Misi Dimulai dari Hati Allah yang Mencari (Lukas 15:1-10)

Misi sering muncul dalam percakapan gereja sebagai kegiatan, program, pelayanan keluar, atau pengutusan. Semua bentuk itu penting. Namun, Lukas 15 membawa kita kepada dasar yang lebih dalam. Misi bermula dari hati Allah. Allah mengasihi manusia yang jauh dari-Nya. Karena kasih itu, Allah mencari, menerima, dan memanggil manusia untuk kembali kepada-Nya.

Lukas 15:1-10 memperlihatkan hati tersebut melalui perjumpaan Yesus dengan para pemungut cukai, orang berdosa, orang Farisi, dan ahli Taurat. Yesus kemudian menyampaikan dua perumpamaan tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang. Keduanya menegaskan satu pesan. Allah memberi perhatian kepada manusia yang terhilang. Ia mencari mereka dan bersukacita ketika mereka bertobat.

Karena itu, gereja tidak dapat memahami misi hanya sebagai agenda pelayanan. Gereja perlu memahami hati Allah terlebih dahulu. Ketika kasih Allah membentuk hati jemaat, kepedulian kepada mereka yang masih jauh dari Tuhan akan menjadi bagian dari kehidupan orang percaya.

1. Yesus Menerima Orang Berdosa yang Manusia Jauhi (Lukas 15:1-2)

Lukas memulai bagian ini dengan para pemungut cukai dan orang berdosa yang mendekati Yesus untuk mendengarkan-Nya. Sebaliknya, orang Farisi dan ahli Taurat bersungut karena Yesus menerima dan makan bersama mereka.

Lukas menggunakan kata Yunani hamartōlos untuk “orang berdosa”. Sebutan itu tidak menghilangkan kenyataan dosa mereka. Yesus mengetahui keadaan mereka. Namun, dosa mereka tidak membuat Yesus menutup kesempatan bagi mereka untuk datang dan mendengar kebenaran.

Hal ini menjadi semakin jelas melalui kata prosdechomai, yang dalam ayat 2 muncul dengan pengertian menerima atau menyambut. Yesus tidak hanya membiarkan mereka berada di sekitar-Nya. Ia membuka ruang bagi mereka untuk mendekat. Lukas bahkan menambahkan kata synesthiō, yaitu makan bersama. Tindakan makan bersama menunjukkan bahwa penerimaan Yesus hadir dalam hubungan yang nyata.

Di sinilah kita perlu melihat keseimbangan yang penting. Yesus menerima orang berdosa, tetapi Ia tidak menyetujui dosa. Ia menerima mereka supaya mereka dapat mendengar kebenaran yang membawa kepada pertobatan.

Kita dapat memahami sikap ini melalui tindakan seorang dokter. Dokter menerima pasien yang sakit bukan karena ia menyukai penyakitnya. Ia menerima pasien karena pasien itu membutuhkan pertolongan. Demikian juga, gereja tidak perlu menyetujui dosa untuk mengasihi orang berdosa. Justru mereka membutuhkan kesempatan untuk mendengar Injil.

Perbedaan sikap Yesus dan orang Farisi menjadi sangat jelas. Orang Farisi melihat kategori sosial dan moral. Yesus melihat manusia yang membutuhkan keselamatan. Orang Farisi menjaga jarak. Yesus hadir, menerima, dan membuka jalan bagi mereka untuk mendengar firman Allah.

Pertanyaan bagi gereja bukan hanya, “Apakah kita menolak dosa?” Kita juga perlu bertanya, “Apakah orang yang masih hidup jauh dari Tuhan memiliki ruang untuk datang kepada kita dan mengenal Kristus?”

Penerimaan inilah yang membawa kita kepada bagian berikutnya. Yesus tidak berhenti pada sikap menerima. Ia menjelaskan alasan mengapa orang berdosa begitu berharga melalui gambaran tentang sesuatu yang hilang dan dicari.

2. Allah Mencari yang Terhilang Sampai Ia Menemukannya (Lukas 15:3-6 dan 8-9)

Yesus menceritakan seorang gembala yang memiliki seratus domba. Ketika satu domba hilang, ia pergi mencarinya. Kemudian Yesus menceritakan seorang perempuan yang kehilangan satu dari sepuluh dirham. Ia menyalakan pelita, menyapu rumah, dan mencari dengan teliti.

Untuk menggambarkan yang hilang, Lukas memakai kata yang berasal dari apollymi. Dalam konteks ini, kata tersebut menunjuk kepada sesuatu yang berada dalam keadaan terhilang. Gambaran ini penting. Domba itu tetap memiliki nilai meskipun ia hilang. Justru karena berharga, gembala mencarinya.

Bayangkan seorang anak yang terpisah dari orang tuanya di tempat ramai. Anak itu tidak kehilangan nilainya hanya karena ia tersesat. Orang tuanya justru akan mencarinya dengan sungguh-sungguh karena ia berharga.

Demikian pula, manusia yang jauh dari Allah bukan manusia tanpa nilai. Keadaannya menunjukkan bahwa ia membutuhkan pertolongan dan pemulihan.

Dalam perumpamaan dirham, Lukas memakai ungkapan zētei epimelōs. Secara sederhana, ungkapan ini berarti mencari dengan sungguh-sungguh atau dengan teliti. Perempuan itu tidak hanya berharap uangnya muncul kembali. Ia menyalakan lampu. Ia menyapu rumah. Ia mencari.

