Ketika kita menjadi orang percaya tidak berarti bahwa perjalanan kerohanian kita akan mulus-mulus saja. Meminjam puisi Daud di Mazmur 23, keadaan kita tidak selalu berada di padang rumput yang hijau atau air yang tenang, tetapi kita juga akan melewati lembah kekelaman. Beberapa tokoh Alkitab pernah mengalami situasi seperti ini:
- Ayub pernah bergumul sedemikian hebat untuk memahami mengapa orang yang benar dan takut akan Tuhan (Ay 1:1) bisa mengalami penderitaan yang hebat (Ay 1:6-2:10).
- Habakuk pernah bingung dengan tindakan Allah yang membiarkan orang-orang Israel yang fasik merajalela (Hab 1:2-4). Ketika Allah menjawab bahwa orang-orang itu akan dihukum melalui bangsa kafir (Hab 1:5-11), Habakuk malah semakin bingung dengan sikap Allah ini (Hab 1:12-13).
- Asaf kesulitan memahami fakta bahwa orang-orang fasik justru lebih beruntung daripada orang benar (Mzm 73:3-12).
- Paulus pernah mengalami keputusasaan dan kehilangan harapan (2Kor 1:8-9).
Semua masa kritis di atas sangat berhubungan dengan ketidakmampuan kita dalam memahami rencana Allah. Kita sangat terbatas untuk mengerti pikiran Tuhan. Jalan kita dengan jalan Tuhan seperti langit dan bumi (Yes 55:9). Hikmat Allah tidak terselami oleh kita (Rom 11:33-34).
Salah satu hal yang sulit kita pahami adalah kesuksesan orang-orang fasik. Kita merasa bahwa mereka lebih beruntung dari kita. Mereka menjalani hidup tanpa batasan-batasan yang ketat. Melalui kecurangan yang mereka lakukan, mereka mendapatkan banyak keuntungan. Lebih parah lagi, mereka tidak jarang justru merendahkan dan menghina iman kita.
Penyelidikan Alkitab mandiri
Baclah Mazmur 73 dengan teliti sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
- Kepada siapakah Allah menunjukkan kebaikan-Nya (ayat 1)?
- Bagaimana Asaf menggambarkan pergumulannya ketika dia sulit memahami kebaikan Tuhan (ayat 2)? Pernahkah kita meragukan kebaikan Tuhan? Jelaskan!
- Mengapa Asaf cemburu dengan orang-orang fasik (ayat 3-5, 12)?
- Sebutkan 3 sikap orang-orang fasik ketika mereka mendapati bahwa hidup mereka tampak baik-baik saja (ayat 6-9)!
- Apa yang terjadi pada orang-orang lain yang melihat bahwa orang-orang fasik bisa sukses dan tidak dihukum oleh Allah (ayat 10-11)?
- Apa yang terjadi dengan Asaf yang telah berusaha hidup dengan saleh (ayat 13-14)?
- Bagaimana sikap Asaf mula-mula terhadap situasi ini (ayat 15-16)?
- Di mana Asaf menemukan jawaban yang dia butuhkan (ayat 17)?
- Bagaimana jawaban yang dia terima (ayat 18-20)?
- Apakah jawaban itu menuntaskan pergumulan Asaf (ayat 21-22a)? Perubahan sikap apa yang mulai ada pada diri Asaf (ayat 22b-23a)?
- Apa yang dilakukan Allah terhadap Asaf (ayat 23b-24)?
- Pelajaran terpenting apa yang didapat Asaf melalui semua penderitaa yang dia alami (ayat 25-26)?
- Sebutkan dua alasan mengapa Asaf tidak mau lagi memikirkan untuk meninggalkan Allah (ayat 27-28)?
Penerapan konkrit
Sharing: ceritakan satu peristiwa/keadaan di mana orang fasik tampaknya lebih mujur daripada mereka dan bagaimana keadaan ini sempat membuat mereka berpikir untuk meninggalkan jalan Tuhan. Ceritakan juga bagaimana cara menghadapi situasi seperti itu.
Tugas selama seminggu
Persiapkan sebuah kertas kosong yang dibagi menjadi dua kolom. Dua kolom ini diisi respon mereka terhadap pertanyaan “jika aku jadi Ayub, maka…”. Kolom sebelah kiri adalah respon sebelum memahami keutamaan Tuhan dalam hidup kita dan kolom sebelah kanan adalah respon setelah memahami keutamaan Tuhan.
Rangkuman
- Perjalanan kerohanian orang Kristen tidak selalu mudah.
- Salah satu situasi yang sering membuat orang Kristen patah semangat adalah kemujuran orang fasik dan keterpurukan orang benar.
- Kesuksesan orang fasik hanya bersifat sementara.
- Semua penderitaan mengajar orang Kristen untuk menyadari bahwa yang terpenting adalah Tuhan, bukan berkat-berkat-Nya.
Ayat emas yang harus dihafalkan
Ayub 1:21 “dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”.

