Pelajaran 02
PENGANTAR
Mengenal doktrin Allah merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan iman orang Kristen, sebab pengenalan tentang diri Allah akan mempengaruhi pengenalaan kita terhadap diri sendiri, dunia ciptaan Allah, maupun relasi kita kepada-Nya. R. C. Sproul pernah berkata bahwa pengenalan seseorang tentang Allah akan mempengaruhi kehidupan praktis maupun doktrin Kristen lainnya. Seperti apakah Allah yang kita kenal? Bagaimana kita dapat mengenal-Nya dengan benar?
Pengenalan yang benar tentang diri Allah dapat kita peroleh melalui penyataan diri-Nya secara khusus (disebut wahyu khusus), yaitu melalui firman-Nya (Alkitab). Sekalipun kita dapat mengenal Allah melalui karya ciptaan-Nya (disebut wahyu umum), namun pengenalan ini bersifat umum dan dapat terdistorsi (lih. Rm. 1:18-32). Karena itu pengenalan yang benar tentang diri Allah bersumber dari Alkitab, firman Allah, dimana Allah telah menyatakan jati diri-Nya dan karya-Nya secara jelas.
KEBERADAAN ALLAH
Sekalipun pada masa kini perdebatan tentang keberadaan Allah menjadi topik yang hangat dikalangan akademisi, antara penganut ateis (yang mengakui Allah itu tidak ada) dengan penganut teis (yang mengakui Allah itu
ada), namun bagi kita, tidak mungkin seseorang mengenal dengan benar jati diri atau keberadaan Allah, tanpa penyataan khusus diri-Nya, yaitu Alkitab.
Alkitab secara tengas menyatakan bahwa Allah itu ada. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kej. 1:1). Penyataan Alkitab ini tidak berusaha membuktikan tentang keberadaan Allah, tetapi memberitahukan bahwa Allah ada atau Allah sudah ada sejak awal mulanya, dan Allah yang ada itulah yang menciptakan alam semesta dan segala sesuatu termasuk kehidupan di bumi ini.
Di sisi lain, sekalipun Alkitab tidak berusaha membuktikan keberadaan Allah, namun adanya ciptaan tersebut secara tidak langsung membuktikan adanya Sang Pencipta yaitu Allah (Mzm. 19:2). Tidak mungkin alam semesta yang tertata serumit dan teratur ini dapat terbentuk dan terjadi secara kebetulan, tanpa dirancang dan dikendalikan oleh satu subyek yang lebih besar, berkuasa, dan penuh hikmat. Karena itu, keberadaan Allah adalah sebuah keharusan bagi adanya keberadaan yang lain (ciptaan).
HAKEKAT ALLAH
Allah itu Roh
Allah bukan terdiri dari komposisi materi dan karena itu tidak dapat dirasakan oleh indera manusia; dilihat oleh mata atau diraba dengan tangan. Dan Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa tidak pernah ada seorang pun yang melihat Allah (Yoh. 1:18).
Allah itu kekal
Meskipun di dalam Alkitab ada tertulis kalimat seperti Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibr.13:8), tetapi perlu dipahami dengan jelas bahwa makna dari kekekalan bukanlah waktu yang tanpa batasan; dari dahulu kala sampai nanti. Kekekalan bukalah time without limitation tetapi timeless. Kekekalan adalah tanpa batasan waktu.
Allah itu memiliki kepribadian
Alkitab menyatakan bahwa Allah itu bukan hanya suatu keberadaan yang misterius tidak berwujud atau suatu kuasa yang maha besar saja. Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah pribadi yang memiliki akal, perasaan, kehendak, nilai estetika, dan konsep moral.
KEMAHAAN ALLAH
Mahahadir
Meskipun ada catatan seperti di dalam Mzm.139:7-12 yang terbaca seolah Allah itu ada dimana-mana, tetapi harus diingat bahwa itu adalah bahasa puisi, cara untuk menggambarkan suatu kebenaran dengan bahasa puitis. Allah maha hadir, bukan berarti Allah hadir dimana-mana, tetapi adalah bahwa Allah itu tidak bisa dibatasi oleh ruang. Tidak ada tempat di mana pun, yang bisa membatasi kehadiranNya.
Mahatahu
Allah memiliki hikmat dan pengetahuan yang sempurna, Allah mengenal diriNya, mengenal ciptaan-Nya, Dia mengetahui segala sesuatu yang terjadi.
Mahakuasa
Allah memiliki kuasa yang sempurna tidak terbatas, bagi-Nya tidak ada yang mustahil untuk dilakukan.
Mahakudus
Allah tidak mempunyai hubungan dengan kejahatan atau dosa, Dia terpisah dari semua itu dan tanpa ada cacat cela. Allah ada dalam kekudusan yang sempurna.
