Pendahuluan
Kejadian 1:20–31 merupakan bagian klimaks dalam narasi penciptaan. Setelah Allah menata terang dan gelap, cakrawala, laut, darat, tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda penerang di langit, kini karya penciptaan bergerak menuju pengisian ruang kehidupan. Pada hari kelima, Allah memenuhi laut dan udara dengan berbagai makhluk hidup. Pada hari keenam, Allah menciptakan binatang darat dan manusia sebagai puncak dari seluruh karya penciptaan.
Bagian ini sangat penting karena memperlihatkan dua tema besar dalam teologi penciptaan, yaitu kehidupan dan mandat. Allah bukan hanya menciptakan dunia yang tertata, tetapi juga memenuhi dunia itu dengan kehidupan. Lebih dari itu, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya serta memberikan mandat untuk berkuasa atas ciptaan. Dengan demikian, Kejadian 1:20–31 tidak hanya berbicara tentang asal-usul makhluk hidup, tetapi juga menjelaskan identitas manusia, tanggung jawab manusia, serta kebaikan ciptaan secara menyeluruh.
Narasi ini juga memiliki dimensi polemis terhadap pandangan dunia kuno. Dalam berbagai mitologi kuno, laut, binatang besar, burung, langit, kesuburan, dan manusia sering dikaitkan dengan dewa-dewa tertentu. Namun, Kejadian 1 menegaskan bahwa semua makhluk hidup adalah ciptaan Allah. Tidak ada makhluk yang layak disembah. Semua berada di bawah otoritas Allah dan diciptakan untuk menjalankan fungsi sesuai kehendak-Nya.
Hari Kelima: Kehidupan di Laut dan Udara
Pada hari kelima, Allah berfirman agar air dipenuhi oleh makhluk hidup dan agar burung-burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala. Tindakan ini melanjutkan pola penciptaan yang telah terlihat sebelumnya. Jika pada hari kedua Allah menciptakan cakrawala dan memisahkan air di atas dari air di bawah, maka pada hari kelima Allah mengisi wilayah tersebut dengan makhluk hidup. Laut dipenuhi dengan binatang air, sedangkan udara dipenuhi dengan makhluk yang terbang.
Hal penting dalam hari kelima adalah munculnya istilah “makhluk hidup”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menciptakan benda atau ruang, tetapi juga kehidupan yang bergerak, berkembang, dan memiliki keberlangsungan. Kehidupan bukan hasil kebetulan, melainkan karya Allah yang berdaulat. Allah menciptakan makhluk-makhluk itu melalui firman-Nya, sehingga kehidupan dipahami sebagai pemberian Allah.
Pada bagian ini, kata “berkat” juga muncul untuk pertama kalinya dalam Alkitab. Allah memberkati makhluk hidup itu dan memerintahkan mereka untuk berkembang biak, bertambah banyak, serta memenuhi air dan udara. Berkat dalam konteks ini berkaitan erat dengan kelangsungan hidup. Allah bukan hanya menciptakan makhluk hidup, tetapi juga menjamin keberlanjutan hidup mereka melalui kemampuan berkembang biak.
Binatang Laut dan Kuasa Allah atas yang Ditakuti
Kejadian 1:21 menyebut bahwa Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak di dalam air. Dalam dunia kuno, laut sering dipandang sebagai wilayah yang menakutkan. Binatang laut besar kerap dikaitkan dengan monster, naga, atau kekuatan kosmis yang dianggap berbahaya. Berbagai mitos menggambarkan laut sebagai tempat kuasa jahat atau makhluk raksasa yang menandingi para dewa.
Namun, Kejadian 1 memberikan penjelasan yang berbeda. Binatang laut yang besar bukanlah kuasa ilahi, bukan musuh Allah, dan bukan objek penyembahan. Mereka adalah ciptaan Allah. Bahkan, Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Dengan demikian, sesuatu yang ditakuti oleh bangsa-bangsa kuno ditempatkan oleh Alkitab dalam posisi yang benar: hanya sebagai ciptaan yang berada di bawah otoritas Allah.
