Keintiman adalah salah satu indikasi penting bagi sebuah pernikahan yang sehat. Dalam hubungan suami-istri, ada tiga area keintiman yang perlu dipupuk secara aktif: keintiman spiritual, emosional, dan seksual. Ketiganya berbeda dalam manifestasinya, namun tidak dapat dipisahkan karena saling memengaruhi. Dalam pembahasan ini, fokus akan diberikan pada keintiman spiritual, yang menjadi dasar bagi hubungan yang lebih mendalam dan harmonis.
Pentingnya Keintiman Spiritual
Bertumbuh secara rohani menuju kedewasaan di dalam Kristus adalah mandat bagi semua orang percaya (Roma 8:29; Efesus 4:15-16). Dalam konteks pernikahan, keintiman spiritual antara suami dan istri memerlukan perhatian khusus. Hubungan spiritual yang erat dengan Allah akan memperkuat hubungan mereka satu sama lain.
Keintiman spiritual dapat diibaratkan sebagai segitiga sama sisi, di mana Allah berada di puncaknya, sementara suami dan istri berada di dua sudut bawah. Ketika keduanya bertumbuh secara spiritual ke arah Allah, jarak antara mereka juga akan semakin dekat.
Sebaliknya, jika salah satu pasangan tidak bertumbuh secara rohani, hal itu dapat menghambat pertumbuhan pasangannya. Contoh-contoh dalam Alkitab menunjukkan bagaimana ketidakrohanian seorang pasangan dapat membawa dampak negatif, seperti Sara yang tidak percaya (Kejadian 15:1-6), istri-istri Salomo yang menyesatkannya (1 Raja-raja 11:3-4), dan Ananias-Safira yang bersekongkol dalam dosa (Kisah Para Rasul 5). Sebaliknya, pasangan yang rohani dapat menjadi pendukung yang kuat, seperti Abigael yang bijaksana (1 Samuel 25:1, 38-39) atau Priskila dan Akwila yang saling mendukung dalam pelayanan (Kisah Para Rasul 18:18, 26).
Konsep Kerohanian yang Benar
Banyak orang memandang kerohanian hanya sebagai aktivitas ritual seperti ibadah di gereja atau saat teduh. Meskipun hal-hal tersebut penting, spiritualitas sejati jauh melampaui ritual. Kerohanian berbicara tentang cara hidup yang sepenuhnya berpusat pada Allah (theosentris) dan Kristus (Kristosentris).
1. Theosentris: Hidup Berpusat pada Allah
Rasul Paulus mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus dilakukan untuk memuliakan Allah (1 Korintus 10:31; Kolose 3:22-23). Spiritualitas sejati terlihat dalam setiap aspek kehidupan, termasuk aktivitas yang tampaknya sekuler, seperti bekerja, bermain dengan anak-anak, atau bahkan beristirahat. Semua tindakan tersebut dapat menjadi bentuk ibadah jika dilakukan dengan kesadaran akan kehadiran Allah.
2. Kristosentris: Berakar pada Kristus
Spiritualitas Kristen tidak dapat dipisahkan dari Kristus. Tidak ada kerohanian tanpa perjumpaan pribadi dengan Kristus, yang mengubah hati manusia (Yohanes 3:3, 5). Melalui pengorbanan-Nya, Kristus menyelesaikan persoalan dosa yang menjadi penghalang utama dalam kehidupan rohani manusia (1 Korintus 15:56-57). Oleh karena itu, kerohanian adalah proses meneladani Kristus dalam segala hal (Matius 11:28-30; Roma 8:29; 2 Korintus 3:18).
Membina Keintiman Spiritual
Keintiman spiritual dalam pernikahan dapat dibangun melalui berbagai cara praktis yang mendalam:
1. Membawa Perspektif Rohani ke dalam Hal-Hal Sehari-Hari
Pasangan dapat membahas hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari dari sudut pandang rohani. Misalnya, bagaimana pandangan Alkitab tentang pekerjaan, waktu istirahat, atau rekreasi? Pembicaraan semacam ini membantu pasangan untuk terus mengingat bahwa Allah hadir dalam setiap aspek kehidupan mereka.
2. Membahas Hal-Hal Rohani di Tempat yang Tidak Terduga
Pembicaraan rohani tidak harus terbatas pada gereja atau saat teduh di rumah. Pasangan dapat berbicara tentang khotbah, teks Alkitab, atau pengalaman rohani saat dalam perjalanan, saat makan bersama, atau bahkan saat menonton TV. Dengan cara ini, spiritualitas menjadi bagian alami dari kehidupan mereka.
3. Membiasakan Pola Pikir Theosentris
Pasangan harus berusaha untuk selalu memikirkan Allah dalam segala sesuatu. Tidak ada keputusan atau tindakan yang terlalu kecil untuk dikaitkan dengan kehendak Allah. Hal ini akan melatih mereka untuk hidup dalam kesadaran penuh akan kehadiran-Nya.
4. Membangun Disiplin Rohani Bersama
Suami dan istri dapat membuat jadwal rutin untuk doa bersama, membaca Alkitab, atau beribadah. Kebiasaan ini tidak hanya memperkuat hubungan mereka dengan Allah, tetapi juga menciptakan keintiman yang lebih erat di antara mereka.
5. Menjadi Mitra dan Mentor Rohani
Pasangan dapat saling menjadi mitra spiritual dengan saling memberikan dukungan, kritik membangun, dan nasihat. Dengan kerendahan hati, mereka dapat saling membantu untuk tetap berada di jalur pertumbuhan rohani. Misalnya, pasangan dapat melakukan “pemeriksaan kerohanian” (spiritual check-up) secara berkala untuk mengevaluasi kehidupan rohani mereka.
6. Mengikuti Seminar dan Kelompok Pertumbuhan
Pasangan dapat berpartisipasi dalam ceramah, seminar, atau retret yang berfokus pada pertumbuhan rohani dan pernikahan. Interaksi dengan pasangan lain dalam kelompok seperti ini dapat memberikan wawasan baru dan motivasi untuk terus bertumbuh.
Kesimpulan
Keintiman spiritual adalah dasar yang kokoh bagi hubungan suami-istri. Ketika pasangan bertumbuh bersama dalam hubungan mereka dengan Allah, mereka juga akan semakin dekat satu sama lain. Hal ini bukan hanya meningkatkan keharmonisan dalam pernikahan, tetapi juga membawa sukacita dan damai sejahtera yang sejati.
Untuk mencapai keintiman spiritual, pasangan perlu menjadikan Allah sebagai pusat dari segala aktivitas dan keputusan mereka. Dengan hidup secara theosentris dan Kristosentris, serta menerapkan kebiasaan-kebiasaan rohani yang praktis, pasangan dapat membangun hubungan yang tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang dalam kasih dan iman.