Mahaadil
Istilah “adil” yang dimaksud di sini bukan dalam arti perlakuan sama rata, melainkan istilah yang lebih berkaitan dengan hukum, yaitu bahwa Allah tidak dapat membiarkan kesalahan tanpa hukuman. Allah akan menghukum setiap dosa.
Mahakasih
Allah mengasihi manusia dan ciptaan lainnya. Kasih Allah dinyatakan dalam dua bentuk; kasih yang bersifat umum dalam bentuk pemeliharaan atas mahluk ciptaanNya, dan kasih dalam wujud anugerah yang menyelamatkan.
Mahabaik
Allah menyatakan kebaikan-Nya kepada manusia, sekalipun manusia sudah berdosa kepadaNya. Allah tetap beranugerah, bermurah hati dan penuh belas kasihan kapada manusia.
Catatan Penting:
Kemahaan Allah tidak boleh dipertentangkan dengan sifat atau aspek kemahaan Allah lainnya, semua berjalan harmonis dan selaras dengan diri-Nya
sendiri. Misalnya; ketika membicarakan kemaha-kuasan Allah, tidak berarti bahwa Allah bisa berdosa sebab itu bertentangan dengan sifat dan hakekat diri-Nya sebagai Allah,
NAMA-NAMA ALLAH
Dalam Bahasa Ibrani
Elohim (Kej. 1:1).
Elohim adalah sebutan umum untuk Allah sebagai Pencipta alam semesta, satu-satunya Allah yang agung.
Yahweh (YHWH) / TUHAN
Nama pribadi Allah yang dipakai dalam relasinya dengan manusia, khususnya dalam konteks relasi covenant (ikatan perjanjian). Ini nampak dalam catatan Kej.2 dan seterusnya. Orang Yahudi begitu menghormati kebesaran dan kekudusan nama pribadi Allah sehingga mereka tidak berani menyebut nama itu dengan sembarangan, maka setiap kali Alkitab Perjanjian Lama mencatat nama YHWH, mereka melafalkan kata itu dengan Adonai.
Istilah YHWH dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata “TUHAN.” Nama pribadi Allah ini sering dikaitkan dengan hubungan Allah dengan umat-Nya, dengan menambahkan sebutan di belakangnya.
Yehovah Jireh – Tuhan menyediakan (Kej.22:13-14)
Yehovah Rapha – Tuhan penyembuh (Kel. 15:26)
Yehovah Nissi – Tuhan panji-panji (Kel.17:5-15)
Yehovah Shalom – Tuhan itu keselamatan (Hak.6:24)
Yehovah Ra’ah – Tuhan gembalaku (Mzm.23:1)
Yehovah Tsidkenu – Tuhan keadilanku (Yer.23:6)
Yehovah Sabbaoth – Tuhan semesta alam (1 Sam.1:3)
Yehovah Shamah – Tuhan hadir di situ (Yeh.48:35)
Yehovah Makkaddeshkem – Tuhan yang menguduskan (Kel.31:13)
Sedangkan nama-nama Allah dalam bahasa Ibrani yang menyatakan sifat atau hakekat-Nya adalah:
El Shaddai – Allah maha kuasa (Kej. 17:1; Mzm.91:1)
El Elyon – Allah maha tinggi (Kej. 14:19; Ul.32:8)
El Qodash – Allah maha kudus (Yes.5:16; 40:25)
El Qanno – Allah yang cemburu (Kel.20:5; UI.5:9)
El Roi – Allah maha tahu (Kej. 16:13)
El Neeman – Allah maha setia (Ul.7:9)
El Chai – Allah maha hidup (Yos.3:10)
El Tsur – Allah gunung batu (Mzm.28:1; Yes.44:8)
Dalam Bahasa Yunani
Theos – Elohim dalam bahasa Ibrani. Sering dipakai untuk menyebut Kristus (Yoh. 20:28; Tit.2:13, 3:4). Jadi, Kristus adalah Allah
Kurios
Dalam Perjanjian Baru dipakai kira-kira 600 kali. Dipakai untuk nama Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus (Tit.3:4-6). Jadi, Yesus dan Roh Kudus adalah Tuhan.
ALLAH TRITUNGGAL
Kata “Tritunggal” tidak terdapat dalam Alkitab. Kata ini dipakai pertama kalinya oleh Tertulianus. Dalam teologi Kristen, kata Tritunggal dimengerti sebagai adanya tiga Pribadi kekal yang memiliki kesetaraan dalam satu esensi/hakekat ilahi, yang masing-masing dikenal sebagai pribadi Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Meskipun kata Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab, namun pengertian kata ini terkandung di dalamnya.
