Dalam perjalanan untuk memahami kehendak Allah, kita telah belajar bahwa doa pribadi adalah langkah penting. Namun, Allah tidak hanya menjawab melalui bisikan dalam doa atau pengalaman rohani saja. Ia juga memberikan kita alat yang luar biasa untuk dipakai dalam proses pencarian kehendak-Nya: akal budi. Bukan sekadar logika manusia, melainkan pikiran yang diperbarui oleh Roh dan Firman-Nya.
Rasul Paulus menuliskan dalam Roma 12:2: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Ayat ini mengandung prinsip penting yang perlu direnungkan dalam setiap keputusan hidup kita. Dalam proses mencari panggilan atau arah hidup yang sesuai kehendak Tuhan, akal budi yang diperbarui menjadi salah satu alat utama yang harus kita miliki.
Pertama, akal budi yang diperbarui adalah hasil karya Allah dalam diri kita. Kata “berubahlah” dalam Roma 12:2 menggunakan bentuk pasif, yang secara harfiah berarti “diubahkanlah.” Ini menyiratkan bahwa proses perubahan itu bukan semata-mata hasil upaya manusia, melainkan karya Roh Kudus dalam hati dan pikiran orang percaya. Tuhanlah yang bekerja dalam kita untuk membentuk pola pikir yang baru, yang sejalan dengan kehendak-Nya.
Namun, karya pembaruan itu tidak terjadi secara otomatis. Tuhan bekerja melalui firman-Nya—seperti pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Mazmur 119:105). Kedekatan dengan Allah bukan sekadar pengalaman rohani yang emosional atau mistis. Justru, transformasi yang sejati dimulai saat kita memberi ruang bagi firman Allah untuk mengubah cara kita berpikir, menilai, dan memutuskan sesuatu. Segala ambisi dan cita-cita kita perlu ditimbang di hadapan firman. Jika ada impian kita yang bertentangan dengan prinsip Alkitab, itu tanda bahwa kita belum hidup dengan akal budi yang diperbarui.
Kedua, akal budi yang diperbarui akan membentengi kita dari pengaruh dunia. Paulus dengan tegas menulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini…” Dunia memiliki pola pikir yang sangat berbeda dengan cara Tuhan bekerja. Dunia mengajarkan bahwa kesuksesan adalah tentang pencapaian materi, ketenaran, dan kenyamanan. Tapi dalam kerajaan Allah, nilai-nilainya jauh lebih dalam dan kekal. Paulus menulis, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma 14:17).
Orang Kristen yang pikirannya diperbarui tidak mudah terjebak dalam nilai-nilai semu dunia. Ia melihat hidup dalam perspektif kekekalan. Ia tidak terbuai oleh hal-hal sementara, karena tahu bahwa yang sungguh bernilai adalah yang bertahan hingga kekal. Itulah mengapa pembaruan akal budi bukan hanya membantu kita menolak dunia, tetapi juga memberi kita cara berpikir baru—berorientasi pada Kristus, bukan pada kenyamanan.
Ketiga, akal budi yang diperbarui akan membuat kita mampu membedakan kehendak Allah. Tujuan utama dari transformasi pikiran ini adalah agar kita mampu “menguji” dan mengenali mana yang menjadi kehendak Tuhan: yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Ini bukan hanya soal memilih antara yang benar dan yang salah, tetapi memilih yang paling tepat di antara pilihan-pilihan yang kelihatannya sama baik.
Di sinilah letak pentingnya berpikir kritis dalam terang firman. Kita sering kali menganggap bahwa yang terlihat baik pasti kehendak Tuhan. Tapi belum tentu. Oleh karena itu, Alkitab mengingatkan kita untuk menguji segala sesuatu (Efesus 5:10; 1 Tesalonika 5:21). Bahkan ketika seseorang berkata “Roh Tuhan berbicara”, kita tetap harus mengujinya (1 Yohanes 4:1). Tuhan memang berbicara melalui Roh-Nya, tetapi Ia tidak pernah bertentangan dengan firman-Nya.
Sayangnya, dalam sebagian praktik gereja masa kini, kita melihat kecenderungan yang berbahaya: terlalu menekankan perasaan dan pengalaman rohani tanpa keseimbangan dari pemahaman firman. Ada yang merasa cukup berkata “amin” dan percaya, tanpa pernah memproses secara mendalam apakah itu sesuai dengan kehendak Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Ini bukan iman yang sehat, tetapi iman yang rapuh.
Kesimpulan:
Akal budi kristiani adalah alat yang Tuhan pakai untuk membimbing kita ke dalam kehendak-Nya. Pikiran yang diperbarui oleh firman dan dipenuhi oleh Roh Kudus akan mampu mengenali mana jalan yang dikehendaki Allah, bukan hanya dalam hal besar, tetapi juga dalam keputusan sehari-hari. Kita dipanggil untuk tidak hanya menjadi orang yang rohani, tetapi juga bijak—tidak hanya berdoa, tetapi juga berpikir. Karena dalam kombinasi itulah, kehendak Tuhan dinyatakan dan dijalani dengan penuh sukacita.
Studi Alkitab mandiri
Bacalah Kisah Para Rasul 22:1-21, lalu jawablah beberapa pertanyaan berikut ini.
- Apakah pertobatan Paulus yang tampaknya terjadi secara tiba-tiba (ayat 6-8) sebenarnya sudah direncanakan oleh Allah (ayat 14-15)?
- Apakah Paulus juga memiliki kapasitas untuk memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi (ayat 2-3)? Jelaskan!
- Bagaimana Allah menunjukkan kepada Paulus bahwa dia diutus terutama bukan untuk orang-orang Yahudi (ayat 17-21)? Jelaskan!
Ayat Hafalan
Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kolose 3:1-2)
Pertanyaan Untuk Diskusi
- Seberapa jauh Anda sudah menggumulkan tujuan hidup Anda yang spesifik?
- Apakah yang selama ini Anda kejar dalam hidup? Apakah hal itu berbeda dengan yang dikejar oleh dunia?
- Dari 0 -100, seberapa besar kepuasan Anda terhadap hidup? Mengapa?