Kasih yang sejati tidak selalu berkata “ya” pada setiap keinginan, tetapi berani membentuk hati agar kuat menghadapi penundaan, batasan, dan kekecewaan. Ketika keluarga belajar menundukkan kehendak pribadi di bawah kasih Tuhan, anak-anak tidak hanya bertumbuh bahagia, tetapi juga matang, tangguh, dan siap menjalani hidup dengan penguasaan diri.
PENDAHULUAN
Mari kita bayangkan sebuah situasi yang mungkin sering kita saksikan, atau bahkan kita alami sendiri sebagai orang tua. Di sebuah toko swalayan, seorang anak kecil bernama Agus yang baru berumur dua tahun melihat deretan cokelat yang menggiurkan. Ia mulai merengek kepada ibunya agar dibelikan. Sang ibu menolak dengan alasan klasik, “Mama tidak punya uang.” Mendengar itu, Agus mulai menangis. Karena panik, ibunya menghardik, “Tidak boleh makan banyak cokelat, nanti papa marah!”
Alih-alih mereda, tangisan Agus justru semakin keras hingga meronta-ronta. Orang-orang di sekitar mulai menoleh. Dikuasai rasa malu dan pusing mendengar jeritan anaknya, sang ibu akhirnya menyerah. Terpaksalah ia membeli cokelat itu sambil memberikan syarat yang sia-sia, “Makannya tidak boleh sekarang. Nanti di rumah, bersama dengan kakak.” Agus terdiam dan merasa menang. Namun, begitu masuk ke dalam mobil, ia langsung menggigit cokelat itu. Ketika ibunya menegur, tangisan dan amukan kembali menjadi senjata. Pada akhirnya, sang ibu sepenuhnya menyerah, “Yah sudahlah, makanlah!” Sambil membatin bahwa ia tidak akan mengajak anaknya berbelanja lagi.
Dari ilustrasi di atas, kita dapat melihat serangkaian kesalahan pola asuh yang tanpa sadar sering terjadi. Pertama, memberikan contoh berbohong (“tidak punya uang”). Kedua, memberikan motivasi yang keliru dengan menjadikan ayah sebagai ancaman, bukan menjelaskan konsekuensi logis (seperti merusak gigi). Ketiga, ibu meminjam otoritas (“beking”) karena merasa tidak sanggup mendidik sendiri. Keempat, menumbuhkan citra ayah yang keliru sebagai sekadar “tukang menghukum”. Kelima, tunduk pada senjata tangisan manipulatif. Dan keenam, menghindari akar masalah alih-alih menyelesaikannya. Insiden kecil ini, jika dibiarkan menjadi kebiasaan, akan membentuk anak yang tumbuh dengan pemahaman bahwa tangisan, kemarahan, dan pemaksaan kehendak adalah cara yang sah untuk mendapatkan apa pun yang ia mau.
DASAR ALKITAB
Dalam Alkitab, kita diajarkan bahwa Bapa di surga adalah teladan orang tua yang sempurna. Sejarah keselamatan umat Israel menunjukkan bahwa Allah tidak pernah memperkenankan umat-Nya merengek dan memaksakan keinginan mereka. Alkitab mencatat banyak doa orang saleh yang tidak terkabul, justru karena Allah memiliki rancangan yang jauh lebih baik dan ingin membentuk karakter mereka.
Sebagai contoh, Rasul Paulus mengalami penderitaan luar biasa yang ia sebut sebagai “suatu duri dalam dagingku”. Secara manusiawi, ia sangat ingin terlepas dari penderitaan itu. Namun, keinginannya tidak dikabulkan. Paulus menulis: “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan … Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.'” (2 Korintus 12:7-9, LAI TB).
Puncak dari penundukan diri dan pengendalian keinginan ditunjukkan oleh Tuhan Yesus sendiri ketika Ia berdoa di Taman Getsemani. Dalam pergumulan yang sangat berat, Ia tidak memaksakan kehendak-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39, LAI TB).
