Dalam kehidupan gereja, topik persembahan seringkali dipersepsikan sebagai persoalan teknis atau administratif. Ketika gereja menghadapi keterbatasan keuangan, pembicaraan tentang memberi mudah dipahami sebagai respons terhadap kebutuhan institusi. Namun pendekatan semacam ini berisiko mereduksi makna rohani dari persembahan itu sendiri. Alkitab tidak pernah mengajarkan memberi sebagai reaksi terhadap kekurangan gereja, melainkan sebagai bagian dari pembentukan iman dan karakter umat Allah.
Yesus, dalam pengajaran-Nya, secara konsisten menempatkan persoalan harta dan memberi dalam kerangka kesetiaan, tanggung jawab, dan kepercayaan Allah kepada manusia. Lukas 16:10–11 menjadi teks yang sangat penting karena menyingkapkan bahwa memberi bukan pertama-tama tentang apa yang gereja butuhkan, melainkan tentang siapa yang sedang Allah bentuk dan percayai. Melalui teks ini, jemaat diajak untuk melihat persembahan sebagai tindakan iman yang bermartabat, sadar, dan penuh makna rohani.
Kesetiaan dalam Perkara Kecil sebagai Ukuran Karakter Rohani (10a)
Yesus membuka pengajaran-Nya dengan prinsip yang sederhana namun mendalam: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” Dalam teks Yunani, kata yang digunakan untuk “setia” adalah pistós, yang menunjuk pada seseorang yang layak dipercaya karena konsistensi hidupnya. Kesetiaan di sini bukan tindakan sesaat, melainkan kualitas karakter yang terlihat dalam pola hidup sehari-hari.
Yesus dengan sengaja mengaitkan kesetiaan dengan “perkara-perkara kecil”, menggunakan istilah elachistō, yang berarti hal-hal yang paling kecil dan sering dianggap tidak penting. Dengan pilihan kata ini, Yesus membalik cara pandang manusia. Ia menegaskan bahwa Allah tidak menilai kesetiaan dari tindakan besar yang spektakuler, tetapi dari kesungguhan seseorang dalam hal-hal yang sederhana, rutin, dan sering tidak terlihat.
Dalam konteks kehidupan jemaat, persembahan seringkali dipahami sebagai bagian kecil dari ibadah—sekadar rutinitas mingguan. Namun justru di sanalah karakter rohani dibentuk. Memberi secara setia mencerminkan iman yang tidak berhenti pada pengakuan, tetapi diwujudkan dalam tanggung jawab nyata. Kesetiaan dalam memberi bukan soal besar kecilnya jumlah, melainkan konsistensi dan kesadaran bahwa segala sesuatu yang dimiliki berasal dari Allah.
Gereja yang dibangun di atas kesetiaan dalam perkara kecil akan memiliki fondasi rohani yang kuat. Jemaat belajar bahwa iman tidak hanya dinyatakan dalam doa dan pujian, tetapi juga dalam pengelolaan berkat yang dipercayakan Tuhan.
Sikap terhadap Harta Mengungkap Arah Hati dan Kualitas Iman (10b)
Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan pernyataan yang tegas: “Barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Kata “tidak benar” berasal dari istilah Yunani adikos, yang berarti tidak adil, tidak lurus, atau menyimpang dari standar kebenaran. Dalam konteks ini, ketidaksetiaan bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi menunjukkan ketidaksesuaian antara iman yang diakui dan tindakan nyata.
Yesus kemudian menyebut mamōna tēs adikias, yang sering diterjemahkan sebagai “Mamon yang tidak jujur”. Dalam pemahaman Yahudi, mamon bukan hanya uang, melainkan segala bentuk kekayaan yang berpotensi menguasai hati manusia. Yesus tidak mengatakan bahwa harta itu jahat, tetapi bahwa harta bersifat tidak dapat dipercaya karena sifatnya sementara dan mudah menggantikan posisi Allah dalam kehidupan seseorang.
Dengan kata lain, sikap terhadap harta menjadi cermin yang jujur tentang arah hati dan kualitas iman. Jika seseorang sulit setia dalam mengelola hal-hal yang sementara, bagaimana mungkin ia dapat dipercaya dalam perkara-perkara yang kekal? Persembahan, dalam terang ini, bukan tambahan dalam kehidupan rohani, melainkan bagian integral dari ketaatan iman.
Bagi jemaat masa kini, khususnya di konteks perkotaan, tantangan terbesar seringkali bukan kekurangan, melainkan keterpisahan antara iman dan pengelolaan hidup sehari-hari. Banyak orang percaya setia dalam ibadah, tetapi ragu ketika iman menyentuh aspek keuangan. Yesus menegaskan bahwa iman yang sejati selalu bersifat utuh dan menyentuh seluruh dimensi hidup.
Persembahan sebagai Respons atas Kepercayaan Allah (11)
Yesus menutup pengajaran-Nya dengan pertanyaan yang menggugah: “Siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Kata “mempercayakan” berasal dari pisteuō, akar kata yang sama dengan “iman”. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan Allah dan iman manusia saling berkaitan erat. Allah mempercayakan tanggung jawab kepada mereka yang menunjukkan iman melalui kesetiaan.
“Harta yang sesungguhnya” tidak menunjuk pada kekayaan materi, melainkan pada nilai-nilai Kerajaan Allah: tanggung jawab rohani, pelayanan, dan partisipasi dalam karya Allah yang kekal. Yesus mengajarkan bahwa kepercayaan Allah bersifat progresif. Kesetiaan dalam mengelola hal-hal yang sementara membuka jalan bagi kepercayaan yang lebih besar dalam perkara-perkara rohani.
Dalam perspektif ini, persembahan tidak lagi dipahami sebagai jawaban atas kekurangan gereja, tetapi sebagai tanda bahwa Allah sedang mempercayakan sesuatu kepada umat-Nya. Gereja menjadi ruang di mana kepercayaan Allah itu diwujudkan secara nyata melalui pelayanan, pemuridan, dan kesaksian.
Ketika jemaat memberi dengan kesadaran bahwa mereka sedang merespons kepercayaan Allah, maka memberi dilakukan dengan sukacita dan tanggung jawab, bukan dengan keterpaksaan. Persembahan menjadi kehormatan rohani—sebuah kesempatan untuk mengambil bagian dalam karya Allah yang lebih besar dari diri sendiri.
Kita tidak memberi karena gereja kekurangan, tetapi karena Allah mempercayakan hidup dan berkat-Nya kepada kita.
Penutup
Lukas 16:10–11 menolong gereja dan jemaat untuk melihat persembahan dari sudut pandang yang lebih dalam dan bermartabat. Yesus tidak menekan, tidak memanipulasi rasa bersalah, dan tidak membangun motivasi dari ketakutan. Ia justru mengundang umat-Nya untuk bertumbuh dalam kesetiaan dan kedewasaan rohani.
Ketika jemaat memahami bahwa memberi adalah respons atas kepercayaan Allah, persembahan tidak lagi menjadi isu sensitif, melainkan bagian alami dari kehidupan iman. Gereja pun dibangun bukan hanya secara finansial, tetapi terutama secara rohani—oleh umat yang setia dalam perkara kecil dan karena itu layak dipercaya dalam perkara yang besar dan kekal.