Misi juga menuntut tindakan aktif. Gereja tidak cukup berkata, “Semoga orang datang kepada Tuhan.” Gereja perlu bertanya, “Siapa yang perlu kita dekati, doakan, layani, dan ajak mengenal Kristus?”

Lukas juga memakai ungkapan penting, heōs heurē, yang berarti “sampai ia menemukan”. Gembala mencari sampai menemukan dombanya. Perempuan mencari sampai menemukan dirhamnya. Kata “sampai” menekankan ketekunan.

Seorang ibu yang kehilangan anak di tempat ramai tidak akan berhenti mencari hanya karena lima menit telah berlalu. Ia terus mencari karena anak itu berharga baginya.

Begitu juga dalam misi. Ada anggota keluarga yang sudah lama kita doakan. Ada teman yang belum merespons Injil. Ada orang yang pernah terluka oleh pengalaman buruk. Lukas 15 mengajar kita untuk tidak cepat kehilangan kepedulian.

Kita terus berdoa. Kita membangun hubungan. Kita menyampaikan kebenaran dengan kasih. Kita hadir dalam kehidupan mereka. Namun, pencarian bukan tujuan terakhir. Yesus membawa kedua perumpamaan itu kepada satu titik yang lebih dalam, yaitu pertobatan.

3. Pertobatan Satu Orang Membawa Sukacita di Surga (Lukas 15:7 dan 10)

Yesus menjelaskan bahwa ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat. Lukas memakai kata Yunani metanoeō untuk “bertobat”, yang berkaitan dengan metanoia, yaitu perubahan pikiran dan arah hidup. Karena itu, pertobatan bukan sekadar merasa bersalah, sedih, atau menangis karena kesalahan diketahui orang lain. Pertobatan menyentuh cara seseorang memandang dosa, Allah, dan hidupnya, lalu mendorongnya mengambil arah yang baru. Secara sederhana, metanoia dapat dipahami sebagai perubahan batin yang menghasilkan perubahan nyata dalam sikap dan tindakan.

Bayangkan seseorang yang ingin menuju Jakarta, tetapi setelah beberapa waktu ia menyadari bahwa ia justru mengambil jalan ke arah Bandung. Mengetahui bahwa ia salah jalan belum cukup jauh. Ia harus berbalik dan mengambil arah yang benar. Demikian juga, kesadaran akan dosa belum dapat disebut pertobatan jika seseorang tidak sungguh-sungguh berbalik kepada Allah. Pertobatan sejati tidak berhenti pada penyesalan, tetapi menghasilkan keputusan untuk meninggalkan arah hidup yang salah dan kembali berjalan sesuai kehendak Tuhan.

Karena itu, penerimaan Yesus tidak bertujuan membiarkan manusia tetap dalam dosa. Kasih Allah menerima manusia sekaligus memanggilnya kembali.

Kemudian Lukas memakai kata chara, yang berarti sukacita. Yang menarik, Yesus berbicara tentang sukacita karena satu orang bertobat. Ini menunjukkan perhatian Allah kepada setiap pribadi.

Bayangkan keluarga dengan lima anak. Empat sudah pulang, tetapi satu belum kembali. Orang tua tidak berkata, “Empat dari lima sudah cukup.” Perhatian mereka tetap tertuju kepada satu anak yang belum pulang. Demikian juga, gereja tidak boleh membiarkan angka pelayanan membuat kita kehilangan perhatian kepada pribadi. Satu orang yang bertobat berharga. Satu anak muda yang kembali kepada Tuhan berharga. Satu keluarga yang mulai mengenal Kristus berharga.

Gembala dan perempuan dalam perumpamaan bahkan mengajak orang lain, syncharēte moi, “bersukacitalah bersama aku”. Gereja juga perlu memiliki sukacita seperti itu. Ketika seseorang bertobat, gereja tidak perlu terus mengikatnya kepada masa lalunya. Gereja perlu menyambut, mendampingi, dan menolongnya bertumbuh.

Hati Allah Menjadi Hati Kita

Lukas 15:1-10 memperlihatkan alur yang sangat jelas. Yesus menerima orang berdosa. Allah mencari yang terhilang dengan sungguh-sungguh. Yang ditemukan dipanggil kepada pertobatan. Ketika seorang berdosa kembali, surga bersukacita.

Karena itu, misi bermula ketika hati Allah membentuk hati kita. Kita menerima supaya orang dapat mendengar kebenaran. Kita mencari karena mereka berharga. Kita mengarahkan mereka kepada pertobatan karena kasih tidak membiarkan manusia terus menjauh dari Allah. Kita bersukacita ketika mereka kembali.

Pertanyaan akhirnya sangat pribadi: Siapa yang sedang kita cari?

Mungkin ia anggota keluarga, teman kerja, tetangga, atau seseorang yang telah lama menjauh dari Tuhan. Jangan hanya melihatnya sebagai orang yang bermasalah. Lihatlah dia sebagai pribadi yang Allah kasihi.

Misi dimulai dari hati Allah yang mencari. Gereja mengambil bagian dalam misi itu ketika kita memiliki hati yang menerima, mencari dengan tekun, mengarahkan kepada pertobatan, dan bersukacita ketika satu orang kembali kepada Tuhan.