Di hadapan Tuhan, tidak semua keinginan kita harus terkabul. Tidak patut kita merengek dan memaksakan kehendak kita kepada Sang Pencipta. Justru karena Tuhan sangat mencintai kita, Ia tidak mau mengabulkan semua permintaan kita agar kita tidak menjadi anak-anak rohani yang manja. Tuhan memberi kita kesempatan untuk menghadapi dan mengatasi frustrasi, karena melalui proses itulah kita belajar mengendalikan keinginan diri yang memang tidak pernah mudah.
APA YANG TERJADI SEKARANG
Banyak suami istri masa kini keliru memahami kasih sayang kepada anak. Kasih sering dipahami sebagai kesediaan untuk memenuhi semua keinginan anak agar anak tidak menangis, tidak kecewa, atau tidak merasa kurang dibandingkan orang lain. Dalam kehidupan keluarga modern, orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Namun, tanpa disadari, keinginan untuk memberi yang terbaik kadang berubah menjadi kebiasaan mengabulkan hampir semua permintaan anak, sekalipun hal itu belum tentu baik bagi pembentukan karakternya.
Kesibukan dan rasa bersalah sering memengaruhi cara orang tua mengambil keputusan. Banyak ayah dan ibu menjalani hari dengan tekanan pekerjaan, keterbatasan waktu, dan kelelahan emosional. Ketika waktu bersama anak terasa sedikit, sebagian orang tua merasa terdorong untuk menggantinya dengan memenuhi permintaan anak. Akibatnya, keputusan untuk mengabulkan keinginan anak tidak selalu didasarkan pada kebutuhan yang tepat, tetapi lebih karena ingin menenangkan suasana, menghindari konflik, atau menebus rasa bersalah karena kurang memiliki waktu bersama keluarga.
Rasa tidak tega membuat orang tua mudah menyerah ketika anak menangis atau marah. Dalam banyak situasi, tangisan, rengekan, atau kemarahan anak menjadi tekanan emosional yang berat bagi orang tua, terutama ketika terjadi di tempat umum, di tengah keluarga besar, atau pada saat orang tua sedang lelah. Karena ingin suasana segera tenang, orang tua akhirnya mengalah. Jika pola ini sering terjadi, anak dapat menangkap pesan bahwa menangis, merajuk, atau memaksa adalah cara yang efektif untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ketidakkonsistenan ayah dan ibu membuat anak belajar mencari celah. Dalam kehidupan sehari-hari, sering terjadi salah satu orang tua sudah melarang, tetapi yang lain justru mengizinkan. Ada kalanya ayah berusaha tegas, sementara ibu merasa kasihan; atau sebaliknya. Keadaan ini membuat anak memahami siapa yang lebih mudah dibujuk, siapa yang lebih cepat menyerah, dan kepada siapa ia harus meminta ketika keinginannya tidak dikabulkan. Akhirnya, keputusan keluarga dapat bergeser dari nilai dan aturan yang benar menjadi reaksi terhadap kemauan anak.
Anak yang selalu dituruti cenderung kurang terlatih menerima batasan dan mengendalikan diri. Ketika anak terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan, ia dapat bertumbuh dengan pemahaman bahwa keinginannya harus selalu didahulukan. Penolakan kecil dapat dianggap sebagai ketidakadilan, batasan sederhana dapat memicu kemarahan, dan nasihat orang tua dapat dipandang sebagai gangguan. Dalam budaya masa kini yang serba cepat, instan, dan penuh pilihan, kebiasaan selalu menuruti keinginan anak dapat membuatnya semakin sulit menunggu, sulit mengalah, sulit menghadapi kekecewaan, dan sulit mengendalikan diri.
APA YANG HARUS DILAKUKAN?
Pertama, suami istri perlu membangun kesepakatan yang kuat dalam mendidik anak. Pembentukan karakter anak membutuhkan kerja sama yang solid antara ayah dan ibu. Karena itu, suami istri perlu satu suara dalam menetapkan aturan, batasan, dan konsekuensi. Jangan sampai anak melihat adanya perbedaan sikap yang membuatnya dapat mencari celah, misalnya ayah melarang tetapi ibu mengizinkan, atau sebaliknya. Ketika ayah dan ibu kompak, anak akan lebih mudah memahami bahwa aturan di rumah bukan keputusan sepihak, melainkan bagian dari kasih dan tanggung jawab orang tua.
