Orang yang mati dalam pelanggaran dan dosa (Efesus 2:1-3) telah dihidupkan bersama Kristus (Efesus 2:4-5). Keselamatan bukanlah akhir perjalanan iman, melainkan awal dari suatu kehidupan yang menuntut pertumbuhan rohani. Mereka yang telah dipindahkan dari kegelapan kepada terang harus terus bertumbuh; stagnasi bukanlah pilihan, melainkan pertumbuhan adalah tanda kehidupan rohani yang sejati.
Pertumbuhan Rohani sebagai Keniscayaan
Sebagai orang percaya yang telah ditebus, kita tidak boleh tetap diam dalam iman yang statis. Pertumbuhan rohani adalah bukti bahwa kita hidup dalam Kristus. Jika tidak ada perkembangan, maka iman kita berada dalam kondisi yang tidak sehat. Rasul Petrus mengajarkan bahwa setelah mengalami kelahiran baru, orang percaya harus terus bertumbuh dalam kebenaran.
Sebelum memahami lebih dalam, kita perlu meninjau kembali terjemahan teks ini. Dalam Alkitab Terjemahan Baru (LAI:TB), ayat 1 dan 2 terlihat sejajar sebagai perintah. Namun, dalam teks Yunani, hanya ayat 2 yang berbentuk imperatif, sedangkan ayat 1 merupakan anak kalimat (partisip). Dengan demikian, inti perintah terdapat pada ayat 2a, sedangkan ayat 1 berfungsi sebagai penjelasan.
Dalam ayat 1, Petrus menggunakan kata kerja apothemenoi (partisip aorist), yang berarti “setelah menanggalkan segala kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, dan fitnah.” Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan rohani tidak bisa lepas dari proses meninggalkan kehidupan lama. Orang Kristen di Asia Kecil yang menjadi penerima surat ini adalah petobat baru yang telah ditebus dan disucikan dalam kebenaran (1 Petrus 1:18-25). Namun, perjalanan mereka belum berakhir, karena mereka masih perlu bertumbuh dalam kebenaran.
Cara Bertumbuh: Menginginkan Air Susu yang Murni dan Rohani (1 Petrus 2:2a)
Bagaimana cara orang percaya bertumbuh? Rasul Petrus menjawabnya dalam ayat 2a: “Sama seperti bayi yang baru lahir, inginkanlah air susu yang murni dan rohani.” Kata epipotheō (ingin) dalam bahasa Yunani tidak sekadar menunjukkan keinginan biasa, tetapi keinginan yang sangat besar. Dalam Septuaginta (LXX), kata ini digunakan untuk menggambarkan kerinduan yang mendalam seperti rusa yang merindukan sungai (Mazmur 42:2) atau Daud yang sangat merindukan hadirat Tuhan (Mazmur 84:3). Paulus juga memakai kata ini untuk menggambarkan kerinduannya terhadap jemaat Filipi (Filipi 1:8), dan bahkan Allah sendiri yang sangat menginginkan kita (Yakobus 4:5).
Petrus dengan sengaja memilih metafora bayi yang baru lahir (artigennēta) untuk menekankan ketergantungan penuh pada makanan utama, yaitu susu. Seorang bayi yang baru lahir tidak memiliki pilihan lain selain air susu ibunya. Tanpa ASI, ia tidak akan bisa bertahan hidup. Begitu juga dengan orang percaya yang baru lahir dalam Kristus: mereka harus bergantung penuh pada firman Tuhan untuk pertumbuhan rohani mereka.
Namun, apa yang dimaksud dengan “susu yang murni dan rohani” (to logikon adolon gala)? Beberapa teolog menerjemahkannya sebagai “air susu yang murni dari firman” (seperti dalam KJV/NASB), tetapi ini kurang tepat. Kata logikon lebih sering diartikan sebagai “rohani” atau “masuk akal” (bdk. Roma 12:2). Meski demikian, dalam konteks ini, susu yang dimaksud tetap merujuk pada firman Tuhan sebagai sumber utama pertumbuhan rohani. Sebagaimana firman Tuhan menjadi benih kehidupan baru (1 Petrus 1:23-25), firman yang sama juga menjadi nutrisi untuk pertumbuhan iman kita.
