MENGHIDUPI INJIL

Injil bukan hanya berita keselamatan yang kita dengar di awal pertobatan. Injil adalah napas hidup baru yang harus terus kita hidupi setiap hari. Injil bukan hanya memberi kita jaminan hidup kekal, tetapi juga kekuatan untuk hidup benar hari ini. Bukan hanya menyelesaikan hukuman dosa, Injil juga membebaskan kita dari kuasa dosa. Maka tidak cukup hanya memberitakan Injil—kita harus menghidupi Injil dalam keseharian.

Rasul Paulus mengajak jemaat untuk “hidup berpadanan dengan Injil Kristus” (Filipi 1:27) dan “hidup sebagai orang-orang yang dipanggil” (Efesus 4:1). Artinya, setiap orang yang telah menerima Injil diharapkan untuk menampilkan gaya hidup yang sejalan dengan kabar baik itu. Komunitas yang sungguh-sungguh menerima Injil pasti akan menampakkan perubahan. Dari dalam hati, keluar sikap dan perilaku yang mencerminkan Kristus.

Namun, persoalannya bukan terletak pada kemampuan kita. Kristus sudah menyediakan semua yang kita butuhkan—penghiburan, kasih mesra, belas kasihan, teladan, bahkan Roh Kudus yang tinggal dalam kita. Persoalannya seringkali adalah kemauan. Kita enggan dipimpin oleh Roh. Kita lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran, perasaan daripada pengorbanan.

Agar kita semakin mengerti dan terinspirasi untuk menghidupi Injil, mari kita merenungkan lima karakter yang ditulis Paulus dalam Kolose 3:12: “Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.”

Pertama, kenakanlah belas kasihan.

Belas kasihan (Yunani: splanchna oiktirmou) menggambarkan kasih yang keluar dari lubuk hati terdalam. Ini bukan sekadar empati sesaat, tetapi afeksi yang sungguh lahir dari hati yang penuh kasih. Allah sendiri adalah sumber belas kasihan (2 Korintus 1:3), dan Ia menyelamatkan kita bukan karena jasa, tetapi karena belas kasihan-Nya (Roma 12:1). Maka, ketika kita melihat sesama, terutama yang lemah, gagal, atau bersalah, respon yang keluar dari hati yang diubahkan oleh Injil adalah belas kasihan, bukan penghakiman.

Kedua, kenakanlah kemurahan.

Kemurahan (Yunani: chrēstotēs) adalah sikap baik hati yang aktif. Allah menunjukkan kemurahan kepada orang berdosa seperti kita (Roma 2:4), dan melalui kemurahan itu kita beroleh pertobatan. Ketika kita menghidupi Injil, kita dimampukan untuk menjadi pribadi yang murah hati—yang tidak mudah tersinggung, tidak hitung-hitungan, dan siap memberi bahkan kepada yang tidak layak menerimanya. Inilah cara Allah memperlakukan kita.

Ketiga, kenakanlah kerendahan hati.

Kerendahan hati (Yunani: tapeinophrosynē) bukan sekadar merasa kecil, tetapi berpikir rendah tentang diri sendiri dengan kesadaran penuh bahwa segala yang kita miliki berasal dari Tuhan. Ini adalah “kerendahan pikiran”—sebuah kesadaran yang aktif bahwa orang lain lebih utama daripada diri kita (Filipi 2:3). Kerendahan hati menuntun kita untuk tidak merasa lebih benar atau lebih penting dalam komunitas. Justru dalam kerendahan hati itulah kita menemukan kekuatan sejati untuk membangun persekutuan.

Keempat, kenakanlah kelemahlembutan.

Kelemahlembutan (Yunani: prautēs) bukan berarti lemah. Justru ini adalah kekuatan yang dikendalikan. Ini adalah kemampuan untuk tetap tenang, sabar, dan penuh kasih bahkan saat harus menegur atau menghadapi orang yang bersalah. Paulus menasihati agar kita menegur dalam kelemahlembutan (Galatia 6:1), bukan dalam kemarahan. Orang yang menghidupi Injil akan tetap bersikap lemah lembut walau di tengah konflik atau kritik. Inilah cara Kristus menuntun murid-murid-Nya.

Kelima, kenakanlah kesabaran.

Kesabaran (Yunani: makrothymia) adalah kemampuan untuk bertahan dalam penderitaan, ketidaksempurnaan, atau kesalahan orang lain. Ini adalah salah satu kualitas Allah sendiri (Roma 2:4), dan kesabaran-Nya kepada kita seharusnya menjadi alasan utama mengapa kita pun harus sabar kepada orang lain. Dalam komunitas, kita tidak akan pernah bisa bertumbuh bersama tanpa kesabaran. Tidak ada orang yang sempurna. Tapi dengan kesabaran, kita belajar mengasihi orang yang sulit dan memberi ruang bagi pertumbuhan rohani mereka.

Kesimpulan

Semua karakter di atas—belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran—bukanlah sifat alami manusia. Tapi semua itu sudah kita terima dari Allah di dalam Kristus. Maka, kita dipanggil bukan hanya untuk menyimpan Injil dalam hati, tapi menghidupi Injil dalam relasi sehari-hari.

Hidup berpadanan dengan Injil bukan berarti hidup tanpa masalah. Tetapi itu berarti, dalam segala keadaan, kita tetap memilih untuk bersikap seperti Kristus. Komunitas Kristen akan menjadi tempat yang hangat, kuat, dan bertumbuh jika setiap anggota menghidupi Injil, bukan hanya menghafalnya.

Jadi, mari kita kenakan Injil bukan sebagai teori, tetapi sebagai gaya hidup. Sebab dunia tidak hanya perlu mendengar Injil—dunia perlu melihat Injil yang hidup dalam diri kita.

Studi Alkitab Mandiri

Bacalah Galatia 2:11-14, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

  1. Apakah inti dari kesalahan Kefas dan Barnabas (ayat 14)? Jelaskan!
  2. Apa yang membuat orang-orang Kristen kadangkala gagal menghidupi Injil (ayat 12)?
  3. Mengapa Paulus perlu menegur mereka secara keras dan di depan umum (ayat 13)?

Ayat Hafalan                        

Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah (Efesus 5:1-2)

Pertanyaan Untuk Diskusi

  1. Di antara lima wujud hidup yang sepadan dengan Injil di atas, mana yang paling sukar Anda lakukan? Mengapa?
  2. Halangan apa saja yang Anda temukan dalam upaya menghidupi Injil?
  3. Bagaimana membiasakan diri untuk memandang dan melakukan segala sesuatu dari perspektif Injil?