Keesaan Allah
Allah adalah satu, tunggal, unik, dan tidak ada bandingannya. Ajaran ini terdapat di dalam seluruh Alkitab dari PL sampai PB (UI.6:4; 32:39; Mzm.86:10; Yes. 44:6; 45:21; 48:12; Yoh. 10:30; Ef.4:6; 1 Tim.2:5). Ajaran keesaan Allah bukan saja menyangkut esensi keilahian Allah, tapi juga dalam pengertian bahwa hakekat-hakekat dan atribut-atribut Allah juga merupakan kesatuan yang tidak terbagi-bagi.
Ketritunggalan Allah Alkitab, Perjanjian Lama dan Baru, menjelaskan secara eksplisit maupun implisit tentang ketritunggalan Allah.
Dalam Perjanjian Lama:
- Pemakaian istilah ‘Elohim, bentuk plural dari kata “EL.” Pemakaian kata ganti jamak – Kej. 1:26; 3:22; Yes.6:8,
- Pemakaian nama Yahweh bagi Malaikat TUHAN Bdk. Ibr.6:13,14. Kej.22:11,12; 15-18;
- Bentuk pengulangan 3 kali pada ayat-ayat tertentu Yes. 6:3. – Bil.6:23-27;
Dalam Perjanjian baru:
- Ada 3 pribadi yang disebut Allah
- Bapa-Matius11:25; 1 Kor.8:6; Ef.4;6, Anak – Yoh. 1:1; Rm.9:5; Yoh.20:28, Roh Kudus – Kis. 5:3,4; 1 Kor.3:16
- Ketiga pribadi Allah adalah setara – Matiuas 28:19; 2 Korintus 13:13.
- Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah tiga pribadi yang berbeda yang berada secara bersama-sama sejak kekal – Yohanes 14:16, 23, 26; 15:26; Matius 3:16,17.
(Ilustrasi tentang Allah Tritunggal)

KARYA ALLAH
Mencipta: Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Kej. 1-2; Yes 45:12)
Memelihara: Allah mengontrol dunia dan sejarah. Tidak ada satu pun yang terlepas dari pengawasanNya (Mzm. 37:23-26)
Mewahyukan: Allah mewahyukan diriNya dan kebenaran-Nya melalui kitab suci yang ditulis oleh pada nabi dan lewat AnakNya Tuhan Yesus Kristus (Ibr.1:1-3).
Menyelamatkan: Pernyataan anugerah Allah yang menyelamatkan orang-orang berdosa lewat karya salib Yesus Kristus (Kej. 3:15; Yes. 12:2; Yoh. 3:16).
Memelihara iman orang percaya: Pekerjaan Allah melalui penyertaan Roh Kudus atas diri orang-orang percaya yang memampukan mereka terus bertekun dalam iman sampai akhir hidup mereka (Yoh. 10:28-29; Fil.1:6).
SIKAP TERHADAP ALLAH
Menyadari betapa beruntungnya seorang manusia bisa memahami halhal tentang Allah, maka pengetahuan tersebut seharusnya diresponi lebih jauh dengan tindakan-tindakan yang lebih jelas dan konkrit:
1. Memiliki hati yang takut dan hormat kepada Allah. Bukan dalam arti ketakutan yang bersifat negatif tetapi lebih pada penekanan rasa hormat kepada Dia yang pantas dihormati.
2. Mengasihi Allah dalam tindakan nyata menyukai dan menaati firmanNya. Di mana ada kasih, di sana ada kerinduan untuk mengenal dan berelasi lebih intim. Kita yang mengasihi Allah, juga akan rindu untuk mengenal dan bergaul dekat dengan Dia lewat firman-Nya.
3. Membangun relasi dua arah dengan Allah. Kita mendengar apa yang Allah ingin katakana kepada kita lewat firman-Nya, dan kita berdoa kepada Allah untuk berdialog dengan Allah, mendekatkan diri dengan Allah setiap hari.
4. Memperkenan Allah dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jika kita hidup dalam relasi yang intim dengan Dia, maka yang seharusnya muncul
dalam hati kita adalah keinginan untuk menyenangkan Dia yang begitu mengasihi kita.
5. Menikmati relasi anugerah ini seumur hidup. Kita bisa menjadi anakanak-Nya, adalah karena anugerah. Kita hidup dalam relasi anugerah dengan Allah lewat karya penebusan Yesus Kristus yang telah menebus kita dan yang telah menjadikan kita anak-Nya. Hiduplah senantiasa dalam relasi anugerah yang luar biasa ini.
PENUTUP
Marilah kita bertumbuh dalam iman dan pengharapan kita kepada Tuhan Allah kita. Sebagai umat-Nya sudah sepatutnya bagi kita semakin mengenal Dia dengan benar, mengasihi Dia, dan hidup bagi kemuliaan-Nya. Soli Deo Gloria.
