KITA BUKAN SIAPA-SIAPA

Salah satu godaan terbesar dalam kehidupan rohani dan pelayanan adalah kebanggaan. Sejak awal sejarah manusia, dosa pertama yang merusak hubungan manusia dengan Allah adalah keinginan untuk menjadi “seperti Allah” (Kejadian 3:5). Adam dan Hawa, yang sebenarnya telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tergoda untuk melampaui batas peran mereka dan menginginkan posisi yang bukan milik mereka.

Manusia memang diciptakan dengan kehormatan. Kita adalah gambar Allah (Kej. 1:26–27), dipercayakan untuk mengelola bumi, diberi kuasa untuk memerintah ciptaan lain, dan diperlengkapi dengan kemampuan luar biasa. Namun, ketika identitas mulia ini tidak disikapi dengan rendah hati, kelebihan bisa berubah menjadi sumber kejatuhan. Adam dan Hawa menjadi contoh pertama dari manusia yang gagal memaknai kehormatan sebagai anugerah, bukan kesombongan.

Pertama, kita dilibatkan dalam pelayanan, tetapi bukan karena Allah membutuhkan kita.
Sering kali, dalam pelayanan—terutama jika kita memegang posisi penting atau terlihat di depan umum—muncul godaan halus untuk merasa “dibutuhkan.” Kita merasa tanpa kita pelayanan tidak akan berjalan. Bahkan, ada yang merasa senang jika tanpa kehadirannya pelayanan menjadi kacau—seolah itu menjadi bukti bahwa dia tidak tergantikan.

Namun, pemikiran seperti ini adalah bentuk berhala pelayanan. Ini bukan lagi pelayanan yang berpusat pada Kristus, tetapi pada ego diri sendiri. Paulus dengan jelas berkata dalam Roma 11:35 bahwa Allah tidak berhutang kepada siapa pun. Dalam Kisah Para Rasul 17:24–25, ia menjelaskan kepada orang-orang Atena bahwa Allah, sebagai Pencipta langit dan bumi, tidak memerlukan apa pun dari manusia, bahkan pelayanan kita. Justru, “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:28).

Dengan kata lain, pelayanan adalah hak istimewa, bukan kebutuhan Tuhan. Tuhan melibatkan kita, bukan karena Ia tak sanggup melakukannya sendiri, tetapi karena Ia mengasihi kita dan ingin kita bertumbuh melalui pelayanan itu.

Kedua, Allah dapat memakai siapa pun dan apa pun sesuai kehendak-Nya.
Kita bukan satu-satunya pilihan Tuhan. Alkitab penuh dengan contoh bahwa Tuhan bisa memakai alat-alat yang sama sekali tidak terduga. Ia memakai keledai untuk menegur nabi yang tidak taat (Bilangan 22:22–34), memerintahkan burung gagak memberi makan Elia (1 Raja-raja 17:3–6), bahkan menggunakan pohon jarak dan seekor ulat untuk mengajar Yunus (Yunus 4:6–11).

Tuhan bisa melakukan pekerjaan-Nya dengan atau tanpa kita. Pernyataan Yohanes Pembaptis juga sangat kuat: “Dari batu-batu ini Allah dapat membangkitkan anak-anak bagi Abraham” (Matius 3:9). Artinya, kita bukan satu-satunya pilihan Allah. Ia dapat menggunakan siapa saja, kapan saja, bahkan yang menurut dunia tidak layak, untuk menggenapi rencana-Nya.

Hal ini ditegaskan oleh perkataan Mordekhai kepada Ester dalam momen yang sangat krusial. Ketika Ester ragu untuk melibatkan diri menyelamatkan bangsanya, Mordekhai berkata, “Jika engkau berdiam diri saja… pertolongan dan kelepasan akan timbul juga dari pihak lain” (Ester 4:14). Dengan kata lain: Ester punya kesempatan untuk dipakai Tuhan, tapi Tuhan tetap akan menyelesaikan pekerjaan-Nya—dengan atau tanpa dia.

Ketiga, kesadaran akan siapa Allah akan membentuk pengertian yang benar tentang siapa diri kita.
Allah adalah Pribadi yang kekal, berdaulat, dan tidak bergantung pada siapa pun. Ia menopang segala sesuatu dengan firman-Nya (Ibrani 1:3). Kemandirian-Nya mutlak. Pemahaman ini seharusnya melandasi sikap hati kita dalam pelayanan: bahwa kita hanyalah debu yang dipakai dalam tangan-Nya yang besar. Kita bukan siapa-siapa, tapi oleh anugerah-Nya kita diberi tempat untuk mengambil bagian dalam pekerjaan besar-Nya.

Kesadaran ini bukan untuk membuat kita merasa rendah diri, tapi untuk membentuk sikap rendah hati. Kita tidak melayani untuk mendapatkan pengakuan, melainkan karena kasih yang telah kita terima dari Kristus. Ketika pelayanan kita berhasil, segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Ketika kita tidak lagi dilibatkan, pekerjaan Tuhan tetap berjalan.

Kesimpulan:
Pelayanan bukan tentang kita. Kita bukan pusat cerita, bukan tokoh utama dalam drama rohani ini. Tuhanlah yang memegang kendali, dan Ia bisa memakai siapa saja untuk menyelesaikan kehendak-Nya. Maka, kita perlu melayani dengan hati yang rendah dan sadar: kita hanyalah alat di tangan-Nya. Privilej kita adalah diberi kesempatan ikut ambil bagian—bukan karena kita istimewa, tetapi karena Tuhan penuh kasih dan murah hati. Mari melayani bukan dengan merasa dibutuhkan, tapi dengan penuh ucapan syukur karena dilibatkan.

Studi Alkitab Mandiri

Bacalah Lukas 17:7-10, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

  1. Apakah inti pengajaran dalam perumpamaan ini (ayat 10)?
  2. Apa hubungan ayat 7-8 dengan inti tersebut?
  3. Apa hubungan ayat 9 dengan inti tersebut?

Ayat Hafalan

Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang (Kisah Para Rasul 17:24-25)

Pertanyaan Untuk Diskusi

  1. Sebutkan minimal tiga tanda bahwa seseorang telah jatuh ke dalam berhala kebanggaan dalam pelayanan!
  2. Ceritakan salah satu kejatuhan Anda dalam godaan ini!
  3. Langkah-langkah praktis seperti apa yang bisa dilakukan untuk menjauhi godaan ini?