PEDULI SESUAI PORSI

Tidak ada pelayan yang benar-benar mencintai Tuhan tanpa juga mencintai gereja-Nya. Pelayan sejati pasti punya kerinduan agar gereja lokal tempatnya bertumbuh juga mengalami pertumbuhan yang sehat. Ia ingin jemaat diberkati, pemimpin bertumbuh, dan pelayanan makin berdampak. Namun sayangnya, realita sering jauh dari ekspektasi. Segala daya sudah dikerahkan, tetapi hasilnya seolah stagnan. Kadang bukan hanya kurang dukungan, tapi justru menghadapi tantangan dari dalam gereja sendiri.

Situasi ini memunculkan rasa frustasi. Kita kecewa karena merasa sudah “membayar harga” dengan waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan—tetapi gereja seperti tak berubah. Lebih menyakitkan lagi jika pelayanan kita tidak dihargai, bahkan dipersalahkan. Pelan-pelan, kita mulai bertanya dalam hati: “Masih pantaskah saya peduli? Untuk apa saya melayani kalau tidak ada hasilnya?”

Dalam momen seperti itu, sangat penting untuk mengingat satu kebenaran yang menyejukkan jiwa: Kristus lebih peduli kepada gereja-Nya daripada kita. Ia tidak pernah tidur atau lengah. Ketika gereja mengalami kesulitan, Yesus sendiri yang merasakannya.

Lihatlah bagaimana Ia berseru kepada Saulus yang mengejar orang percaya: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4). Perhatikan, Ia tidak berkata “mengapa engkau menganiaya gereja-Ku,” melainkan “Aku.” Ini menunjukkan kedekatan dan identifikasi Yesus dengan gereja-Nya. Ia menyatu dengan tubuh-Nya, dan rasa sakit gereja adalah rasa sakit-Nya juga.

Maka, kita tidak harus merasa seolah-olah seluruh beban gereja harus dipikul sendiri. Kita bukan juruselamat gereja. Kita hanyalah hamba yang melayani bagian kita. Biarlah Tuhan yang menjadi penanggung utama. Berikut ini adalah beberapa alasan alkitabiah yang meneguhkan iman kita akan kepedulian Kristus yang aktif terhadap gereja-Nya.

Pertama, Kristus adalah Kepala Gereja.

Dalam Kolose 1:18 dikatakan, “Ia adalah kepala tubuh, yaitu jemaat.” Sebagai Kepala, Kristus tidak hanya memimpin, tetapi juga memelihara dan mengarahkan pertumbuhan tubuh-Nya. Dalam Efesus 4:16, kita diberitahu bahwa dari Dialah seluruh tubuh menerima pertumbuhan, saling memperkuat melalui setiap bagiannya. Kristus bukan kepala simbolik, melainkan Kepala yang hidup dan aktif bekerja dalam seluruh proses pertumbuhan jemaat-Nya.

Kita hanya satu bagian kecil dalam tubuh yang besar. Tugas kita adalah setia menjalankan fungsi kita, bukan memikul tanggung jawab semua bagian.

Kedua, Kristus membeli jemaat dengan darah-Nya sendiri.

Pelayanan kita kadang terasa sia-sia ketika kita lupa siapa pemilik gereja. Jemaat bukan milik gembala, bukan milik para penatua, dan bukan pula milik kita. Jemaat adalah milik Allah, yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri (Kis. 20:28). Jika Tuhan rela mengorbankan nyawa-Nya demi mendapatkan gereja, mungkinkah Ia akan membiarkannya terbengkalai?

Pemahaman ini membebaskan hati kita dari perasaan harus menjadi penyelamat. Kita melayani bukan karena kita pemilik gereja, tapi karena kita dipercayakan oleh Sang Pemilik yang sejati.

Ketiga, Kristus selalu mengawasi gereja-Nya.

Kitab Wahyu pasal 2 dan 3 menunjukkan betapa aktifnya Kristus dalam mengamati dan membimbing gereja-Nya. Setiap surat kepada tujuh jemaat diawali dengan kalimat: “Aku tahu…” (Why. 2:2, 9, 13, 19; 3:1, 8, 15). Ia tahu apa yang dilakukan oleh setiap jemaat, bahkan hal-hal tersembunyi. Tidak ada yang luput dari pandangan-Nya. Ia memberikan teguran, pujian, dan arahan yang sesuai.

Artinya, meskipun kita merasa pelayanan kita tak dilihat oleh manusia, Tuhan melihat. Ia tahu siapa yang setia, siapa yang tulus, dan siapa yang letih. Kristus berjalan di tengah kaki dian—Ia hadir, Ia dekat, Ia peduli.

Kesimpulan

Kita memang dipanggil untuk peduli terhadap gereja, tetapi kepedulian itu harus sesuai porsi. Kita bukan Juruselamat. Kita hanyalah pelayan yang dipercayakan untuk bekerja sama dengan Kristus, Sang Kepala Gereja.

Kita peduli karena kita mengasihi, bukan karena kita bisa mengubah segalanya. Kita setia karena kita percaya, bukan karena kita selalu berhasil. Ketika pelayanan terasa berat dan tidak ada hasil nyata, ingatlah: Yesus lebih peduli daripada kita, dan Dialah yang akan menyempurnakan pekerjaan-Nya.

Dengan menyerahkan hasil pelayanan ke tangan Kristus, kita tetap bisa melayani dengan sukacita, tanpa harus memikul beban berlebih. Karena yang terpenting bukan seberapa besar kita mengubah gereja, tapi seberapa besar kita taat dan percaya pada Kristus yang membangunnya.

Studi Alkitab Mandiri

Bacalah Kisah Para Rasul 6:1-7, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

  1. Persoalan apa yang sedang menimpa jemaat mula-mula (ayat 1)? Seserius apa persoalan ini dari kacamata kultural pada waktu itu?
  2. Apa dampak dari persoalan ini bagi pelayanan para rasul (ayat 2)?
  3. Apa solusi yang ditemukan (ayat 3-6)?
  4. Bagaimana hasil akhir dari kemelut ini (ayat 7)?

Ayat Hafalan 

Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing (Roma 12:3b)

Pertanyaan Untuk Diskusi

  1. Antara 0 – 100, seberapa besar kepedulian Anda terhadap gereja lokal di mana Anda bertumbuh di dalamnya? Jelaskan!
  2. Pernahkah Anda berpikir (atau bahkan sudah melakukan) untuk meninggalkan pelayanan karena kekecewaan terhadap gereja? Mengapa?
  3. Ceritakanlah sebuah contoh persoalan yang pernah muncul di gereja Anda, tetapi justru akhirnya mendatangkan kemajuan bagi gereja!