KEMBALI PADA INJIL: INJIL SEBAGAI PERSPEKTIF

Audio

Definisi tentang gaya hidup yang berpusat pada Injil adalah menjadikan Injil sebagai perspektif. Injil bukan hanya objek pengetahuan. Bukan sekadar sebuah pengetahuan di antara sekian banyak pengetahuan yang lain. Injil adalah sebuah cara pandang. Kita belajar memandang segala sesuatu dari kacamata Injil. Ini bukan sekadar “apa” yang kita pandang, tetapi “bagaimana” kita memandang.

Bagi sebagian orang, kebenaran di atas mungkin mengagetkan. Mereka terbiasa melihat Injil hanya sebagai jembatan menuju keselamatan. Sesudah diselamatkan, Injil menjadi tidak relevan dan tidak dibutuhkan. Bagi mereka, memandang segala sesuatu dari perspektif Injil jelas menjadi perkara yang tidak gampang. Yang diperlukan bukan hanya sekadar penambahan pengetahuan, tetapi perombakan cara pandang. Bukan sekadar koleksi data, melainkan pergeseran paradigma.

Salah satu kehidupan tokoh Alkitab yang paling jelas menggambarkan perubahan cara pandang menurut Injil adalah Paulus. Dia dahulu adalah penganiaya jemaat yang bersemangat, lalu menjadi perintis jemaat yang hebat. Cara pandangnya terhadap segala sesuatu juga menjadi baru. Dalam bab ini kita hanya akan menyoroti beberapa saja yang penting.

Pertama, memandang diri sendiri. Injil memampukan kita untuk melihat diri sendiri secara seimbang dan apa adanya. Jati diri kita utuh di dalam Kristus. Kita mensyukuri kelebihan sekaligus merengkuh kekurangan. Semuanya dilihat dari kacamata kasih karunia. Keseimbangan ini terlihat dari pernyataan Paulus: “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1Kor. 15:9-10).

Siapa diri kita tidak ditentukan oleh apa yang kita punya, prestasi kita, keluarga kita, keadaan fisik kita, maupun tuntutan orang lain di sekitar kita. Identitas kita ditentukan oleh Injil. Siapa kita? Kita adalah orang berdosa yang dilimpahi dengan kasih karunia. Kita adalah orang lemah yang kuat di dalam Kristus.

Kedua, memandang orang lain. Ketika seseorang dihidupkan oleh Injil dan menghidupi Injil, dia akan memiliki perspektif yang benar tentang orang lain. Dia tidak lagi menilai menurut ukuran manusia (2Kor. 5:16). Dia akan memerlakukan orang lain seperti Tuhan sudah memerlakukan orang itu (Rm. 14:3). Sikapnya akan diwarnai dengan nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan belas kasihan (Flp. 2:1).

Sayangnya, sikap ini gagal ditunjukkan oleh banyak orang Kristen. Tidak sedikit mereka yang non-Kristen menganggap kita sebagai orang yang suka menghakimi dan kurang mengasihi. Hidup kita tidak sejalan dengan keyakinan dan pengalaman kita di dalam Tuhan. Ini sangat memprihatinkan.

Ketiga, memandang kehidupan. Mereka yang berada di dalam Kristus akan menyadari bahwa tujuan dan kepemilikan hidup mereka telah berubah (2Kor. 5:15). Di dalam terang Injil, Paulus berkata: “aku hidup untuk Allah” (Gal. 2:19) dan “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20).

Adalah sangat ironis jika mereka yang mengaku sudah dihidupkan melalui Injil ternyata tidak mau hidup untuk Injil. Mereka menggunakan Allah untuk menggenapi tujuan hidup mereka dan bukannya menggunakan hidup mereka untuk menggenapkan tujuan Allah. Bagi mereka, penyertaan Tuhan (dalam rencana mereka) lebih penting daripada pimpinan Tuhan (ke dalam rencana-Nya).

Terakhir, memandang penderitaan. Dari perspektif Injil, penderitaan dan kematian seharusnya tidak lagi menakutkan. Bukan karena situasi buruk akan diubahkan oleh Tuhan, tetapi karena cara pandangnya yang diubahkan. Ketika Paulus berada dalam penjara dan sedang menantikan keputusan terakhir dari kaisar, dia menghadapi semuanya dengan penuh sukacita. Dia bersyukur bahwa dari situasi yang buruk tersebut Allah telah mengerjakan beberapa hal yang baik bagi kepentingan Injil (Flp. 1:12-14). Apapun hasil pengadilan nanti, dia mengaitkannya dengan Kristus: mati berarti diam bersama Kristus, sedangkan hidup berarti berbuah bagi Kristus (Flp. 1:21-23). Tidak ada keluhan, penyesalan atau kekuatiran.

Sayangnya, sikap di atas jarang terlihat dalam diri banyak orang Kristen. Mereka mudah kalah oleh masalah. Penderitaan tidak direngkuh dan malah dijadikan alasan untuk mengeluh. Kematian menjadi sesuatu yang menakutkan. Mereka lupa bahwa Kristus dengan tenang telah menanggung segala penderitaan. Kristus bahkan telah menang atas kematian.

STUDI ALKITAB MANDIRI

Bacalah Filipi 3:4-11, lalu jawablah pertanyaan-pertanyan berikut ini.

  1.  Apa saja yang dulu dibanggakan oleh Paulus (ayat 4-6)? Mengapa semua itu pantas dibanggakan?
  2. Mengapa semua kebanggaan itu sekarang dipandang sebagai kerugian dan sampah (ayat 7-9)?
  3. Apa yang menjadi tujuan hidup Paulus sekarang (ayat 10-11)?

 AYAT HAFALAN

 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka (2Kor. 5:15)

 PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Perubahan cara pandang sesuai Injil seperti apa yang Anda pernah jalani?
  2. Di antara 4 (empat) perubahan, mana yang paling sukar bagi Anda?
  3. Bagaimana kita seharusnya memandang orang lain yang pernah mengecewakan atau mengkhianati kita? Lihatlah dari perspektif Injil.

 PROYEK ROHANI

 Jika Anda merasa pernah terlalu menghakimi seseorang, telepon atau temui orang tersebut untuk meminta maaf. Jika Anda merasa pernah dikecewakan oleh orang lain, telepon atau temui orang itu untuk mengampuninya.

Sumber: MODUL DISCIPLESHIP GROUP REFORMED EXODUS COMMUNITY