Secara intelektual mungkin tidak terlalu sukar untuk mengaminkan keberhargaan Kristus. Dia adalah Allah yang menjadi manusia dan telah memberikan segalanya untuk mendapat orang berdosa. Dia menjadikan diri-Nya sebagai kurban yang sempurna bagi kita yang penuh dosa. Dengan spontan pikiran kita memberikan persetujuan: “Kristus cukup bagi kita”.
Dalam kehidupan kita sehari-hari situasinya ternyata tidak semudah yang ada di pikiran. Keberhargaan dan kecukupan Kristus dalam hidup kita merupakan sebuah konsep yang sukar diterjemahkan, apalagi dipraktekkan. Banyak orang Kristen yang mengaku memiliki Kristus tetapi masih merasa ada yang kurang dengan hidup mereka. Kristus perlu ditambahan sesuatu supaya hidup mereka menjadi genap.
Itulah berhala! Berhala adalah sesuatu di luar Kristus yang kita jadikan sebagai ukuran atau sumber keberhargaan, arti, kepuasan, dan keamanan. Kalau kita menempatkan harga diri kita pada X, maka X telah menjadi berhala kita. Begitu pula jika kita menempatkan arti dan kepuasan hidup pada Y, maka Y menjadi berhala bagi kita. Apakah jiwa kita tenang ketika mendapatkan Z? Jika iya, Z adalah berhala kita.
Persoalan ini tidak boleh diremehkan. Alkitab secara konsisten menempatkan penyembahan berhala sebagai dosa yang sangat serius dan perlu diwaspadai. Kita perlu terus-menerus mengecek hati sambil mengingat nasihat Yohanes: “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala” (1Yoh. 5:21).
Pertama, Sepuluh Perintah Allah dimulai dengan larangan tentang penyembahan berhala (Kel. 20:3-6). Poin ini bahkan disinggung di dua perintah awal. Perintah ke-1 tentang esensi penyembahan berhala (“Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku”), sedangkan perintah ke-2 tentang wujud penyembahan berhala (“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun…jangan sujud menyembah atau beribadah kepadanya”). Jika bahaya penyembahan berhala tidak seserius yang kita kira, Allah tidak mungkin menempatkan larangan terhadapnya di tempat pertama.
Penyembahan berhala merupakan kebalikan dari dua perintah utama dalam Alkitab. Seluruh Perjanjan Lama dapat diringkas menjadi dua poin saja: “Dengar hai Israel, TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” dan “Kasihilah TUHAN Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:4-5). Keesaan Allah tidak memberi ruang bagi penambahan apapun di samping Allah. Begitu pula dengan perintah untuk mengasihi dengan segenap diri kita. Tidak ada yang tersisa untuk yang lain! Bukankah penyembahan berhala seringkali bukan peniadaan Allah, melainkan penambahan sesuatu selain Allah?
Kedua, penyembahan berhala adalah persoalan hati. Bahaya ini tidak sesederhana yang terlihat. Esensi penyembahan berhala bukan patung atau gambar, melainkan hati. Walaupun seseorang tampak mencari dan membutuhkan Allah, hal itu tidak berarti bahwa hatinya bebas dari berhala. Sebagai contoh, beberapa tua-tua Israel mencari TUHAN melalui Yehezkiel, tetapi TUHAN melihat ke dalam hati mereka dan memberikan penilaian: “orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya” (Yeh. 14:1-3).
Apa yang ingin dipenuhi melalui berbagai berhala adalah pergumulan terdalam dalam diri manusia: keberhargaan, arti, kepuasan dan keamanan. Hati manusia sangat mendambakan semua ini. Hati tidak pernah berhenti mencari. Jika Kristus dianggap tidak mampu memenuhi seutuhnya, hati manusia akan mencari sesuatu yang lain sebagai tambahannya. Itulah alasan mengapa manusia sangat rentan terhadap berhala. Tidak sukar untuk mengaminkan perkataan John Calvin: “Hati manusia adalah pabrik berhala”.
Ketiga, manusia selalu memberi makan berhala. Tuhan Yesus pernah berkata: “Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada” (Mat. 6:21). Jika ada sesuatu yang kita anggap paling berharga, kita akan meletakkan hati kita di sana. Hati sebagai pusat kehidupan dan perwakilan seluruh aspek kehidupan. Dengan kata lain, apapun yang kita pikirkan, putuskan, katakan, usahakan, atau lakukan ditujukan ke arah sana. Ada orientasi dan komitmen hati. Sebagai contoh, mereka yang menjadikan perut dan hal-hal sementara sebagai allah pikirannya pasti akan tertuju ke sana (Flp. 3:19).
Memberi makan berhala terjadi ketika seseorang berusaha memertahankan atau menambahkan apa yang dia anggap berharga. Hamba uang akan berusaha melipatgandakan uangnya supaya keberhargaan, keamanan dan arti hidupnya bertambah. Hamba kuasa akan melebarkan kekuatannya sekaligus menambah jumlah orang-orang lemah di sekitarnya. Hamba kenyamanan akan berupaya mati-matian untuk menolak perubahan. Hamba popularitas akan melakukan apapun untuk melebarkan jaringan dan menguatkan pencitraan.
STUDI ALKITAB MANDIRI
Bacalah Lukas 12:15-21, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Dosa apakah yang ditunjukkan oleh orang kaya dalam perumpamaan ini (ayat 15)?
- Berhala apa yang ada di balik dosa tersebut (ayat 16-18)? Buktikan bahwa itu merupakan berhala dalam hatinya (ayat 19)!
- Mengapa tindakan orang kaya tersebut disebut bodoh (ayat 20-21)? Apakah kebodohan ini juga berlaku atas berhala-berhala yang lain? Jelaskan!
AYAT HAFALAN
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23)
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Berdasarkan pengalaman Anda sendiri, bagaimana Anda menyikapi pernyataan Calvin bahwa hati manusia adalah pabrik berhala? Jelaskan!
- Mengapa sukar untuk menjadikan Kristus sebagai satu-satunya (bukan hanya salah satu atau nomor satu) yang berharga dalam hidup kita?
- Apakah berhala dalam hati juga berkaitan dengan semangat zaman (prinsip duniawi) yang populer? Jelaskan!
PROYEK ROHANI
Mulai hari ini sampai pertemuan berikutnya ambillah waktu khusus dalam doa pribadi setiap hari agar Allah mengungkapkan berhala dalam diri kita.