Pesan ini sangat penting secara teologis. Allah tidak berperang melawan laut atau makhluk laut untuk menciptakan dunia. Ia cukup berfirman, dan makhluk-makhluk itu ada. Laut dan semua isinya tidak memiliki kuasa mandiri di luar Allah. Dalam perspektif iman, hal ini meneguhkan bahwa tidak ada kekuatan alam, sebesar atau semenakutkan apa pun, yang dapat menandingi kedaulatan Allah.
Makhluk yang Terbang di Udara
Selain binatang laut, Allah juga menciptakan makhluk yang terbang. Istilah yang sering diterjemahkan sebagai burung dalam Kejadian 1 sebenarnya dapat mencakup makhluk terbang secara lebih luas. Artinya, bagian ini tidak hanya menunjuk pada burung dalam pengertian sempit, tetapi juga dapat mencakup berbagai makhluk bersayap yang hidup di udara.
Penciptaan makhluk terbang memperlihatkan bahwa Allah berkuasa atas langit dan seluruh isinya. Dalam kehidupan bangsa Israel, makhluk bersayap memiliki makna yang tidak kecil. Allah pernah memakai burung untuk memelihara umat-Nya di padang gurun. Di sisi lain, Allah juga dapat memakai serangga seperti belalang sebagai alat hukuman. Semua ini menunjukkan bahwa makhluk-makhluk kecil maupun besar tetap berada di bawah pemerintahan Allah.
Dengan demikian, manusia tidak boleh menyembah makhluk apa pun, baik yang hidup di laut, di darat, maupun di udara. Kekaguman terhadap ciptaan harus mengarahkan manusia kepada Sang Pencipta, bukan kepada ciptaan itu sendiri.
“Menurut Jenisnya” dan Keteraturan Kehidupan
Ungkapan “menurut jenisnya” muncul kembali dalam penciptaan makhluk hidup. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan kehidupan dalam keteraturan. Setiap makhluk memiliki pola perkembangan sesuai batas yang ditetapkan Allah. Ikan berkembang dalam kategorinya, burung dalam kategorinya, dan makhluk hidup lain dalam tatanan yang telah Allah tetapkan.
Makna “menurut jenisnya” tidak perlu dipahami secara kaku menurut klasifikasi ilmiah modern. Yang ditekankan dalam teks adalah keteraturan penciptaan. Allah bukan hanya menghadirkan kehidupan, tetapi juga mengatur keberlangsungan hidup itu dengan pola tertentu. Setiap makhluk hidup berkembang bukan karena kekuatan mandiri, melainkan karena berkat dan ketetapan Allah.
Keteraturan ini penting karena menunjukkan bahwa dunia ciptaan bukan ruang yang kacau. Kehidupan berlangsung dalam struktur yang dapat dikenali, dipelajari, dan dijaga. Dalam konteks iman, hal ini menjadi dasar bagi tanggung jawab manusia untuk menghargai keberagaman ciptaan dan memelihara kelangsungan hidup makhluk lain.
Hari Keenam: Binatang Darat dan Manusia
Hari keenam menjadi hari yang paling istimewa dalam narasi penciptaan. Pada hari ini, Allah menciptakan binatang darat dan manusia. Binatang darat diciptakan dalam beberapa kategori, seperti ternak, binatang melata, dan binatang liar. Sama seperti makhluk hidup sebelumnya, mereka juga diciptakan menurut jenisnya dan dinilai baik oleh Allah.
Namun, pusat perhatian hari keenam bukan hanya pada binatang darat, melainkan pada penciptaan manusia. Manusia ditempatkan sebagai klimaks dari seluruh rangkaian penciptaan. Ada beberapa alasan yang menunjukkan keistimewaan manusia. Pertama, penciptaan manusia diceritakan lebih panjang dan lebih mendalam. Kedua, Allah menggunakan ungkapan yang lebih personal: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Ketiga, manusia diberi otoritas atas makhluk hidup lain. Keempat, manusia diciptakan laki-laki dan perempuan secara khusus sebagai bagian dari rencana Allah.
