Jabatan-jabatan Yesus Sebagai Penebus

Yesus Kristus, sebagai Penebus dunia, mengemban tiga jabatan utama yang telah dikenal secara tradisional dalam teologi Kristen, yaitu sebagai Nabi, Imam, dan Raja. Ketiga jabatan ini bukan hanya menunjukkan berbagai aspek pelayanan-Nya, tetapi juga menegaskan bagaimana Dia memenuhi seluruh kebutuhan manusia dalam relasi mereka dengan Allah. Berikut masing-masing jabatan ini dan bagaimana Yesus menggenapinya dengan sempurna.

1. Jabatan Sebagai Nabi

Sebagai Nabi, Yesus Kristus adalah Penebus yang menyatakan siapa Allah dan apa kehendak-Nya bagi manusia. Dalam Yohanes 1:18 dikatakan, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Ini berarti bahwa Yesus, sebagai Pribadi Kedua dalam Tritunggal, datang untuk memperkenalkan Bapa kepada umat manusia. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah secara langsung, tetapi Yesus, dalam keberadaan-Nya sebagai Allah dan manusia, menyatakan Allah dengan sempurna.

Dalam Yohanes 14:9, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Ini menegaskan bahwa dalam pribadi Yesus, kita melihat sepenuhnya sifat dan karakter Allah. Selain menyatakan siapa Allah, Yesus juga mengungkapkan kehendak Allah bagi manusia. Yohanes 15:15 mengatakan, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Sebagai seorang Nabi, Yesus bukan hanya menyampaikan firman Allah, tetapi juga memperkenalkan kehendak-Nya secara penuh kepada umat manusia. Hal ini selaras dengan tugas para nabi di Perjanjian Lama yang bertindak sebagai perantara antara Allah dan umat-Nya.

2. Jabatan Sebagai Imam

Sebagai Imam, Yesus memiliki dua tugas utama: mempersembahkan korban kepada Allah dan berdoa syafaat bagi umat-Nya. Dalam Ibrani 9:28 disebutkan, “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Dalam Perjanjian Lama, para imam harus mempersembahkan korban secara terus-menerus karena korban mereka tidak sempurna. Mereka juga harus mempersembahkan korban bagi diri mereka sendiri karena mereka juga adalah manusia berdosa.

Namun, Yesus sebagai Imam Besar yang sempurna tidak perlu mempersembahkan korban untuk diri-Nya sendiri. Dia juga tidak perlu mengulangi pengorbanan-Nya, karena korban-Nya sempurna dan berlaku untuk selamanya. Efesus 5:2 menyatakan bahwa korban Kristus adalah “bau yang harum di hadapan Allah.” Tidak ada korban lain yang dapat menandingi pengorbanan-Nya di kayu salib.

Selain mempersembahkan korban, Yesus juga bertindak sebagai Pendoa Syafaat bagi umat-Nya. Dalam Yohanes 17, kita melihat bagaimana Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya dan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Roma 8:34 menyebutkan bahwa Kristus yang sekarang duduk di sebelah kanan Allah adalah “Pembela kita” atau dalam banyak terjemahan bahasa Inggris, “Pendoa Syafaat kita.” Ini berarti bahwa Yesus terus-menerus menjadi perantara antara kita dan Allah, sama seperti para imam di Perjanjian Lama yang berdoa bagi bangsa Israel. Namun, Yesus sebagai Imam membawa korban yang sempurna, yaitu diri-Nya sendiri, dan terus berdoa untuk kita agar kita tetap teguh dalam iman.

3. Jabatan Sebagai Raja

Sebagai Raja, Yesus memiliki kuasa atas segala sesuatu. Ia tidak hanya memerintah atas gereja-Nya, tetapi juga atas seluruh dunia. Salah satu ayat Perjanjian Lama yang paling sering dikutip dalam Perjanjian Baru adalah Mazmur 110:1: “Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.” Ayat ini berbicara tentang Mesias yang berkuasa bersama YHWH, yang dalam Perjanjian Baru dijelaskan sebagai Kristus yang kini duduk di sebelah kanan Allah.

Dalam 1 Korintus 15:25-26 dikatakan bahwa “Kristus harus menjadi Raja sampai segala sesuatu ditaklukkan di bawah kaki-Nya.” Ini menunjukkan bahwa pemerintahan Kristus tidak hanya terbatas pada dunia rohani, tetapi juga mencakup segala sesuatu dalam alam semesta. Dia adalah Raja atas segala raja, dan tidak ada kuasa lain yang dapat menandingi-Nya.

Sebagai Raja, Yesus memerintah dengan kasih dan keadilan. Ia bukan raja yang otoriter atau menindas, tetapi Raja yang membawa damai dan keselamatan bagi umat-Nya. Pemerintahan-Nya tidak akan pernah berakhir, dan kita yang percaya kepada-Nya akan menikmati pemerintahan-Nya dalam kekekalan.

Kesimpulan

Ketiga jabatan Yesus sebagai Nabi, Imam, dan Raja merupakan aspek yang tak terpisahkan dalam karya penebusan-Nya. Sebagai Nabi, Ia menyatakan siapa Allah dan kehendak-Nya bagi manusia. Sebagai Imam, Ia mempersembahkan korban yang sempurna dan terus-menerus berdoa bagi kita. Sebagai Raja, Ia memerintah dengan kuasa dan keadilan atas segala sesuatu. Ketiga jabatan ini menjadi dasar penghiburan dan kepastian bagi kita sebagai orang percaya. Kita memiliki Tuhan yang tidak hanya berkuasa, tetapi juga mengasihi dan menebus kita dengan sempurna. Kiranya pemahaman ini semakin memperkuat iman kita dan menumbuhkan rasa syukur atas karya keselamatan yang luar biasa ini. Amin.