KEROHANIAN YANG SEMU: RITUALISME

Kerohanian tidak terpisahkan dari beragam ritual, baik pribadi maupun gerejawi. Kita melakukan meditasi pribadi setiap pagi (berdoa, membaca Alkitab, menyanyi, dsb). Kita aktif beribadah dan melayani bersama anggota tubuh Kristus yang lain. Pada dirinya sendiri tidak ada yang keliru dengan ritual.

Kesalahan baru terjadi ketika ritual dijadikan batasan dan ukuran. Batasan, seolah-olah kerohanian hanya terdiri dari pelaksanaan serangkaian ritual. Ukuran, seolah-olah mereka yang melakukannya dijamin kerohaniannya.

Bagaimana ciri-ciri orang yang terjebak pada ritualisme? Ciri utama adalah gaya hidup dualistik. Mereka membedakan antara area sakral dan sekuler. Dua area ini seringkali dihidupi dengan prinsip yang berbeda, misalnya hukum kasih di pelayanan tetapi hukum rimba di perusahaan. Mereka biasanya lebih berhati-hati dan bersungguh-sungguh di area sakral daripada sekuler. Yang sakral dipandang lebih penting daripada yang sekuler.

Gaya hidup dualistik menjebloskan mereka pada pencitraan, bahkan kemunafikan. Apa yang diyakini di satu area (sakral) tidak dilakukan di area yang lain (sekuler). Bagi orang lain yang mengenal mereka di dua area, mereka pasti akan dianggap melakukan pencitraan (di area sakral) dan kemunafikan (di area sekuler). Mereka berpotensi memberikan gambaran negatif terhadap kekristenan di depan publik.

Walaupun ritual memegang peranan, ritual tidak boleh dan tidak dapat menggantikan kerohanian yang lebih menyeluruh dan utuh. Menyeluruh, karena kerohanian menurut Alkitab berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan: apapun yang kita pikirkan, putuskan, katakan, atau lakukan (Kol. 3:23). Utuh, karena semua tindakan itu merupakan satu kesatuan: ekspresi kasih kita kepada Tuhan (Mat. 22:36-38). Intinya, apapun yang kita lakukan, kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan (1Kor. 10:31).

Alkitab memberikan alasan yang cukup untuk menolak ritualisme. Pertama, teguran keras terhadap mereka yang terjebak pada ritualisme. Berkali-kali Tuhan Yesus juga memperingatkan orang-orang Farisi terhadap bahaya ritualisme. Mereka sangat taat dalam persembahan kepada Allah tetapi melalaikan keadilan kepada sesama (Mat. 23:23). Tanggung-jawab terhadap bait Allah dilakukan, tetapi dengan mengurbankan tanggung-jawab terhadap keluarga (Mat. 15:3-6).

Kedua, keseriusan dari dosa ritualisme. Alkitab bukan hanya memberikan teguran terhadap ritualisme. Di beberapa bagian Alkitab kita akan menemukan bahwa ritualisme ternyata dipandang lebih buruk daripada ketidakpercayaan. Maksudnya, lebih baik tidak ada ritual sama sekali daripada ritual yang dibarengi dengan kejahatan. Para nabi beberapa kali mengecam ibadah umat Tuhan yang terlihat heboh tetapi tidak disertai kesalehan hidup. Allah benci dan muak dengan semua perayaan itu (Yes. 1:10-18; Am. 5:21-27). Dia lebih menghendaki ketaatan daripada persembahan (1Sam. 15:22). Paulus bahkan pernah memberikan kecaman yang sangat keras kepada orang Kristen yang melupakan tanggung-jawab pada keluarganya: “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1Tim. 5:8).

Ketiga, ajaran Alkitab tentang ibadah yang sejati. Penganut ritualisme telah melupakan cakupan ibadah yang alkitabiah. Ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan, yaitu pemberian seluruh kehidupan kepada Allah. Itulah ibadah yang sejati (Rm. 12:1). Jadi, Allah lebih peduli dengan diri kita daripada apa yang kita lakukan. Persembahan yang menyenangkan Dia adalah diri kita, bukan pelayanan kita. Integritas kehidupan, bukan aktivitas pelayanan.

Dengan pemahaman seperti itu tidak heran Alkitab membicarakan ibadah yang sejati di luar tembok gereja. Sebagai contoh, Yakobus memandang kepedulian terhadap janda dan yatim piatu sebagai ibadah yang sejati (Yak. 1:27). Di teks yang sama dia juga menyebutkan kemurnian hidup dari kecemaran dunia sebagai ibadah yang sejati. Dengan kata lain, segala sesuatu yang kita lakukan, yang memuliakan Allah, itulah ibadah kita.

STUDI ALKITAB MANDIRI

Bacalah Matius 23:23-28, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:     

  1. Apa kaitan antara metafora di ayat 24 dengan teguran terhadap ritualisme di ayat 23?
  2. Dosa apa yang seringkali muncul dari ritualisme (ayat 25-28)? Apa hubungannya dengan ritualisme? Terangkan!
  3. Godaan apa yang sering memicu ritualisme dan dosa-dosa lain yang mengikutinya (ayat 28)?

 AYAT HAFALAN

 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1Kor. 10:31)

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Mengapa sebagian orang Kristen mudah terjebak pada ritualisme?
  2. Cara-cara praktis apa yang perlu dilakukan untuk memiliki kerohanian yang menyeluruh dan utuh?
  3. Ceritakan pengalaman pahit Anda dengan penganut ritualisme atau pada saat Anda sendiri terjebak pada ritualisme!

 PROYEK ROHANI

 Pikirkan beberapa tindakan Anda yang bisa dimasukkan ke dalam kategori ritualisme dan buatlah rencana konkrit untuk menyelesaikannya.