Keistimewaan manusia tidak berarti manusia boleh bertindak sewenang-wenang terhadap ciptaan. Sebaliknya, keistimewaan itu justru membawa tanggung jawab. Manusia adalah wakil Allah di bumi, sehingga kuasa yang diberikan kepadanya harus dijalankan sesuai karakter dan kehendak Allah.
Makna “Gambar dan Rupa Allah”
Salah satu pokok terpenting dalam Kejadian 1:26–27 adalah pernyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Ungkapan ini memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Manusia bukan Allah, tetapi manusia mencerminkan Allah dalam taraf tertentu. Manusia memiliki kedudukan, tanggung jawab, dan kehormatan khusus di antara seluruh ciptaan.
Gambar dan rupa Allah dapat dipahami dalam beberapa aspek. Pertama, manusia adalah wakil Allah di bumi. Ia diberi mandat untuk menguasai ciptaan, bukan sebagai pemilik mutlak, melainkan sebagai pengelola yang bertanggung jawab. Otoritas manusia berasal dari Allah dan harus dijalankan untuk menjaga keteraturan ciptaan.
Kedua, manusia mencerminkan relasi. Manusia diciptakan laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini bukan sekadar aspek biologis, tetapi juga menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk hidup dalam relasi. Manusia tidak dimaksudkan untuk hidup sendiri, melainkan dalam persekutuan, kerja sama, dan tanggung jawab bersama.
Ketiga, manusia memiliki martabat yang melekat. Karena manusia diciptakan menurut gambar Allah, nilai manusia tidak ditentukan oleh status sosial, kekayaan, jabatan, jenis kelamin, atau kemampuan tertentu. Semua manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Hal ini menjadi dasar penting bagi penghormatan terhadap kehidupan manusia.
Mandat untuk Berkuasa dan Menaklukkan Bumi
Kejadian 1:28 mencatat bahwa Allah memberkati manusia dan memberi mereka mandat untuk beranak cucu, bertambah banyak, memenuhi bumi, menaklukkannya, dan berkuasa atas makhluk hidup. Mandat ini sering disebut sebagai mandat budaya. Artinya, manusia dipanggil untuk mengelola bumi, mengembangkan kehidupan, dan menjaga ciptaan agar tetap sesuai dengan tujuan Allah.
Kata “berkuasa” tidak boleh dipahami sebagai izin untuk mengeksploitasi ciptaan. Dalam konteks Kejadian 1, segala sesuatu yang diciptakan Allah adalah baik. Karena itu, kuasa manusia harus dipahami sebagai tanggung jawab pengelolaan, bukan perusakan. Manusia harus menguasai bumi dengan cara yang mencerminkan karakter Allah: bijaksana, adil, tertib, dan penuh kasih.
Demikian pula kata “menaklukkan” tidak berarti manusia bebas merusak alam atau memperlakukan binatang secara semena-mena. Manusia memang diberi otoritas, tetapi otoritas itu dibatasi oleh kehendak Allah. Dalam Kejadian 1:29–30, Allah bahkan mengatur makanan manusia dan binatang. Ini menunjukkan bahwa manusia tetap bergantung kepada Allah dan tidak memiliki kebebasan mutlak atas ciptaan.
Allah sebagai Penyedia Makanan
Pada akhir hari keenam, Allah memberikan tumbuh-tumbuhan berbiji dan buah-buahan sebagai makanan bagi manusia. Ia juga memberikan tumbuh-tumbuhan hijau sebagai makanan bagi binatang. Pemberian ini memperlihatkan Allah sebagai Pemelihara kehidupan. Ia tidak hanya menciptakan manusia dan makhluk hidup, tetapi juga menyediakan kebutuhan mereka.
