Kasih merupakan inti dan puncak dari seluruh hukum moral Allah. Dalam bagian ini, Rasul Paulus menegaskan bahwa kasih bukan hanya sebuah emosi atau tindakan sosial, melainkan sebuah kewajiban spiritual yang bersumber dari anugerah Allah dan diwujudkan melalui ketaatan yang sejati. Roma 13:8–10 menyajikan pemahaman yang mendalam tentang kasih sebagai “hutang yang tidak pernah lunas” dan sebagai “penggenapan hukum Taurat.” Melalui teks ini, Paulus menuntun jemaat untuk memahami kasih bukan hanya sebagai etika sosial, tetapi sebagai ekspresi nyata dari kehidupan baru di dalam Kristus.
“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi; sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.”
— Roma 13:8
Kata agapē (ἀγάπη) muncul lebih dari 100 kali dalam Perjanjian Baru, tetapi dalam Roma 13:8–10, Paulus menggunakannya secara unik untuk menegaskan kasih sebagai bentuk ketaatan yang aktif. Dalam konteks ini, kasih bukanlah sekadar perasaan (pathos), melainkan tindakan moral (praxis) yang bersumber dari karakter Allah sendiri.
Kasih seperti ini tidak mungkin muncul dari natur manusia yang berdosa. Hanya mereka yang telah “dilahirkan dari Roh” (Yohanes 3:6) yang mampu mengasihi dengan kasih agapē. Roh Kuduslah yang menulis hukum kasih ini di hati umat-Nya, sebagaimana dinubuatkan dalam Yeremia 31:33, “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.”
Dengan demikian, kasih menjadi bukti transformasi rohani. Ia bukan hasil usaha manusia, melainkan buah dari hidup yang telah dipenuhi Roh (Galatia 5:22).
1. Kasih Sebagai Hutang Kepada Sesama (Roma 13:8a)
Paulus membuka nasihatnya dengan kalimat yang tajam: “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.” Dalam bahasa Yunani, teks ini berbunyi: Mēdeni mēden ophielete ei mē to allēlous agapan (Μηδενὶ μηδὲν ὀφείλετε εἰ μὴ τὸ ἀλλήλους ἀγαπᾶν), yang secara harfiah berarti “Janganlah kamu berhutang apa pun kepada siapa pun, kecuali untuk saling mengasihi.”
Kata kunci di sini adalah opheilō (ὀφείλω), yang berarti “berhutang,” “berkewajiban,” atau “memiliki tanggungan moral.” Istilah ini sering digunakan Paulus untuk menegaskan tanggung jawab spiritual yang harus dijalankan oleh orang percaya (bdk. Roma 1:14; 8:12). Jadi, ketika Paulus menyebut kasih sebagai “hutang,” ia tidak sedang menekankan aspek finansial, tetapi aspek moral dan spiritual: kasih adalah kewajiban permanen yang harus terus dibayar, karena kita tidak akan pernah selesai membayar kasih kepada sesama.
a. Makna Metafora “Hutang” dalam Konteks Paulus
Dalam budaya Yunani-Romawi, hutang (opheilē) melibatkan dua unsur: kewajiban untuk membayar dan rasa tanggung jawab untuk menepatinya. Paulus memanfaatkan metafora ini untuk menunjukkan bahwa kasih bukan tindakan sukarela atau tambahan moral, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas orang Kristen. Kasih bukan pilihan, tetapi panggilan.
Namun, metafora ini tidak mengandung nuansa keterpaksaan. Bagi Paulus, kewajiban rohani bukanlah beban, tetapi kehormatan. Sama seperti seseorang yang bermartabat akan merasa terhormat ketika melunasi hutangnya, demikian pula orang Kristen sejati mengasihi bukan karena tekanan, melainkan karena kesadaran akan kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi dia (1 Yohanes 4:19).
b. Kasih yang Tidak Mengharap Balas
Konsep hutang juga menyiratkan bahwa kasih sejati tidak mencari imbalan. Membayar hutang tidak pernah dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian, ketika kita mengasihi sesama, kita tidak sedang “memiutangi” mereka, melainkan “melunasi” apa yang memang menjadi kewajiban kita di hadapan Allah.
Kasih yang Alkitabiah selalu mengalir dari kasih Allah yang telah dicurahkan ke dalam hati orang percaya oleh Roh Kudus (agapē tou Theou ekkechytai en tais kardiais hēmōn dia pneumatos hagiou tou dothentos hēmin – Roma 5:5). Kasih ini bersifat agapē (ἀγάπη): kasih yang memberi tanpa pamrih, kasih yang bertindak demi kebaikan orang lain bahkan ketika tidak pantas.
c. Dimensi Teologis dari “Hutang Kasih”
Ketika Paulus menyebut kasih sebagai hutang, ia sebenarnya sedang mengingatkan jemaat bahwa mereka sendiri telah terlebih dahulu “dilunasi” oleh kasih Allah. Kristus telah menanggung seluruh “hutang dosa” manusia di kayu salib (Kolose 2:14). Maka, orang percaya tidak lagi berhutang kepada dosa, tetapi kepada kasih. Kewajiban untuk mengasihi lahir dari pengenalan bahwa kita telah diampuni dan ditebus oleh kasih yang sempurna.
