Setiap manusia memiliki nilai yang luar biasa karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Namun, kita juga sadar bahwa dunia—dan hidup kita—tidak lagi seperti yang seharusnya. Dosa telah merusak gambaran itu. Apa yang tadinya indah dan mulia, kini ternoda. Tapi kabar baiknya: Allah tidak berhenti di situ. Ia merancang pemulihan yang luar biasa—dan puncaknya adalah dalam diri Yesus Kristus.
Mari kita renungkan bersama bagaimana gambar Allah dalam diri kita rusak, dipulihkan, dan dimampukan untuk mencerminkan Kristus, gambar Allah yang sejati.
Pertama, gambar Allah dalam diri manusia telah rusak karena dosa.
Kisah kejatuhan manusia dalam Kejadian 3 mengungkap fakta menyakitkan: manusia tergoda untuk menjadi seperti Allah—bukan dalam arti mencerminkan Allah, tapi dalam arti ingin mengambil tempat Allah. Ketika Adam dan Hawa tidak mempercayai rancangan Allah dan memilih jalannya sendiri, dosa masuk dan mencemari seluruh aspek hidup manusia.
Kerusakan itu tidak hanya bersifat spiritual, tapi juga relasional dan ekologis:
- Relasi dengan Allah rusak. Adam dan Hawa menyembunyikan diri karena malu dan takut (Kej. 3:7, 10).
- Relasi dengan sesama rusak. Adam menyalahkan Hawa, dan relasi antara pria dan wanita menjadi penuh ketegangan (Kej. 3:12, 16).
- Relasi dengan alam pun terganggu. Tanah menjadi terkutuk, dan kerja manusia menjadi penuh kesakitan (Kej. 3:17-19).
Namun, walaupun gambar Allah rusak, itu tidak hilang sepenuhnya. Kita tetap diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 5:1-3), dan itulah sebabnya hidup manusia tetap sangat berharga (Kej. 9:6). Tapi potensi dalam diri kita sering disalahgunakan untuk kepentingan diri sendiri, bukan kemuliaan Allah.
Kedua, gambar Allah dipulihkan melalui Yesus Kristus.
Puji Tuhan! Ia tidak menyerah pada ciptaan-Nya yang rusak. Bahkan sebelum kejatuhan terjadi, Allah telah merencanakan pemulihan. Sejak kekekalan, Ia sudah menetapkan bahwa mereka yang dipilih akan menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (Rm. 8:29).
Yesus Kristus adalah gambar Allah yang sempurna (Ibr. 1:3). Ketika kita melihat Yesus, kita melihat Allah (Yoh. 14:9). Ia datang bukan hanya untuk menghapus dosa kita, tapi juga mengembalikan kita kepada rancangan semula—untuk mencerminkan kemuliaan Allah.
Melalui karya penebusan-Nya, Yesus menebus gambar yang telah rusak itu. Ia hidup tanpa dosa, mati untuk dosa kita, dan bangkit untuk memberi kita hidup baru. Dan sekarang, kita dipanggil untuk hidup dalam proses pemulihan itu.
Ketiga, kita dipanggil untuk dipulihkan dan dimampukan menjadi serupa dengan Kristus.
Proses ini disebut pengudusan. Kita tidak langsung menjadi sempurna, tapi kita terus diperbaharui. Dalam Kolose 3:10 dikatakan bahwa kita telah “dipakaikan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”
Bagaimana proses pemulihan ini terjadi?
- Melalui firman Tuhan yang menerangi jalan hidup kita.
- Melalui doa yang menghubungkan kita secara intim dengan Allah.
- Melalui komunitas orang percaya yang menegur, mendorong, dan menopang kita.
- Melalui disiplin rohani, seperti puasa, ibadah, dan pelayanan.
Dan yang terpenting: melalui karya Roh Kudus, kita diubah hari demi hari menjadi serupa dengan Kristus (2Kor. 3:18). Inilah kabar sukacita Injil: Allah tidak hanya mengampuni dosa kita, tapi juga memulihkan kita menjadi seperti gambaran Anak-Nya.
Kesimpulan
Dosa memang telah merusak gambar Allah dalam diri kita. Tapi Allah tidak membiarkan kita terhilang. Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk memulihkan kita. Kini, melalui Kristus, kita sedang diproses untuk kembali seperti rancangan semula—mewakili dan mencerminkan Allah dalam segala aspek hidup kita.
Mari kita responi panggilan ini dengan kerendahan hati dan kesungguhan. Jangan berhenti hanya pada status “sudah ditebus,” tapi teruslah melangkah dalam proses “menjadi serupa dengan Kristus.” Biarlah dunia melihat kemuliaan Allah—melalui hidup kita yang diubahkan.
Studi Alkitab mandiri
Bacalah Filipi 3:4-11, lalu jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
- Apakah tujuan ultimat dari hidup Paulus (ayat 10-11)? Apakah tujuan tersebut sekadar persetujuan intelektual terhadap kematian dan kebangkitan Yesus Kristus? Jelaskan!
- Apakah tujuan hidup seperti ini mempengaruhi cara Paulus menilai segala sesuatu dalam hidupnya (ayat 7-9)? Jelaskan!
- Apa yang dahulu dibanggakan oleh Paulus (ayat 4-6)? Mengapa semua ini sekarang dianggap kerugian dan sampah?
Ayat Hafalan
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Pertanyaan Untuk Diskusi
- Apa yang menjadi godaan atau hambatan terbesar bagi Anda dalam mencerminkan sifatsifat Kristus dalam hidup Anda?
- Apakah Anda sudah memberi diri untuk mengasihi dan melayani dunia seperti yang Kristus lakukan? Jika sudah, apa yang Anda lakukan selama ini? Jika belum, apa yang menjadi kendala bagi Anda?
- Bagaimana Injil (kematian dan kebangkitan Kristus) memampukan Anda untuk kembali mewakili dan mencerminkan Allah di bumi ini?

