kanon tidak ditentukan atau diciptakan oleh gereja. Kitab-kitab dalam Alkitab sudah berotoritas sejak kitab itu ditulis. Tugas gereja ialah mengenali kanon, maksudnya mengenali mana kitab yang berotoritas dan mana yang bukan. Dalam upaya mengenali kanon itu, ada tiga kriteria yang digunakan gereja:

  • Apostolisitas. Kitab yang berotoritas harus berasal dari para rasul atau lingkaran dekat para rasul.
  • Katolisitas. Kitab yang berotoritas harus diterima oleh seluruh gereja dan bukan hanya oleh satu dua gereja lokal saja.
  • Ortodoksi. Kitab yang berotoritas harus memiliki ajaran yang benar, yang sesuai dan tidak bertentangan dengan ajaran Tuhan Yesus dan para rasul.

Catatan mengenai Apokrifa

Kitab-kitab yang menyusun Perjanjian Lama kita sebenarnya identik dengan kitab-kitab dalam kanon orang Yahudi yang disebut Tanakh (akronim bahasa Ibrani untuk Taurat, Kitab Nabi-nabi, dan Tulisan-tulisan). Kedua kanon ini hanya berbeda pembagian kitab dan susunannya saja. Akan tetapi, berbeda dengan kanon Perjanjian Lama kita, Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks menambahkan beberapa kitab lain sebagai kanon kedua. Gereja Katolik Roma menambahkan sepuluh kitab yang disebut sebagai Deuterokanonika, sementara Gereja Ortodoks menambahkan lima belas sampai dua puluh dua kitab, bergantung pada tradisi gerejanya.

Sebagian dari kitab-kitab itu memang memiliki manfaat, khususnya dalam upaya memahami latar belakang keadaan di masa Perjanjian Baru. Meski demikian, kita memiliki alasan yang kuat untuk tidak mengakui kitab-kitab itu sebagai firman Allah.

  • Orang-orang Yahudi tidak pernah mengakui kitab-kitab tersebut sebagai firman Allah.
  • Tuhan Yesus juga tidak mengakui kitab-kitab itu sebagai firman Allah. Dalam Matius 23:35, Tuhan Yesus berbicara tentang Habel hingga Zakharia. Urutan ini bukan urutan kronologis tetapi urutan kanonis. Habel merupakan orang benar pertama yang dibunuh dalam Kejadian (kitab pertama dalam kanon Tanakh) sementara Zakharia adalah orang benar terakhir yang dibunuh dalam 2 Tawarikh (kitab terakhir dalam kanon tanakh; 24:20-21). Melalui urutan kanonis ini, Tuhan Yesus sedang menegaskan kanon Tanakh atau kanon Perjanjian Lama seperti yang kita miliki hari ini.
  • Kitab-kitab tersebut mengandung kesalahan data sejarah atau geografis. Misalnya Yudith dan 2 Makabe yang menyebut Nebukadnezar disebut sebagai Raja Asyur di Niniwe.
  • Kitab-kitab tersebut mengandung ajaran yang bertentangan dengan ajaran Perjanjian Baru. Misalnya kisah malaikat yang berbohong dalam Tobit atau doa untuk orang mati dalam 2 Makabe.
  • Sikap para bapa gereja tidak seragam terhadap kitab-kitab ini, bahkan kadang berubah-ubah. Ini menunjukkan bahwa gereja tidak pernah secara universal menerima kitab-kitab itu sebagai firman Allah.

PEMBAGIAN ALKITAB

Susunan Kitab-kitab Perjanjian Lama (39 Kitab):

  • Taurat atau Pentateukh (5 kitab): Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan.
  • Kitab Sejarah (12 kitab): Yosua, Hakim-hakim, Ruth, 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-raja, 1 dan 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, Ester.
  • Kitab Puisi (5 kitab): Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkotbah, Kidung Agung.
  • Kitab Nabi Besar (5 kitab): Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, Daniel.
  • Kitab Nabi Kecil (12 kitab): Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.

Susunan kitab-kitab Perjanjian Baru (27 kitab):

  • Injil(4 b): Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas) dan Injil Teologis (Yohanes).
  • Sejarah Kekristenan Perdana: Kisah Para Rasul.
  • Surat-surat Paulus (13 kitab): Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, Titus, Filemon.
  • Surat-surat Umum (8 kitab): Ibrani, Yakobus, 1 dan 2 Petrus, 1, 2, dan 3 Yohanes, Yudas. 
  • Kitab Apokaliptik: Kitab Wahyu

SIKAP YANG BENAR TERHADAP ALKITAB

Karena Alkitab adalah firman Allah, maka ada beberapa sikap yang sudah sepatutnya kita lakukan:

  • Menyadari dan mengakui bahwa Alkitab adalah firman Allah.
  • Menyadari bahwa kesulitan yang kita alami saat membaca Alkitab terjadi bukan karena Alkitab keliru, melainkan karena keterbatasan kita dalam memahami Alkitab.
  • Membaca dan merenungkan Alkitab setiap hari.
  • Menjadikannya sebagai dasar utama mengenal Allah ataupun menguji berbagai ajaran tentang Allah.
  • Menjadikannya sebagai tuntunan bagi kehidupan.

PENUTUP

Sebagai jemaat Tuhan, marilah kita mengenal kebenaran Alkitab adalah firman Allah, sebab melaluinya kita mengerti kebenaran-kebenaran iman Kristen dan sekaligus Alkitab adalah suluh dan terang bagi langkah kehidupan kita.