2. Kasih Sebagai Penggenapan Hukum Taurat (Roma 13:8b–10)
Setelah menjelaskan kasih sebagai hutang moral, Paulus melanjutkan dengan pernyataan yang tegas: “Barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.” Kata yang digunakan untuk “memenuhi” adalah plēroō (πληρόω), yang berarti “menggenapi,” “melengkapi,” atau “memenuhi secara utuh.”
Dengan kata lain, kasih bukanlah pengganti hukum Taurat, melainkan penggenapan dari hukum itu. Kasih adalah inti dan puncak dari semua perintah Allah. Paulus menulis:
“Sebab firman ini: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini, dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
— Roma 13:9
a. Kasih Sebagai Prinsip yang Merangkum Taurat
Kata “tersimpul” di sini berasal dari anakephalaioutai (ἀνακεφαλαιοῦται), yang berarti “dirangkum di bawah satu kepala,” atau “disatukan di bawah satu prinsip.” Paulus menegaskan bahwa seluruh hukum moral Perjanjian Lama, yang tertuang dalam Dasa Titah, dapat dirangkum dalam satu hukum: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Imamat 19:18).
Dengan demikian, kasih bukan sekadar salah satu perintah di antara banyak perintah, tetapi fondasi yang menopang semuanya. Tanpa kasih, ketaatan hanyalah formalitas. Dengan kasih, ketaatan menjadi ibadah sejati.
b. Kasih Tidak Meniadakan Taurat, Melainkan Menggenapinya
Sebagian orang Kristen, sejak abad pertama hingga kini, salah memahami ajaran Paulus dan menganggap kasih menggantikan hukum Taurat. Pandangan seperti ini melahirkan dua bentuk ekstrem:
- Antinomianisme, yaitu ajaran yang menolak hukum moral dengan alasan sudah bebas di dalam Kristus (Roma 6:1–2).
- Hyper-Grace, yaitu pandangan yang menekankan kasih karunia secara berlebihan hingga mengabaikan tuntutan etis dari iman.
Namun, Paulus menolak kedua ekstrem tersebut. Ia tidak pernah mengajarkan bahwa kasih membatalkan Taurat, melainkan bahwa kasih menggenapi Taurat. Kristus sendiri berkata, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17).
Kasih Kristus di kayu salib memenuhi seluruh tuntutan hukum, dan Roh Kudus kini memampukan orang percaya untuk hidup dalam hukum kasih itu (Roma 8:3–4).
c. Kasih dan Etika Kristen
Paulus menegaskan, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia; karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10). Kata “berbuat jahat” diterjemahkan dari kakourgei (κακοῦργεῖ), yang berarti “melakukan hal yang mencelakakan.” Kasih sejati tidak pernah menimbulkan luka atau ketidakadilan, sebab kasih berfungsi sebagai batas moral bagi setiap tindakan.
Inilah yang membedakan kasih Kristen dari etika situasional modern. Etika situasi menganggap kasih sebagai kriteria tunggal untuk menentukan benar dan salah, terlepas dari norma moral. Namun, bagi Paulus, kasih tidak pernah bertentangan dengan hukum moral Allah. Kasih dan kebenaran berjalan seiring. Kasih tanpa kebenaran berubah menjadi permisif; kebenaran tanpa kasih menjadi kejam.
3. Kasih Sebagai Kehidupan Baru dalam Kristus
Paulus menempatkan kasih sebagai ciri utama dari umat Allah yang telah ditebus. Di dunia yang penuh persaingan, dendam, dan kebencian, kasih menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah. Kasih tidak pernah berhenti; ia terus membayar “hutang” yang tidak akan lunas selama kita masih hidup di dunia ini.
Kasih menuntun orang percaya untuk hidup bukan bagi diri sendiri, melainkan bagi orang lain. Kasih membuat kita menghormati pemerintah (Roma 13:7), menolong yang lemah (Roma 15:1), dan bahkan mengasihi musuh (Matius 5:44). Semua tindakan ini bukan bentuk moralitas humanis, tetapi ekspresi kasih Allah yang hidup di dalam kita.
Kesimpulan
Roma 13:8–10 menegaskan dua kebenaran besar tentang kasih:
- Kasih adalah hutang yang tidak pernah lunas. Orang Kristen tidak akan pernah selesai mengasihi, sebab kasih adalah kewajiban yang lahir dari kasih Allah sendiri.
- Kasih adalah penggenapan hukum Taurat. Kasih tidak meniadakan perintah Allah, melainkan menggenapinya dengan sempurna melalui ketaatan yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam hati.
Kasih bukan sekadar perintah etis, melainkan kehidupan baru yang ditanamkan oleh Allah melalui karya penebusan Kristus. Dengan mengasihi, kita bukan sedang melakukan kewajiban moral, tetapi sedang mencerminkan karakter Allah sendiri.
“Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia; karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”
— Roma 13:10

