Dalam satu atau dua dekade terakhir kata “kasih karunia” menjadi begitu populer di kalangan tertentu. Berbagai istilah keren yang berkaitan dengan kasih karunia mulai diperkenalkan, misalnya revolusi kasih karunia, anugerah yang radikal, dsb. Pesan utama yang dibawa sebenarnya baik dan benar: kekristenan bukan masalah aturan (perintah dan larangan) melainkan kasih karunia. Yang penting adalah apa yang Allah lakukan bagi kita, bukan sebaliknya.
Sayangnya, tidak semua orang memahami dengan benar dan menerapkan dengan konsisten. Mengatasnamakan kebebasan di dalam Kristus dan jaminan keselamatan di dalam Dia, sebagian orang Kristen terjebak pada kehidupan rohani yang tampak asal-asalan. Hasrat mereka untuk menaati perintah Allah dan menjalankan disiplin rohani perlahan-lahan mulai berkurang. Mereka menuju pada satu lubang besar: antinomianisme.
Istilah “antinomianisme” berasal dari kata anti = melawan, nomos = hukum, dan –isme = ideologi/paham. Jika digabungkan, istilah ini merujuk pada konsep dan praktek hidup orang-orang tertentu yang kurang mempedulikan perintah-perintah Allah. Mereka beranggapan bahwa semua tuntutan sudah dibayar lunas oleh Kristus. Orang Kristen tidak perlu melakukan apapun.
Sejarah gereja mencatat bahwa bahaya ini beberapa kali muncul dalam beragam bentuknya. Sampai sekarang kita juga bisa menemukan perwujudan dari semangat antinomianisme. Banyak orang yang lebih mudah untuk taat kepada Tuhan karena diintimidasi dengan hukuman Allah atau diberi janji-janji manis tentang kemakmuran dan kesuksesan daripada karena kesadaran tentang kasih karunia. Beberapa bahkan tidak merasa terlalu masalah apabila mereka jatuh ke dalam dosa tertentu. “Toh pengampunan sudah disediakan oleh Kristus dengan cuma-cuma,” begitu pikiran mereka.
Paulus sejak dulu sudah memberi peringatan tentang bahaya ini. Dia mengantisipasi kesalahpahaman atau penyalahgunaan doktrin anugerah. Roma 6:1 “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?”. Roma 6:15 “Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!”
Antinomianisme merupakan musuh Injil. Paham ini menabrak Injil pada berbagai sisi.
Pertama, iman dan ketaatan tidak dapat dipisahkan. Tujuan pemberitaan Injil adalah “supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya” (Rm. 1:5b, lit. “untuk ketaatan iman”). Maksudnya, ketaatan yang bersumber dari iman (NIV “to the obedience that comes from faith”). Berbeda dengan antinomianisme, Alkitab mengajarkan bahwa ketaatan merupakan bukti dari kesejatian iman seseorang (Yak. 2:14-17). Tanpa ketaatan yang ditunjukkan, kita patut meragukan iman seseorang. Seperti yang sering diucapkan oleh para reformator gereja pada abad ke-16: “Kita diselamatkan memang oleh iman saja, tetapi iman yang menyelamatkan tidak pernah sendirian saja.” Iman itu pasti dibarengi dengan ketaatan.
Kedua, kasih karunia menyediakan landasan baru bagi ketaatan. Sebagian orang secara keliru telah menempatkan kasih karunia sebagai lawan dari ketaatan. Ini dikotomi yang palsu. Doktrin anugerah tidak meniadakan ketaatan kepada Allah, melainkan memberi landasan yang baru. Kita menaati Allah bukan lagi karena takut dihukum atau ingin diberkati. Ketaatan kita didasarkan pada kasih kepada Allah (Mat. 22:35-40). Kasih ini bukan dimulai dari kita, tetapi dari Allah (1Yoh. 4:10 “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”). Mereka yang memahami dan mengalami kasih Allah pasti akan berkobar-kobar dalam menaati Dia (1Yoh. 5:3 “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya”).
Ketiga, kasih karunia Allah menyelamatkan sekaligus mengubahkan. Sebagai sarana keselamatan, anugerah adalah sesuatu yang kita terima (objek). Sebagai sarana perubahan, anugerah adalah sesuatu yang bekerja di dalam kita (subjek). Anugerah Allah tidak hanya menyelamatkan Paulus sebelum waktunya walaupun dia adalah yang paling hina (1Kor. 15:8-9). Anugerah yang sama membuat dia menjadi seperti sekarang: seorang yang bekerja lebih keras daripada yang lain oleh kekuatan anugerah (1Kor. 15:10). Seperti yang dikatakan oleh John Piper: “Kasih karunia bukan sekadar kelonggaran ketika kita berdosa. Kasih karunia adalah pemberian Allah yang memampukan kita untuk tidak berdosa. Kasih karunia adalah suatu kuasa, bukan hanya pengampunan”.
STUDI ALKITAB MANDIRI
Bacalah Lukas 22:31-34, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Apakah tuntutan Iblis akhirnya dikabulkan oleh Allah (ayat 31; lihat juga sleuruh kisah penyaliban)?
- Apakah hasilnya sesuai dengan harapan Iblis (ayat 32a)? Mengapa?
- Jelaskan bahwa anugerah bukan sekadar pengampunan (ayat 32b)!
- Apa yang menarik dari kasih karunia Allah menurut ayat 33-34? Jelaskan!
AYAT HAFALAN
Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah menaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu (Rom 6:17 ITB)
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Mengapa sebagian orang lebih mudah menaati Allah karena alasan yang keliru (intimidasi atau janji-janji manis) daripada alasan yang benar (anugerah Allah yang besar atas hidupnya)?
- Perasaan mana yang paling dominan muncul pada saat Anda berdosa: takut (terhadap resiko atau hukuman Allah), rasa bersalah (merasa tidak mencapai standar Allah), sedih (karena mengecewakan Allah) atau biasa saja (toh nanti juga diampuni)?
- Bagaimana kasih karunia Allah menjadi dorongan dan kekuatan bagi ketaatan kita? Jelaskan secara praktis!
PROYEK ROHANI
Sesuai dengan jawaban dalam diskusi pada nomor 3 di atas, rancangkan dan lakukan sebuah proyek rohani tertentu untuk memerangi salah satu kebiasaan buruk Anda!