Kedua, ayah dan ibu perlu hadir sebagai figur yang penuh kasih sekaligus tegas. Dalam keluarga, sebaiknya tidak ada pola “polisi baik” dan “polisi jahat”. Ayah tidak perlu dijadikan alat untuk menakut-nakuti anak, seolah-olah ayah hanya berperan sebagai penghukum. Ibu juga tidak boleh dipandang sebagai pihak yang selalu mengalah. Keduanya perlu memiliki wibawa yang sama dalam mendidik, sehingga anak melihat bahwa ketegasan orang tua bukan berasal dari kemarahan, tetapi dari kasih yang ingin membentuk hidupnya.
Ketiga, orang tua perlu berkata benar dan memberi alasan yang jelas kepada anak. Kebohongan kecil dalam pengasuhan sebaiknya dihindari, karena anak juga belajar dari cara orang tua berbicara. Jika anak tidak boleh makan cokelat terlalu banyak, orang tua dapat menjelaskan alasannya secara sederhana, misalnya karena tidak baik bagi kesehatan gigi dan tubuh. Dengan demikian, anak belajar bahwa larangan bukan dibuat untuk menyusahkan dirinya, melainkan karena ada alasan yang benar dan konsekuensi yang perlu dipahami.
Keempat, anak perlu dilatih menunggu dan menerima bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Momen sehari-hari dapat menjadi sarana sederhana untuk melatih kesabaran anak. Misalnya, ketika makanan sudah siap, anak diajak menunggu sampai anggota keluarga lain berkumpul sebelum makan bersama. Ketika anak menginginkan sesuatu, orang tua dapat membantunya memahami bahwa ada waktu, aturan, dan pertimbangan yang perlu dihormati. Latihan seperti ini menolong anak belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan secara instan sesuai keinginannya.
Kelima, orang tua perlu bijak membedakan tangisan karena kebutuhan dan tangisan karena pemaksaan kehendak. Jika anak menangis karena sakit, lapar, takut, atau membutuhkan pertolongan, orang tua perlu segera hadir, memeluk, dan menolongnya. Namun, jika anak menangis, meronta, atau tantrum hanya untuk memaksakan keinginan, orang tua perlu tetap tenang dan tidak langsung menyerah. Anak perlu belajar bahwa tangisan bukan alat untuk mengendalikan keputusan orang tua, dan kasih sayang tidak selalu berarti mengabulkan semua permintaannya.
RANGKUMAN
Dalam keluarga masa kini, banyak suami istri keliru memahami kasih sayang dengan menuruti hampir semua keinginan anak. Kesibukan, rasa bersalah, dan rasa tidak tega sering membuat orang tua mudah mengalah saat anak menangis, merajuk, atau marah. Jika dibiarkan, anak belajar bahwa memaksa adalah cara memperoleh keinginannya, apalagi ketika ayah dan ibu tidak konsisten. Karena itu, orang tua perlu satu suara dalam menetapkan batasan, bersikap penuh kasih namun tegas, berkata benar dengan alasan jelas, serta melatih anak menunggu. Melalui pengasuhan yang konsisten, anak belajar menerima kekecewaan, menghormati aturan, dan mengendalikan diri, sehingga ia tumbuh lebih tangguh dalam kehidupan keluarga dan sosial.
PERTANYAAN
- Pernahkah Anda dan pasangan berbeda pendapat atau tidak konsisten saat menghadapi anak yang memaksakan keinginannya? Bagaimana kalian menyelesaikannya?
- Dalam hal apa Anda merasa masih kesulitan untuk menahan diri dari godaan mengabulkan semua permintaan anak “demi kasih sayang”?
- Langkah konkret apa yang akan Anda dan pasangan sepakati hari ini untuk melatih anak-anak (atau diri sendiri) dalam mengelola rasa frustrasi ketika keinginan tidak segera terwujud?

