UNTUK INJIL

Memiliki komunitas Kristen yang sehat adalah anugerah besar. Tempat di mana kita diterima tanpa syarat, didoakan dalam kasih, dan dibentuk dalam kebenaran adalah tempat yang seharusnya kita syukuri setiap hari. Namun, komunitas Kristen tidak boleh menjadi tempat berlindung yang terlalu nyaman hingga kita lupa pada dunia yang terluka di luar sana.

Terlalu sering gereja hanya menjadi “tempat berkumpul”, bukan “pusat pengutusan”. Kita fokus membangun hubungan yang erat ke dalam, tetapi gagal menjangkau ke luar. Padahal, komunitas yang dihidupkan oleh Injil seharusnya juga hidup untuk Injil. Kita bukan hanya dipanggil untuk mengalami kuasa Injil, tetapi juga membawa kabar Injil itu kepada dunia.

Mengapa banyak gereja berhenti sampai pada titik “merasa nyaman”? Karena mereka lupa satu hal penting: Injil bukan hanya kabar baik untuk kita nikmati, tetapi misi mulia untuk kita bagikan. Rasul Paulus tidak pernah melihat pemberitaan Injil sebagai opsi tambahan. Ia melihatnya sebagai keharusan yang mendesak.

Untuk menghidupi misi Injil secara utuh, kita perlu merenungkan dua hal mendasar yang akan menjaga semangat dan motivasi kita tetap murni dan menyala.

Pertama, sadari keluarbiasaan Injil.

Injil bukan berita biasa. Ini kabar terbaik yang pernah ada. Injil adalah “kabar baik dari Allah yang mulia dan maha bahagia” (1 Timotius 1:11). Lewat Injil, kita tahu bahwa Allah tidak menghukum kita sesuai dengan pelanggaran kita, tetapi menawarkan pengampunan melalui salib Kristus. Masalah terbesar manusia—dosa—telah ditanggung oleh Sang Juruselamat. Takut terbesar manusia—kematian—sudah dikalahkan oleh kebangkitan-Nya.

Inilah sebabnya para rasul berkata, “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kisah Para Rasul 4:20). Rasa kagum terhadap kasih karunia Allah inilah yang mengalahkan rasa takut mereka terhadap penganiayaan.

Sayangnya, banyak orang Kristen hidup seolah-olah keselamatan adalah hal yang biasa saja. Injil hanya menjadi bagian dari liturgi, bukan bagian dari kehidupan. Ketika kekaguman akan Injil pudar, semangat untuk membagikannya juga akan mati.

Kita perlu mengingat kembali bahwa anugerah yang kita terima adalah sesuatu yang luar biasa. Sebagaimana Michael Horton menulis dalam bukunya: Putting Amazing Back into Grace—kita perlu kembali mengagumi kasih karunia Allah. Atau seperti yang ditulis Charles Wesley dalam himne lamanya, “Kasih Agung! Bagaimana bisa? Engkau, Allahku, mau mati bagiku.” Ketika hati kita kembali dikobarkan oleh kagum akan Injil, mulut kita pun tidak akan bisa diam membagikannya.

Kedua, sadari bahwa kita berhutang.

Memberitakan Injil bukan sekadar pilihan bagi yang sempat atau berbakat. Ini adalah mandat dari Tuhan Yesus sendiri: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…” (Matius 28:19). Ini bukan hanya tugas para pendeta atau misionaris, tetapi seluruh jemaat Tuhan.

Rasul Paulus menyadari hal ini dengan sangat dalam. Ia berkata, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Korintus 9:16). Dan lebih lanjut ia menulis, “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar” (Roma 1:14).

Paulus melihat dirinya sebagai orang yang telah menerima kasih karunia yang begitu besar dan karena itu merasa berhutang kepada dunia untuk membagikannya. Ia sadar bahwa diam berarti lalai. Ia tahu bahwa Injil adalah kebutuhan mendesak setiap orang, dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya.

Kita pun demikian. Jika kita telah menerima kehidupan baru di dalam Kristus, maka kita tidak boleh menyimpannya sendiri. Kita berhutang kepada dunia untuk membagikan kabar baik itu. Dunia ini sedang sekarat—dan Injil adalah satu-satunya obatnya.

Kesimpulan

Untuk menjadi komunitas yang sehat dan dewasa, kita harus bergerak dari hanya menikmati Injil menjadi menghidupi dan membagikannya. Dua hal harus terus kita jaga: kekaguman yang dalam terhadap Injil dan kesadaran akan panggilan misi. Tanpa kekaguman, pelayanan menjadi beban. Tanpa panggilan, kekaguman tidak menjadi tindakan.

Komunitas Kristen yang sejati bukan hanya tempat yang nyaman bagi orang percaya, tapi pusat misi yang dinamis bagi dunia. Kita dihidupkan oleh Injil agar hidup untuk Injil. Maka, marilah kita berkata bersama Paulus, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”

tudi Alkitab Mandiri

Bacalah Yesaya 6:1-8, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

  1. Apakah hubungan antara misi dan kekudusan serta kemuliaan TUHAN (ayat 3)? 
  2. Mengapa Yesaya memerlukan perjumpaan pribadi dengan TUHAN yang kudus (ayat 5-
    1. 7)?
  3. Apakah kesediaan Yesaya merupakan keterpaksaan (ayat 8)? Mengapa dia bersedia untuk diutus? 

Ayat Hafalan 

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)

Pertanyaan Untuk Diskusi

  1. Dalam sebulan terakhir, berapa banyak orang-orang non-Kristen yang mendengarkan Injil dari Anda? Apakah angka tersebut wajar? Mengapa?
  2. Mengapa keluarbiasaan Injil seringkali terlupakan begitu saja oleh banyak orang Kristen?
  3. Bagaimana kita bisa melihat Injil sebagai kewajiban tetapi bukan keterpaksaan?