Hal ini berbeda dengan mitos kuno yang sering menggambarkan manusia diciptakan untuk melayani para dewa dan menyediakan makanan bagi mereka. Dalam Alkitab, Allah tidak membutuhkan manusia untuk menopang kehidupan-Nya. Sebaliknya, Allah menyediakan makanan bagi manusia. Manusia bergantung kepada Allah, bukan Allah kepada manusia.
Pola makanan dalam Kejadian 1 menggambarkan keadaan ciptaan yang harmonis sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa. Tidak ada gambaran saling memangsa atau saling membunuh. Manusia dan binatang menerima makanan dari tumbuhan yang telah Allah sediakan. Gambaran ini kemudian menjadi dasar bagi pengharapan eskatologis tentang pemulihan ciptaan, ketika damai sejahtera Allah memenuhi seluruh bumi.
“Sungguh Amat Baik”
Kejadian 1:31 menyatakan bahwa Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu “sungguh amat baik”. Pernyataan ini merupakan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh karya penciptaan. Sebelumnya, Allah beberapa kali menyatakan bahwa ciptaan tertentu itu baik. Namun, pada akhir hari keenam, Allah menilai keseluruhan ciptaan sebagai sungguh amat baik.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa ciptaan telah mencapai keadaan yang lengkap, tertata, dan sesuai dengan maksud Allah. Bumi yang pada awalnya digambarkan belum berbentuk, kosong, dan gelap kini telah menjadi tempat yang penuh kehidupan, keteraturan, dan keindahan. Laut, langit, darat, tumbuhan, binatang, dan manusia berada dalam susunan yang harmonis.
Keindahan ciptaan inilah yang kemudian direnungkan oleh pemazmur: “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mzm 104:24). Pujian ini menegaskan bahwa ciptaan bukan hanya menunjukkan kuasa Allah, tetapi juga hikmat-Nya. Segala sesuatu diciptakan dengan kebijaksanaan dan diarahkan kepada kemuliaan Allah.
Kitab Wahyu juga menyuarakan pengakuan serupa: “sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Why 4:11b). Dengan demikian, penciptaan menjadi dasar penyembahan. Manusia menyembah Allah bukan hanya karena Ia menebus, tetapi juga karena Ia menciptakan segala sesuatu.
Kesimpulan
Kejadian 1:20–31 memperlihatkan puncak karya penciptaan Allah. Pada hari kelima, Allah memenuhi laut dan udara dengan makhluk hidup serta memberkati mereka agar berkembang biak. Pada hari keenam, Allah menciptakan binatang darat dan manusia. Manusia ditempatkan sebagai mahkota ciptaan karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah serta diberi mandat untuk mengelola bumi.
Bagian ini menegaskan bahwa kehidupan adalah pemberian Allah. Semua makhluk hidup, baik yang kecil maupun besar, yang hidup di laut, udara, maupun darat, berada di bawah kedaulatan Allah. Tidak ada satu pun ciptaan yang layak disembah. Seluruh ciptaan justru harus mengarahkan manusia kepada penyembahan kepada Allah.
Penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah menjadi dasar bagi martabat manusia, relasi antarmanusia, dan tanggung jawab terhadap ciptaan. Manusia dipanggil untuk berkuasa bukan dengan sikap merusak, tetapi dengan tanggung jawab sebagai wakil Allah. Mandat untuk menaklukkan bumi harus dijalankan dalam kerangka pemeliharaan, bukan eksploitasi.
Akhirnya, pernyataan “sungguh amat baik” menunjukkan bahwa seluruh ciptaan Allah pada mulanya berada dalam keadaan harmonis, tertata, dan sesuai dengan kehendak-Nya. Dunia bukan hasil kebetulan atau konflik kosmis, melainkan karya Allah yang penuh hikmat. Karena itu, manusia dipanggil untuk bersyukur, menyembah, dan hidup secara bertanggung jawab di hadapan Allah Sang Pencipta.

