Prahara dalam keluarga merupakan hal yang biasa. Dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa dan dihuni oleh manusia berdosa, pertikaian menjadi sesuatu yang hampir tak terhindarkan. Sering kali, individu dalam keluarga saling merasa benar dan melempar kesalahan satu sama lain.
Hal ini juga terjadi pada tokoh-tokoh dalam Alkitab, bahkan mereka yang dianggap sebagai panutan iman. Jika dianalisis, lebih banyak keluarga dalam Alkitab yang bermasalah daripada yang harmonis. Dari keluarga Adam, Nuh, Abraham, Lot, hingga Daud, semua mengalami permasalahan.
Permasalahan dalam Keluarga Abraham
Teks Kejadian 16:1-6 membahas konflik dalam keluarga Abraham. Abraham dan Sara yang sudah berusia lanjut belum memiliki keturunan. Karena itu, Sara menawarkan Hagar sebagai gundik kepada Abraham. Setelah Hagar mengandung, ia mulai memandang rendah Sara, dan konflik pun muncul.
Mengapa permasalahan ini bisa terjadi? Bagaimana sikap yang benar dalam menyikapi kesalahan?
Penyebab Permasalahan
Masalah dalam keluarga jarang memiliki penyebab tunggal. Beragam faktor dapat berkontribusi terhadap suatu konflik. Dalam kasus Abraham dan Sara, terdapat beberapa penyebab utama:
1. Faktor Spiritual
Kisah ini muncul setelah Allah meneguhkan kembali perjanjian-Nya dengan Abraham (Kejadian 15). Dalam peristiwa tersebut, Allah menegaskan bahwa keturunan Abraham akan berasal dari anak kandungnya sendiri (15:4). Abraham mempercayai janji ini (15:6), dan Allah meneguhkannya melalui sebuah peristiwa supranatural (15:9-16).
Namun, meskipun mengalami pengalaman rohani yang luar biasa, Abraham tetap mengalami keraguan. Ketika Sara mengusulkan untuk menjadikan Hagar sebagai gundik, Abraham menyetujuinya. Apakah ini menunjukkan kurangnya kepercayaan terhadap janji Allah? Mungkin Abraham salah memahami janji tersebut atau merasa bahwa waktu yang berlalu tanpa penggenapan janji membuatnya perlu mengambil tindakan sendiri.
Banyak masalah dalam keluarga muncul karena kurangnya kepercayaan pada janji dan kebaikan Tuhan. Manusia cenderung mengambil keputusan tergesa-gesa tanpa mencari kehendak Tuhan, kehilangan harapan, dan mencari solusi berdasarkan logika manusia semata.
2. Faktor Kultural
Dari sudut pandang modern, tawaran Sara terdengar aneh. Bagaimana mungkin seorang istri memberikan perempuan lain kepada suaminya dan menganggap anaknya sendiri? Namun, dalam budaya kuno, hal ini sangat wajar.
Dalam budaya Timur Dekat Kuno, memiliki keturunan adalah sesuatu yang sangat penting. Anak akan meneruskan nama keluarga, menjaga warisan, dan membawa kehormatan bagi orang tua. Jika seorang istri mandul, suaminya diperbolehkan untuk memiliki istri lain atau gundik agar mendapatkan keturunan. Dalam kasus Hagar, anak yang dilahirkan dari gundik akan dianggap sebagai anak sah dari istri utama.
Hal ini menunjukkan bahwa budaya dapat memengaruhi keputusan dalam keluarga. Cara pandang, kebiasaan, dan nilai-nilai di sekitar kita dapat membentuk pola pikir tanpa disadari. Jika tidak dievaluasi secara kritis dalam terang firman Tuhan, budaya bisa menjadi pengaruh yang menyesatkan.
3. Faktor Personal
Sebagai kepala keluarga, Abraham seharusnya memimpin dengan bijak. Namun, ia justru mengikuti keputusan Sara tanpa mempertimbangkan kehendak Tuhan. Ini mengingatkan kita pada kisah Adam yang juga mengikuti permintaan Hawa dalam Kejadian 3.
Dalam Kejadian 3:17, Tuhan menegur Adam karena mengikuti perkataan Hawa tanpa mempertimbangkan firman Tuhan. Demikian pula, Abraham seharusnya membimbing Sara dalam iman, bukan sekadar mengikuti usulan yang tampaknya masuk akal secara manusiawi tetapi bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Banyak keluarga mengalami kesulitan karena kepala keluarga tidak menjalankan peranannya dengan baik. Beberapa suami gagal mengambil keputusan yang benar, lebih suka dipimpin oleh istrinya, atau tidak menjadi teladan yang baik. Sebaliknya, ada juga yang memimpin dengan cara otoriter, menciptakan ketakutan dalam rumah tangga. Kedua ekstrem ini dapat menyebabkan konflik dalam keluarga.
Sikap yang Salah dalam Menghadapi Masalah
Mengambil keputusan yang salah adalah satu hal, tetapi menyikapi masalah dengan cara yang salah adalah hal lain. Sara menunjukkan reaksi yang keliru dalam menghadapi situasi ini.
1. Menyalahkan Orang Lain
Ketika Hagar mulai merendahkannya, Sara tidak menyadari peranannya dalam menciptakan masalah ini. Sebaliknya, ia menyalahkan Abraham: “Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu” (Kejadian 16:5). Dalam teks aslinya, perkataan ini bahkan lebih keras, menunjukkan bahwa Sara menuntut Abraham untuk menerima kesalahannya.
Padahal, meskipun Abraham turut bersalah, keputusan awal berasal dari Sara sendiri. Ini menunjukkan kecenderungan manusia untuk melemparkan kesalahan kepada orang lain, daripada mengakui kesalahan sendiri.
2. Menggunakan Nama Tuhan dengan Sembarangan
Sara berkata, “Kiranya Tuhan menjadi hakim antara aku dan engkau” (Kejadian 16:5). Ia menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan dirinya dan menyalahkan orang lain. Ironisnya, setelah Abraham menyerahkan Hagar kepadanya, Sara justru menindas Hagar.
Alkitab mencatat bahwa Tuhan kemudian menjumpai Hagar di padang gurun (16:7-12), menunjukkan keberpihakan Tuhan terhadapnya. Ini menegaskan bahwa Sara sebenarnya berada di pihak yang salah.
Kesimpulan
Dosa membawa dampak besar dalam keluarga. Namun, melalui Yesus Kristus, kita bisa memperoleh kekuatan untuk mengalahkan dosa dan membangun keluarga yang harmonis sesuai dengan kehendak Tuhan. Puji syukur, Tuhan tidak meninggalkan kita dalam kesalahan kita, tetapi memberikan kasih karunia-Nya untuk membimbing kita kembali kepada-Nya.

