KEROHANIAN SEMU: MORALISME KRISTOLOGIS

Bahaya moralis adalah lebih menekankan perbuatan baik, tetapi tidak mengaitkannya sama sekali dengan Kristus. Nasihat-nasihat yang diberikan hanyalah moralitas humanis yang sangat umum. Penganut agama lain juga mungkin mengajarkan kebajikan yang sama. Mendeteksi kesalahan dalam moralisme seperti ini tidak terlalu sukar.

Situasi menjadi lebih rumit jika berhadapan dengan moralisme Kristologis. Moralitas yang diajarkan berkaitan dengan Kristus. Orang-orang Kristen diajak untuk mengenal dan menjadi seperti Kristus. Lalu apa ada yang salah dengan pemahaman ini?

Kita perlu mengerti bahwa Kristologis berbeda dengan Kristosentris. Yang pertama hanya berkaitan dengan konsep-konsep tertentu tentang Kristus. Yang terakhir lebih ke arah Kristus sebagai pusat dan sandaran kehidupan. Kristologis belum tentu Kristosentris, sedangkan Kristosentris pasti Kristologis. Seseorang tidak mungkin menjadikan Kristus sebagai pusat dan sandaran kehidupan tanpa mengenal Dia dengan benar dan baik.

Dalam bab ini kita akan belajar bahwa tanpa persandaran pada kesempurnaan penebusan Kristus, semua upaya untuk menjadi seperti Kristus adalah perlawanan terhadap Kristus. Tidak cukup bagi kita untuk memiliki hasrat yang kuat dalam meneladani Kristus. Tanpa pemahaman yang benar bisa jadi kita justru menjadikan Kristus bukan sebagai teladan, tetapi target perlawanan.

Mengapa moralisme Kristologis merupakan sebuah kekeliruan?

Pertama, sebagian orang di luar Kristus juga mengakui keteladanan hidup Yesus. Contoh Alkitab tentang hal ini adalah seorang pemuda yang kaya (Mat. 19:16-24). Dia mengakui Yesus sebagai guru yang baik. Pengakuan dari seorang pemuda yang saleh ini tentu saja bukan sebuah pengakuan yang sembarangan. Dia menempatkan Yesus sebagai teladan kehidupan dan tempat belajar kebajikan. Sayangnya, dia tetap tidak mengalami perjumpaan yang mengubahkan.

Kita bisa menambahkan contoh-contoh lain di luar Alkitab. Mahatma Gandhi mengagumi ajaran moral Yesus. Penganut agama lain mengakui Yesus sebagai nabi. Beberapa pemimpin agam lain secara terang-terangan menjadikan Yesus sebagai panutan kebajikan.

Kedua, perintah dalam Alkitab untuk meneladani Yesus dihubungkan dengan posisi-Nya sebagai Tuhan atau penebusan-Nya. Bagian Alkitab yang secara eksplisit menempatkan Yesus sebagai teladan kehidupan adalah Yohanes 13:12-15, Filipi 2:5-8, dan 1 Petrus 2:21-25. Dalam setiap teks ini Yesus tidak hanya diposisikan sebagai guru, tetapi juga Tuhan (Yoh. 13:13). Paulus mengaitkan keteladanan Yesus dengan posisi-Nya sebagai Allah (Flp. 2:6) dan dengan penebusan-Nya di kayu salib (Flp. 2:8). Petrus menambahkan kalimat ini dalam nasihatnya: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran” (1Pet. 2:24).

Beranjak dari teks-teks tadi kita dapat menyimpulkan bahwa menjadikan Yesus sebagai guru moral yang baik saja tidaklah cukup. Dia berbeda dengan semua pemimpin agama maupun tokoh moral yang dikagumi oleh dunia. Dia adalah Allah. Dia adalah Juruselamat dunia. Yang dia sediakan bukan sekadar nasihat-nasihat yang baik, tetapi kabar yang baik (Injil). Kabar yang membebaskan manusia dari belenggu dosa.

Ketiga, semua orang percaya sudah disempurnakan di dalam Kristus. Kita memang terus-menerus menuju kepada kesempurnaan, tetapi kita sekaligus juga sudah disempurnakan. Ibrani 10:14 mengatakan “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”. Dia sudah menyempurnakan kita, sekali untuk selamanya. Tugas kita hanyalah mensyukuri dan menghidupi.

Dengan memahami penebusan Kristus yang sempurna dan yang menyempurnakan, perjalanan kita untuk menjadi serupa dengan Dia akan dihindarkan dari dua bahaya: kesombongan dan keputusasaan. Pada saat kita mengalami kemajuan kita tidak bersikap arogan karena kita sadar bahwa itu hanyalah hasil dari karya Tuhan. Pada saat kita mengalami kemunduran dan kejatuhan kita tetap tenang karena kasih karunia Allah akan selalu menopang. Perjalanan kita tidak mungkin gagal. Kita hanya berusaha menjadi apa yang Kristus sudah jadikan di dalam kita melalui diri-Nya.

STUDI ALKITAB MANDIRI

Bacalah Galatia 2:19-21, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:       

  1. Apakah arti ungkapan “sebab aku telah mati oleh Hukum Taurat untuk Hukum Taurat” (ayat 19a; bdk. 3:16, 21b)?
  2. Bagaimana peranan Kristus dalam perubahan hidup Paulus (ayat 19b-20)?
  3. Tindakan apa yang dapat dipandang sebagai perendahan terhadap kasih karunia dan kematian Kristus (ayat 21b)?

 AYAT HAFALAN

Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yohanes 13:14-15)

 PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Mengapa bagi sebagian orang Kristen nasihat untuk menjadi seperti Yesus kurang memberikan dorongan yang cukup untuk melakukannya?
  2. Pernahkah Anda meneladani Yesus tetapi tanpa menjadikan Dia sebagai pusat dan sandaran kehidupan? Apa yang terjadi pada kerohanian Anda saat itu? Terangkan!
  3. Bagaimana langkah-langkah praktis untuk menghayati dan menerapkan “penebusan Kristus yang sempurna dan yang menyempurnakan kita”?

PROYEK ROHANI

Pikirkan dan tuliskanlah 2-3 kalimat yang mudah diingat yang menggambarkan persandaran kita kepada Kristus dalam upaya kita untuk menjadi seperti Dia!