Di tengah-tengah Sepuluh Perintah Allah, terdapat sebuah larangan yang sering diabaikan, meski dampaknya begitu besar dalam kehidupan rohani umat Tuhan: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.” (Keluaran 20:7). Kita telah memahami isi dari perintah ini, dan mungkin telah menyadari beberapa wujud pelanggaran yang bisa terjadi dalam praktik hidup sehari-hari. Namun hari ini, kita diajak untuk masuk lebih dalam—bukan sekadar mengetahui apa larangannya, tetapi mengapa larangan itu diberikan.
Tuhan tidak pernah memberikan perintah tanpa dasar. Setiap ketetapan-Nya selalu lahir dari karakter-Nya yang kudus dan tujuan-Nya yang mulia. Maka dalam konteks perintah ketiga ini, dasar utamanya dinyatakan langsung dalam ayat yang sama: “Sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Tuhan bukan hanya menganggap pelanggaran terhadap nama-Nya sebagai sesuatu yang tidak layak, tetapi juga memandangnya sebagai sebuah pelanggaran yang serius, yang layak mendapatkan hukuman. Nama Tuhan bukan sembarangan. Nama itu menyatakan siapa Dia, mencerminkan kemuliaan dan kekudusan-Nya, serta mewakili otoritas-Nya di dunia ini.
Dalam Alkitab, ada banyak ayat yang menegaskan betapa pentingnya menjaga kekudusan nama Tuhan. Dua di antaranya memperlihatkan secara jelas bagaimana Allah memperingatkan umat-Nya dan menanggapi secara aktif setiap pelanggaran terhadap nama-Nya. Dalam Ulangan 28:58–59, Tuhan berfirman: “Jika engkau tidak takut akan Nama yang mulia dan dahsyat ini… maka TUHAN akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu.” Ayat ini tidak sedang berbicara tentang nama sebagai simbol, tetapi tentang nama sebagai perwakilan dari pribadi Allah sendiri. Ketika nama Tuhan diremehkan, itu sama saja dengan meremehkan keberadaan dan otoritas-Nya sebagai Allah.
Pernyataan yang serupa kita temukan dalam Yehezkiel 20:9, di mana Tuhan menyatakan: “Tetapi Aku bertindak oleh karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa.” Ini adalah prinsip yang luar biasa penting. Tuhan bertindak untuk mempertahankan kemuliaan nama-Nya. Dia tidak membiarkan nama-Nya dihina atau dijadikan bahan tertawaan oleh bangsa-bangsa lain. Ketika umat-Nya gagal menghormati nama-Nya, Tuhan sendiri akan membuktikan siapa Dia—bahkan jika itu berarti Dia harus menghakimi umat-Nya sendiri agar dunia tahu bahwa nama-Nya tidak bisa dinajiskan.
Hal ini bukan sekadar retorika atau ancaman kosong. Alkitab mencatat dengan jelas contoh-contoh nyata di mana Tuhan bertindak secara langsung terhadap mereka yang meremehkan nama-Nya. Salah satu kisah yang sangat menggugah hati adalah kisah tentang Imam Eli dan keluarganya, yang dicatat dalam 1 Samuel 2–3. Imam Eli adalah pemimpin rohani Israel, tetapi ia gagal menjaga kekudusan ibadah dan membiarkan dua anaknya, Hofni dan Pinehas, menyalahgunakan nama dan jabatan yang dipercayakan kepada mereka.
Hofni dan Pinehas bukan hanya imam, mereka adalah orang-orang yang seharusnya menjadi penjaga kekudusan Tuhan. Namun kenyataannya, mereka memperlakukan jabatan itu sebagai kesempatan untuk memuaskan hawa nafsu. Mereka mengambil daging persembahan sebelum dipersembahkan kepada Tuhan, dan lebih buruk lagi, mereka tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di kemah pertemuan. Tindakan ini bukan hanya tidak etis, tetapi merupakan bentuk penghinaan langsung terhadap nama Tuhan, karena dilakukan di tempat kudus dan atas nama ibadah kepada-Nya.
Yang lebih mengejutkan, Imam Eli sendiri tidak mengambil tindakan tegas. Ia memang menegur mereka, tetapi tidak menghentikan kejahatan itu atau mendisiplinkan anak-anaknya secara serius. Maka Tuhan turun tangan dan berkata, “Mengapa engkau lebih menghormati anak-anakmu daripada menghormati Aku?” (1 Samuel 2:29). Sebuah kalimat yang menggambarkan kekecewaan Tuhan terhadap kompromi rohani yang dilakukan oleh pemimpin rohani yang seharusnya menjaga nama-Nya.
Apa yang terjadi kemudian menjadi salah satu kisah paling tragis dalam sejarah bangsa Israel. Dalam peperangan melawan orang Filistin, Hofni dan Pinehas mati. Tabut perjanjian, simbol kehadiran Tuhan, dirampas. Dan ketika Eli mendengar kabar itu, ia jatuh dan mati. Ini bukan sekadar kekalahan militer, tetapi simbol dari bagaimana Tuhan menarik diri ketika nama-Nya tidak dihormati. Hukuman ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Dalam 1 Samuel 3:13, Tuhan menegaskan alasannya: “Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya… sebab anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka.”
Menghujat nama Tuhan, membiarkan pelanggaran terhadap kekudusan-Nya tanpa tindakan, dan menjadikan ibadah sebagai formalitas kosong adalah bentuk-bentuk nyata pelanggaran terhadap hukum ketiga. Ini bukan hanya kesalahan moral, tetapi bentuk penistaan terhadap nama Tuhan yang kudus. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Tuhan bukan hanya memberi perintah, tetapi juga memberi peringatan dan siap bertindak ketika nama-Nya dipermainkan.
Pelanggaran terhadap nama Tuhan bisa terjadi dalam banyak bentuk: melalui perkataan yang sembrono, ibadah yang tidak tulus, gaya hidup yang bertentangan dengan karakter Kristus, hingga tindakan kompromi yang mengorbankan kekudusan demi kenyamanan. Dan dalam semua itu, Tuhan tidak tinggal diam. Ia memandang bersalah, dan akan bertindak demi kemuliaan nama-Nya.
Maka, perintah ketiga ini bukanlah sekadar larangan untuk tidak berkata kasar dengan menyebut nama Tuhan. Ia adalah panggilan untuk menghidupi kehidupan yang menghormati Tuhan dalam perkataan, perbuatan, dan keputusan kita. Nama-Nya bukan sekadar label, tapi cermin dari siapa Dia. Dan kita, umat-Nya, dipanggil untuk menjaga, menghormati, dan memuliakan nama itu dalam seluruh aspek hidup kita.
Kiranya kisah Imam Eli menjadi peringatan yang hidup bagi kita hari ini: bahwa ketika kita membiarkan dosa berkembang tanpa teguran, ketika kita berkompromi dengan kekudusan, ketika kita gagal menghormati nama Tuhan yang kita akui—maka kita sedang menyiapkan diri untuk dihukum oleh Tuhan sendiri. Sebaliknya, ketika kita hidup dalam rasa takut akan Tuhan, menjaga nama-Nya dalam kekudusan dan hormat, maka kita membawa kemuliaan bagi nama yang layak disembah oleh seluruh bumi.