Cara Menumbuhkan Kerinduan Akan Firman Tuhan (1 Petrus 2:2b-3)
Sebagian orang mungkin bertanya, “Bagaimana bisa seseorang diperintahkan untuk menginginkan sesuatu? Bukankah keinginan berasal dari hati secara alami?” Beberapa orang Kristen berpikir bahwa gairah rohani hanyalah sebuah anugerah khusus yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang dipilih Tuhan untuk tugas besar. Namun, pemikiran ini keliru.
Petrus menunjukkan dua cara agar seseorang memiliki kerinduan yang besar terhadap firman Tuhan:
1. Mengetahui Tujuan dari Firman Tuhan (1 Petrus 2:2b)
Firman Tuhan bukan hanya sekadar bahan bacaan rohani, tetapi juga sarana pertumbuhan iman: “supaya olehnya kamu bertumbuh menuju keselamatan.” Dalam teks Yunani, frasa ini lebih tepat diterjemahkan sebagai “supaya di dalamnya kalian ditumbuhkan menuju keselamatan.” Kata kerja pasif “ditumbuhkan” (auxēthēte) menunjukkan bahwa firman Tuhan bukan hanya objek yang dipelajari, tetapi juga subjek yang secara aktif bekerja menumbuhkan iman kita. Ketika kita membaca firman Tuhan, firman itu sendiri juga sedang bekerja dalam hati kita.
Petrus mengajarkan bahwa keselamatan adalah proses yang berlangsung terus-menerus (realized eschatology). Orang percaya telah diselamatkan melalui firman (1:23), sedang dalam proses bertumbuh melalui firman, dan pada akhirnya akan menerima keselamatan yang penuh pada akhir zaman (1:5). Dengan demikian, firman Tuhan harus menjadi pusat kehidupan kita.
2. Mengetahui Alasan Menginginkan Firman Tuhan (1 Petrus 2:3)
Petrus menutup bagian ini dengan alasan mengapa seseorang harus merindukan firman Tuhan: “jikalau kamu benar-benar telah mengecap bahwa Tuhan itu baik.” Kata “mengecap” (geuomai) dalam bahasa Yunani tidak hanya berarti mencicipi, tetapi juga mengalami sepenuhnya, seperti dalam Kisah Para Rasul 20:11. Bahkan kata ini sering digunakan dalam konteks kematian (Matius 16:28; Yohanes 8:52; Ibrani 2:9), yang menunjukkan bahwa “mengecap” bukan hanya sekadar mencoba, tetapi benar-benar mengalami.
Kebaikan Tuhan yang dimaksud tentu merujuk pada karya penebusan Kristus. Jika Tuhan sudah menyerahkan diri-Nya untuk menebus kita (1:18-19), maka Dia pasti akan menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk pertumbuhan rohani kita. Orang yang telah mengalami kasih karunia Tuhan pasti akan merindukan firman-Nya karena ia tahu bahwa dalam firman itulah terdapat kehidupan.
Kesimpulan
Menjadi bayi rohani yang sehat bukan sekadar menerima keselamatan, tetapi juga bertumbuh dalam firman Tuhan. Rasul Petrus mengajarkan bahwa untuk bertumbuh, kita harus memiliki kerinduan yang besar terhadap firman, sebagaimana bayi yang baru lahir membutuhkan susu. Kita harus menyadari bahwa firman Tuhan bukan hanya sarana belajar, tetapi juga kekuatan yang aktif bekerja dalam diri kita. Pertumbuhan rohani tidak terjadi dengan sendirinya; kita harus dengan sadar dan sengaja mengejar firman Tuhan.
Sebagai orang percaya, mari kita terus mengecap kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan semakin haus akan firman-Nya, karena hanya dengan demikian kita dapat bertumbuh menuju keselamatan yang penuh.

